Sukses

Jalur KA Ciranjang-Cipatat Beroperasi, Perjalanan ke Sukabumi Lebih Cepat 30 Menit

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan reaktivasi jalur kereta api (KA) relasi Ciranjang - Cipatat dengan panjang lintasan 15 km.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri menyatakan, reaktivasi jalur KA Ciranjang - Cipatat ini merupakan tindak lanjut dari reaktivasi segmen 1 Cianjur - Ciranjang yang telah dilaksanakan pada tahun 2019 lalu.

"Lintas ini adalah segmen 2 dari rencana program reaktivasi Cianjur-Padalarang yang sudah tidak beroperasi sejak tahun 2012. Segmen 2 ini Ciranjang-Cipatat sepanjang 15 km," kata Zulfikri dalam peresmian secara virtual, Senin (21/9/2020).

Adapun, anggaran yang disiapkan untuk reaktivasi jalur KA ini adalah Rp 118,87 miliar yang berasal dari APBN 2019 dengan pekerjaan antara lain peningkatan jalur dengan penggantian Rel KA R.33 menjadi Rel R.54 dan juga normalisasi badan jalan.

Selanjutnya, pembangunan segmen terakhir atau segmen 3 Cipatat - Padalarang sepanjang 13,8 kilometer nanti akan segera dilakukan dan ditargetkan dimulai pada tahun 2022.

"Nanti (pembangunan jalur segmen 3) dilanjutkan Cipatat - Padalarang dengan panjang 13,8 km," kata Zulfikri.

Target peningkatan untuk pengoperasian jalur kereta api ini sendiri adalah peningkatan kapasitas lintas dari yang semula 3 perjalanan KA menjadi 7 perjalanan KA. Penambahan jumlah rangkaian kereta yang sebelumnya hanya terdapat 5 rangkaian kereta bertambah menjadi 8 rangkaian.

Dengan reaktivasi ini, waktu tempuh KA Cipatat - Sukabumi atau sebaliknya hanya 2,5 jam. Itu lebih cepat 30 menit dari moda transportasi darat mobil atau bus.

Lanjut Zulfikri, manfaat yang diperoleh dari hasil pembangunan ini antara lain peningkatan keselamatan dan kenyamanan, peningkatan aksesibilitas dan mobilitas, serta memperlancar roda perekonomian. Diharapkan dengan beroperasinya jalur ini mobilitas orang dan barang di sekitar wilayah ini jadi lebih mudah dan efisien.

"Lalu jalur ini nantinya akan menjadi jalur alternatif kereta api dari Bogor ke Bandung dimana masyarakat Bogor tidak perlu ke Jakarta jika mau ke Bandung dengan moda kereta api, karena bisa melalui jalur ini," ujarnya.

2 dari 4 halaman

Proyek Jalur Ganda KA Bogor-Sukabumi Terhambat Lahan Istana Batu Tulis

Pembangunan proyek jalur rel ganda (double track) lintas Bogor-Sukabumi berpotensi molor. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebutkan proyek jalur rel ganda sepanjang 26,7 kilometer (km) untuk segmen Cicurug-Paledang terkendala dengan lahan.

Jalur rel ganda KA Bogor-Sukabumi yang akan dibangun harus melintasi lahan PT KAI yang diklaim Istana Batu Tulis Kota Bogor.

"Saat pengukuran untuk melakukan penertiban lahan, pas posisi di belakang Istana Batu Tulis itu didapat bahwa sebagian lahan masuk di batas tanah yang kita miliki," kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pembangunan jalur ganda lintas Bogor-Sukabumi, David Sujito, Minggu (20/9/2020).

Imbasnya, salah satu proyek strategis nasional yang diusung Presiden Joko Widodo pun ikut terganggu. Padahal, pembangunannya ditargetkan selesai 2021 mendatang.

"Penertiban kita tunda ya karena harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan Setneg (Sekretariat Negara)," ujar David.

Menurutnya, ada dua opsi yang akan dilakukan Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jabar yakni mengubah trase jalur lintasan kereta atau sesuai rencana awal dengan tetap melewati lahan belakang Istana Batu Tulis.

David memaparkan, apabila mengubah trase ke sebelah kanan rel jika dari arah Kota Bogor ada ruas jalan perkampungan yang akan terdampak.

"Kalau kajian teknisnya tidak memungkinkan ya kita akan kembali melakukan koordinasi lah untuk mengambil sebagian lahan. Kalau masuk ke dalam Istana Batu Tulis itu mungkin ada hampir 10 meter," paparnya.

Namun jika sesuai perencanaan awal pun kemungkinan target pembangunan jalur rel ganda bisa jadi meleset dari perkiraan semula.

"Kita koordinasi dengan pihak istana, melalui Mensesneg mungkin itu juga akan butuh waktu," terangnya.

3 dari 4 halaman

Kajian Baru

Secara konsep, ia belum mengetahui perluasan kawasan Stasiun Batu Tulis untuk dijadikan apa. Namun melihat kondisi di Stasiun Batu Tulis berhimpitan dengan perlintasan sebidang, maka perlu dilakukan kajian baru agar tidak mengganggu arus lalu lintas.

Di samping mengubah trase, ada beberapa pekerjaan fisik yang tampak sulit dirampungkan tahun 2021.

Di antaranya medan yang sulit dan berbukit-bukit serta mengganti Jembatan Paledang untuk jalur rel ganda, yang kini masih dalam tahap kajian analisis dampak lalu lintas.

"Di lapangan faktornya kondisi alam ya, pertama di segmen arah Ciomas, di sisi kiri bukit, kemudian dari Ciomas mengarah ke Paledang (Kota Bogor) sebelah kirinya sungai tebing yang tinggi," ucapnya. (Achmad Sudarno) 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: