Sukses

Pengamat Sebut Rotasi Direksi Antar-BUMN sebagai Hal yang Wajar

Liputan6.com, Jakarta - Perombakan susunan manajemen PT Bank Negara Indonesia Tbk (Persero) pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Rabu (2/9/2020) lalu menyedot perhatian publik. Pasalnya, pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaku pemegang saham BNI, merombak besar-besaran manajemen BNI.

Tercatat, ada delapan posisi direksi BNI yang dirombak. Dari jumlah itu, ada lima direktur baru BNI yang berasal dari PT Bank Mandiri Tbk (Persero). Salah satunya yaitu Royke Tumilaar yang didapuk menjadi Direktur Utama BNI menggantikan Herry Sidharta. Royke sendiri sebelumnya merupakan Direktur Utama Bank Mandiri.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Ekonomi Muhammad Doddy Arifianto menyatakan, masuknya lima bankir Bank Mandiri ke susunan direksi BNI harus dilihat secara objektif.

Doddy membenarkan, biasanya pimpinan bank BUMN dilakukan secara rotasi antar sesama bankir pelat merah. Dalam penempatan direksi sebuah perusahaan BUMN, pemerintah sebagai pemegang saham pasti melakukan proses seleksi yang ketat.

Ada tim seleksi yang mempertimbangkan seseorang layak dipilih menjadi pimpinan di sebuah BUMN. Tentu, kata Doddy, kualifikasi yang dimiliki bankir dari bank BUMN selain Mandiri juga masuk dalam pool tim seleksi manajemen BNI.

Hal itu, mulai dari kompetensi, skill, jaringan, wawasan, integritas, dan lain sebagainya menjadi kriteria utama yang diseleksi oleh tim tersebut.

"Saya yakin, semua itu menjadi pertimbangan utama Menteri BUMN, yang notabene juga merupakan profesional businessman," ujarnya.

Doddy menambahkan, keberadaan bankir-bankir Bank Mandiri di sejumlah perusahaan BUMN maupun swasta, sejatinya sudah ada sejak dahulu. Sejak tahun 2006, kata dia, sejumlah bankir Bank Mandiri sudah dipakai di berbagai entitas bisnis sebagai tenaga profesional.

Bahkan, banyak bank-bank kecil juga dipimpin mantan bankir Bank Mandiri. Artinya, sejak dulu bankir Bank Mandiri memiliki skill, kapabilitas dan integritas yang mumpuni untuk menjadi pimpinan di sebuah lembaga, baik di entitas perbankan maupun non bank. Sejatinya, kata Doddy, integritas dan kapablitas tersebut juga dimiliki oleh bankir BUMN lainnya.

"Ini kan kembali ke garis tangan person bankir itu sendiri. Kebetulan, memang lima bankir Bank Mandiri yang terpilih menjadi direksi BNI. Jadi kenapa mesti diributkan?" imbuh Mantan Direktur Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut.

Pendapat senada disampaikan Direktur Riset Center on Reforma Economics Piter Abdullah. Dia menilai, pergantian manajemen di tubuh perusahaan BUMN memang hal yang lumrah.

Sebagai pemegang saham, pemerintah memiliki kewenangan merombak susunan manajemen perusahaan BUMN. Hanya saja, Piter mengingatkan, menjadikan BUMN untuk go global, bukanlah hal mudah. Banyak tantangan yang harus dilalui oleh perbankan nasional di luar negeri. Maklum, perbankan merupakan bisnis yang syarat regulasi.

Jika masuk ke negara lain, bank kita harus mengikuti aturan main regulator di negara tujuan. Selain itu, secara sistem, perbankan di dalam negeri dinilai belum efisien secara operasional.

"Perbankan kita memang bisa mendapatkan keuntungan yang besar sekali di Indonesia karena didukung oleh sistem kebijakan yang unik," tegasnya.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 3 halaman

Banyak Kuasai BUMN, Jebolan Bank Mandiri Jamin Perusahaan Sukses?

Menteri BUMN Erick Thohir kini banyak menarik para bankir lulusan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk untuk jadi pimpinan teratas di perusahaan pelat merah lain. Terbaru, Erick menggeser Royke Tumilaar dari posisi Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri menjadi bos baru di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau Bank BNI.

Beberapa nama besar lain di BUMN seperti Dirut PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini, Dirut PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Sunarso, hingga Dirut PT KAI Didiek Hartanto juga merupakan alumni Bank Mandiri.

Bahkan, Erick sampai memercayai dua posisi Wakil Menteri BUMN kepada figur yang pernah menjabat selaku bos besar Bank Mandiri, yakni Budi Gunadi Sadikin dan Kartika Wirjoatmojo.

Lantas, apakah jebolan Bank Mandiri bakal jamin kesuksesan kinerja perusahaan BUMN lainnya?

Pengamat BUMN dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Toto Pranoto menilai, beberapa tokoh lulusan Bank Mandiri memang memiliki kompetensi untuk jadi pemimpin di perusahaan pelat merah lain.

Dia mencontohkan Sunarso, yang sebelum menjadi bos besar BRI juga telah menorehkan catatan baik bersama PT Pegadaian (Persero).

"Ya selepas di Mandiri, mereka menangani beberapa BUMN lain. Sunarso saya kira punya catatan baik saat mengelola Pegadaian dengan upaya rebranding dan introduksi produk baru," ujar Toto kepada Liputan6.com, Kamis (3/9/2020).

Namun, ia menambahkan, tidak berarti semua jebolan Bank Mandiri bisa cepat meraih kesuksesan di perusahaan lain. Sebagai contoh Dirut PLN Zulkifli Zaini, yang dihadapkan tugas berat untuk membenahi perusahaan barunya di tengah pandemi Covid-19.

Sebab, pada semester I 2020 lalu, PLN hanya mengantongi laba bersih arp 251,6 miliar. Angka tersebut anjlok 96 persen dari periode sama tahun sebelumnya, dimana PLN mampu mencetak laba bersih Rp 7,3 triliun.

"Sebagian juga sedang bermasalh seperti PLN. Zulkifli masih dalam proses penanganan masalah PLN yang relatif kompleks, jadi butuh waktu untuk menyelesaikan soal itu," pungkas pengamat BUMN itu.

3 dari 3 halaman

Erick Thohir Dinilai Punya Selera Jebolan Bank Mandiri

Menteri BUMN Erick Thohir pada Rabu (2/9/2020) kemarin telah mengangkat Royke Tumilaar yang merupakan eks Direktur Utama (Dirut) PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjadi Dirut PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Penunjukan tersebut menambah daftar panjang alumni Bank Mandiri yang kini memimpin perusahaan pelat merah, baik di sektor perbankan maupun industri lainnya.

Pengamat BUMN dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Toto Pranoto berpendapat, Erick Thohir nampaknya sudah punya keterikatan batin tersendiri dengan para jebolan Bank Mandiri.

"Ya ini soal selera atau chemistry saja. Jadi ET mungkin merasa cocok dengan figur eks Bank Mandiri. Wajar saja, karena Bank Mandiri juga salah satu bank terbesar di Indonesia," kata Toto kepada Liputan6.com, Kamis (3/9/2020).

Toto mengatakan, Erick Thohir selaku Menteri BUMN sekaligus wakil pemegang saham juga harus merasa yakni dengan pilihan atas direksi perusahaan pelat merah yang ditunjuk.

"Keyakinan itu baik dari segi kompetensi teknis, managerial, maupun kesesuain dalam chemistry kerjasama," ungkap dia.

Khusus untuk kedatangan Royke Tumilaar ke BNI, Toto menilai, ia bisa mentransfer pengaruh positif ke perusahaan berkat pengalaman panjangnya sebagai seorang bankir profesional di Bank Mandiri.

"Kalo lihat track record-nya pengalaman Royke di Mandiri cukup panjang, termasuk menangani isu restructuring dan international market. Jadi kalo tujuannya membuat BNI segera lompat menjadi bank papan atas yang berorientasi global, bisa jadi tepat," ujarnya.