Liputan6.com, Jakarta - Hubungan yang sulit seringkali diasosiasikan dengan penderitaan emosional seperti stres, kesedihan, kecemasan, dan kelelahan. Namun, dampak fisik dari stres relasional yang persisten seringkali terabaikan, bahkan ketika muncul dalam bentuk yang membingungkan atau terasa tidak berhubungan dengan kondisi emosional.
Tubuh manusia memiliki prioritas utama untuk bertahan hidup, bukan untuk berkembang, sebuah prinsip yang memiliki implikasi serius terhadap kesehatan fisik saat seseorang berada dalam hubungan yang toksik. "Prioritas tubuh kita adalah bertahan hidup – bukan berkembang," demikian ditegaskan dalam laporan The Independent yang dilansir pada 6 Juli 2026.
Ini berarti tubuh akan mengalihkan sumber daya untuk menghadapi ancaman yang dirasakan, meskipun ancaman tersebut bersifat psikologis. Stres emosional yang berkepanjangan dapat memicu respons "lawan-atau-lari" dalam tubuh, sebuah mekanisme pertahanan kuno yang dirancang untuk mengatasi bahaya fisik.
Advertisement
Respons Tubuh Terhadap Stres Kronis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4791909/original/077832100_1712048868-IMG_1944.jpeg)
Jika tubuh terus-menerus berada dalam kondisi siaga tinggi karena terpapar hubungan yang toksik, kadar kortisol akan tetap tinggi secara kronis. "Mengalami stres kronis karena hubungan yang toksik dapat menjaga tubuh kita dalam kondisi siaga tinggi ini, menyebabkan kadar kortisol tetap tinggi," jelas MedReport Foundation pada 1 Maret 2025.
Kondisi ini dapat menekan sistem kekebalan tubuh, membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit. Selain itu, peningkatan kortisol juga dapat memicu peradangan di seluruh tubuh, menyebabkan usus bocor (leaky gut), dan mengganggu keseimbangan hormon.
Bagi individu yang memiliki kecenderungan, kadar kortisol yang tinggi secara kronis juga dapat memicu kekambuhan penyakit autoimun. "Hidup dalam kondisi lawan-atau-lari meningkatkan kortisol, yang dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh yang tertekan, peningkatan peradangan, usus bocor, ketidakseimbangan hormon, dan kekambuhan autoimun," demikian laporan dari *The Independent*. Ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara kondisi mental dan respons biologis tubuh.
Advertisement
Risiko Penyakit Autoimun dan Mortalitas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4332862/original/051696100_1677041454-pexels-alena-darmel-6642995_1_.jpg)
Penelitian telah menunjukkan korelasi signifikan antara stres parah atau trauma dengan perkembangan penyakit autoimun. Orang yang mengalami kondisi tersebut memiliki kemungkinan 36 persen lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit autoimun seperti Rheumatoid arthritis, Lupus, Psoriasis, Hashimoto's, dan Crohn's disease.
Dampak hubungan yang buruk bahkan melampaui risiko penyakit autoimun. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2010 mengungkapkan bahwa hubungan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko kematian hingga 50 persen, sebuah angka yang setara dengan risiko yang ditimbulkan oleh kebiasaan merokok 15 batang rokok setiap hari.
Kisah Becca Scott, seperti yang diangkat dalam artikel *The Independent*, menjadi contoh nyata. Ia mengembangkan Crohn's disease dan Hashimoto's—penyakit tiroid autoimun—sejak masa kecilnya di lingkungan keluarga yang penuh konflik. Penyakit-penyakit ini, yang dapat menyebabkan penambahan berat badan, sensitivitas terhadap dingin, sembelit, kulit kering, rambut rontok, serta nyeri otot atau sendi, semakin diperparah oleh ketegangan dalam hubungan romantisnya di kemudian hari.
Pentingnya Penelitian dan Ketahanan Diri
Para ahli menekankan perlunya lebih banyak penelitian untuk memahami sepenuhnya dampak hubungan toksik pada kesehatan fisik. "Perlu ada lebih banyak penelitian yang dilakukan," kata Wallace-Scott, seraya menambahkan bahwa studi yang lebih baru dengan generasi saat ini diperlukan dibandingkan hanya mengandalkan data lama.
Wallace-Scott juga berpendapat bahwa penyakit yang diakibatkan oleh stres mungkin merupakan faktor fatal yang lebih "tenang" dalam sebuah hubungan, meskipun asumsi ini masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.
Konsep "penyebab yang mempertahankan" (maintaining cause) dalam beberapa pendekatan pengobatan fungsional menyoroti bahwa stres lingkungan yang berkelanjutan dapat menghambat pemulihan penuh, bahkan ketika gejala telah diobati secara medis atau nutrisi. Jika seseorang terus-menerus terpapar kritik, konflik, atau ketidakamanan emosional, tubuh mereka mungkin tetap dalam respons stres yang tinggi, yang pada gilirannya memperlambat proses penyembuhan.
"Ini tentang menilai seberapa besar hubungan itu, toksisitas itu, stres itu berdampak pada kesehatan mereka, karena ini adalah situasi ayam-dan-telur," jelas Wallace-Scott. Ia menambahkan, "Jika seseorang merasa sangat meradang, lelah, dan terganggu, mereka akan merasa terjebak dan lebih bergantung pada pasangannya. Ini tentang mencoba membuat orang tersebut sekuat dan sesehat mungkin sehingga mereka merasa dalam posisi untuk mulai membuat perubahan yang lebih besar dalam hidup mereka."
Hubungan antara kehidupan emosional dan kesehatan fisik sangatlah kompleks. Tubuh tidak memisahkan stres psikologis dari fungsi biologisnya. Sebaliknya, aktivasi sistem saraf, regulasi hormonal, dan respons kekebalan tubuh saling terkait secara mendalam. Pesan utama dari laporan ini adalah bahwa stres kronis dari sumber apa pun, termasuk hubungan interpersonal, dapat memengaruhi kesejahteraan fisik dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, bagi sebagian orang, mengurangi stres tersebut merupakan bagian penting dari pemulihan kesehatan, di samping perawatan medis dan dukungan gaya hidup.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298603/original/082269600_1784175792-gsafss.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298662/original/060228200_1784179310-cek_fakta_bantuan_alat_pertanian.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298612/original/078139900_1784176536-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-16T113248.324.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298463/original/022893100_1784171596-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-16T101149.857.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298223/original/011449900_1784155410-063_2286282854.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288267/original/024620600_1783308427-eng10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5936533/original/005039500_1778833892-063_2276293040.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298567/original/084606300_1784174337-000_C2B89X9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298224/original/042744300_1784155877-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298444/original/012761000_1784171006-Argentina_s_Leandro_Paredes__5__falls_as_he_battles_for_the_ball_with_England_s_Jude_Bellingham.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298306/original/004606900_1784166640-tuchel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298289/original/003845200_1784165599-063_2286277553.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298237/original/082194800_1784160981-England_head_coach_Thomas_Tuchel_talks_to_England_s_Jude_Bellingham.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298232/original/069179300_1784159975-England_s_Jude_Bellingham__10_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298228/original/014527500_1784157563-Argentina_s_Enzo_Fernandez__24__celebrates_england.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528468/original/080345000_1782459896-pexels-klaus-nielsen-6287354.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298051/original/009602400_1784116903-WhatsApp_Image_2026-07-15_at_4.58.47_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298303/original/035893900_1784166533-SnapInsta.to_746660901_18608446768003246_7884875250032959579_n.jpg)