Sukses

Rupiah Ditutup Menguat Imbas Data Neraca Dagang Indonesia Surplus

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini ditutup menguat. Dikutip dari Bloomberg, Kamis (15/10/2020), rupiah ditutup berada di 14.690 per dolar AS, menguat jika dibandingkan penutupan kemarin di 14.717 per dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan kondisi ini dipicu pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal ketiga yang sudah pasti kontraksi. Sehingga Indonesia bakal masuk jurang resesi. Namun ada harapan ekonomi akan kembali pulih pasca kebijakan pelonggaran PSBB di DKI Jakarta.

"Itu bisa terlihat dari masyarakat yang kembali aktif bekerja, berbelanja di mall dan lestoran kembali ramai," kata Ibrahim kepada wartawan, Jakarta, Kamis (15/10/2020).

Selain itu, Ibrahim mengatakan, tanda-tanda pertumbuhan ekonomi kembali membaik setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data ekspor dan impor pada September 2020. Nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 14,01 miliar. Nilai tersebut mengalami penurunan sebesar 0,51 persen dibandingkan September 2019.

Sementara nilai impor pada September 2020 tercatat USD11,57 miliar atau turun 18,88 persen. Perhitungan ekspor yang masih tinggi ini membuat neraca dagang September terjadi surplus USD 2,44 miliar.

"Angka-angka tersebut melebihi ekspektasi para analis yang memperkirakan ekspor akan terkontraksi atau tumbuh negatif nyaris 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," kata Ibrahim.

Terkait impor, diperkirakan turun sebesar 25,15 persen (yoy). Ini membuat neraca perdagangan surplus USD 2,06 miliar.

Selain itu sebelum vaksin merah putih diserahkan ke Bio Farma, maka Pemerintah akan melakukan uji coba Vaksin merah putih pada hewan di bulan November. Keberhasilan vaksin tersebut akan membuat Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain.

"Dengan vaksin tersebut maka untuk harga vaksin pun relatif terjangkau berbeda dengan vaksin buatan luar negeri. Dan ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia," kata dia.

 

2 dari 3 halaman

Faktor Eksternal

Sementara itu dari sisi eksternal, Menteri Keuangan Amerika Serikat, Steven Mnuchin mengurangi harapan untuk stimulus lebih lanjut sebelum pemilihan Presiden. Sehingga membebani sentimen investor yang rapuh.

"Harapan stimulus mengalami pukulan karena Mnuchin mengatakan akan "sulit" untuk mencapai kesepakatan pada putaran berikutnya dari stimulus virus korona dengan Ketua DPR Nancy Pelosi sebelum pemilihan 3 November," kata dia.

Kemajuan yang terhenti dalam pembicaraan terjadi karena proposal stimulus Gedung Putih senilai USD 1,8 triliun dianggap tidak mencukupi oleh Pelosi. Sementara Senat Partai Republik tidak nyaman dengan ukuran kesepakatan tersebut.

Selain itu, kondisi perdagangan juga dipicu kekhawatiran terjadinya kembali pandemi Covid-19 yang menyebabkan pemerintah kembali melakukan penguncian wilayah (lockdown). Sehingga berakibat pada menutup kegiatan ekonomi meski pejabat WHO sudah memperingatkan bahwa untuk menanggulangi covid-19 tidak harus melakukan lockdown.

"Dengan kasus Covid-19 yang melonjak, beberapa negara Eropa menutup sekolah, membatalkan operasi, dan mendaftarkan petugas medis siswa saat otoritas yang kewalahan bersiap untuk terulangnya skenario mimpi buruk yang terlihat awal tahun ini," paparnya.

Hal lainnya, pasar terus mengawasi pembicaraan Brexit. Sebab tenggat waktu pakta tentang hubungan Uni Eropa dengan Inggris semakin dekat.

Pertemuan para pemimpin UE pada hari Kamis dan Jumat akan memberi tahu negosiator Brexit mereka Michel Barnier untuk meningkatkan pembicaraan guna mendapatkan kesepakatan pada 1 Januari 2021. Tetapi beberapa antusiasme hilang setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kecewa dengan Ketua Komisi Eropa, Ursula von der Leyen.

Dia kecewa karena tidak ada kemajuan lebih dalam dalam perundingan tersebut. Boris Johnson akan melanjutkan negosiasi dengan presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Rabu malam.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: