Sukses

Kepala BKPM Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pemasok Baterai Dunia

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, mengatakan Indonesia sudah saatnya memberhentikan ekspor produk-produk yang sifatnya mentah, salah satunya nikel.

“Kalau kita bicara transformasi ekonomi pasti kita bicara tentang nilai tambah itu kita arahkan bagaimana investasi kepada sektor-sektor yang bisa memberikan nilai tambah sudah saatnya Indonesia, saya pikir tidak boleh lagi melakukan ekspor produk-produk yang sifatnya masih barang mentah. Hari ini kita lihat nikel, kita membuat larangan untuk ekspor nikel,” kata Bahlil dalam HSBC Economic Forum, Rabu (16/9/2020).

Oleh karena itu BKPM sebagai institusi negara yang diberikan penugasan untuk mengurus investasi, menurut Bahlil, Indonesia perlu untuk terus membangun hilirisasi terkait produk mentah nikel.

Ia berharap kedepannya Indonesia harus membangun baterai sendiri. Karena di 2025 konsep green energy di hampir semua belahan dunia sudah mulai fokus pada bagaimana membangun alat transportasi dengan baterai.

“Dan di Indonesia saya pikir salah satu negara yang harus kita syukuri karena Allah begitu memberikan sumber daya alam yang melimpah, di mana cadangan ore (nikel) dunia itu 20 persen ada di Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, kata Bahlil Indonesia juga mempunyai material lain yakni sebanyak 85 persen dari total material untuk mematuhi pembangunan baterai itu ada di Indonesia. Apalagi kalau bicara power plan, Indonesia memiliki punya PLTA di Kalimantan Utara sebesar 13 ribu Megawatt, dan di Papua Mamberamo sebesar 247 ribu Megawatt.

“Nah kalau ini kita fokus kemudian kita mampu memberikan sesuatu yang maksimal maka saya yakinkan, bahwa Indonesia akan menjadi negara yang akan memberikan kontribusi dalam melakukan supply terhadap negara-negara yang lain, khususnya di bidang otomotif nantinya,” kata Kepala BKPM.

 

2 dari 2 halaman

Perusahaan Korea dan China

Kata Bahlil hal itu bukan hanya sebuah mimpi atau hanya sebuah konsep belaka, lantaran di beberapa perusahaan China dan Korea hari ini sudah melakukan proses negosiasi dengan pemerintah Indonesia termasuk dengan BUMN untuk merealisasikan mimpi tersebut.

“Insya Allah kami punya keyakinan Indonesia kedepan akan mempunyai peran penting sebab tidak ada Negara di Asia tenggara yang wilayahnya sama dengan Indonesia sumber daya alamnya besar, jumlah marketnya 43 persen dari total persen di penduduk Asia tenggara itu ada di Indonesia,” pungkasnya.