Sukses

Sektor Tambang Merah, Saham BUMI Justru Naik 15 Persen

Liputan6.com, Jakarta - Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih lanjutkan penguatan pada perdagangan saham sesi kedua, Senin (18/1/2021). Awali pekan ini, saham BUMI bahkan catatkan top gainers atau naik signifikan.

Mengutip data RTI, pada pukul 14.08 WIB, saham BUMI menguat 15 persen ke posisi Rp 138 per saham. Saham BUMI dibuka stagnan ke posisi Rp 120 per saham.

Saham BUMI sempat berada di level tertinggi 156 dan terendah 116. Total frekuensi perdagangan 65.717 kali dengan nilai transaksi Rp 705,6 miliar.

Sementara itu, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  naik 11,22 poin atau 0,18 persen ke posisi 6.384. Indeks saham LQ45 justru melemah 0,15 persen ke posisi 666,62. Sebanyak 300 saham melemah sehingga menahan penguatan IHSG. 194 saham menguat dan 150 saham diam di tempat. Total volume perdagangan Rp 18,4 triliun.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menguat kecuali sektor saham tambang dan pertanian melemah masing-masing 2,23 persen dan 2,4 persen. Sementara itu, sektor saham aneka industri naik 0,89 persen, sektor barang konsumsi menguat 0,81 persen dan sektor saham perdagangan menanjak 0,62 persen.

 

 

2 dari 3 halaman

Penutupan IHSG pada Sesi I 18 Januari 2021

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat bergerak di zona merah hingga akhirnya berbalik ke zona hijau pada penutupan sesi pertama perdagangan saham, Senin, 18 Januari 2021.

 Rilis data ekonomi China pada kuartal IV 2021 menjadi 6,5 persen di atas konsensus pasar menjadi sentimen positif untuk IHSG.

Mengutip data RTI,  IHSG menguat 0,54 persen atau 34,30 poin ke posisi 6.407,71 pada penutupan sesi pertama perdagangan saham. Indeks saham LQ45 menguat 0,82 persen ke posisi 996,88. Seluruh indeks saham acuan kompak menguat.

Pada sesi pertama, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.428,31 dan terendah 6.316,87. Sebanyak 252 saham melemah sehingga menahan penguatan IHSG. 212 saham menguat dan 165 saham diam di tempat.

Total volume perdagangan 21,5 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 14,4 triliun. Investor asing beli saham Rp 75,92 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat berada di kisaran 14.062. Sebagian besar sektor saham menghijau kecuali sektor saham pertanian melemah 1,87 persen dan tambang susut 1,02 persen.

Sektor saham perdagangan menguat 1,46 persen, dan memimpin penguatan. Disusul sektor saham konstruksi naik 1,03 persen dan sektor saham industri dasar mendaki 0,87 persen.

Saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar pada sesi pertama antara lain saham MTPS naik 34,53 persen ke posisi Rp 187 per saham, saham BUMI melonjak 25,63 persen ke posisi Rp 151 per saham, dan saham BBHI menguat 24,84 persen ke posisi Rp 955 per saham.

Saham-saham yang melemah antara lain saham ATIC merosot 6,99 persen ke posisi Rp 865 per saham, saham MEGA turun 6,98 persen ke posisi Rp 11.325 per saham, dan saham FPNI susut 6,96 persen ke posisi Rp 294 per saham.

Bursa saham Asia sebagian besar melemah kecuali bursa saham China, Hong Kong dan Indonesia. Indeks saham Hang Seng naik 0,49 persen, indeks saham Shanghai menguat 0,70 persen dan IHSG menguat 0,54 persen.

Sementara itu, indeks saham Korea Selatan Kospi melemah 1,75 persen, indeks saham Jepang Nikkei merosot 1,06 persen, indeks saham Thailand tergelincir 0,94 persen, indeks saham Singapura melemah 0,72 persen dan indeks saham Taiwan merosot 0,39 persen.

Investor asing melakukan aksi beli di sejumlah saham antara lain saham BBCA sebanyak Rp 44,3 miliar, saham BBRI sebanyak Rp 36,8 miliar, saham ASII sebanyak Rp 32 miliar, saham KLBF sebanyak Rp 26 miliar, dan saham BMRI sebanyak Rp 18,3 miliar.

Sementara itu, investor asing juga melakukan aksi jual antara lain saham SMGR sebanyak Rp 55,4 miliar, saham BBNI sebanyak Rp 26,4 miliar, saham INKP sebanyak Rp 16 miliar, saham BSDE sebanyak Rp 12,9 miliar dan saham PWON sebanyak Rp 9,5 miliar.

Analis PT Binaartha Sekuritas Nafan Aji menuturkan, IHSG berbalik arah menguat dipicu kinerja pertumbuhan ekonomi China yang membaik pada kuartal IV 2021. Tercatat pertumbuhan ekonomi 6,5 persen pada kuartal IV 2021. Angka tersebut di atas konsensus pasar sebesar 6,2 persen, serta lebih baik dari hasil rilis pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 sebesar 4,9 persen.

“Market antusias menanti pengumuman RDG Bank Indonesia dalam rangka menetapkan BI 7DRRR,” ujar dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini