Sukses

Stabilitas Keuangan Terjaga Meski Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Minus 5,3 Persen

Liputan6.com, Jakarta Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KKSK) sekaligus Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, stabilitas keuangan tetap baik dan normal pada kuartal II 2020. Stabilitas keuangan terjaga meskipun ada kontraksi pertumbuhan ekonomi sebesar -5,32 persen.

"Stabilitas sistem keuangan pada kuartal II dalam kondisi normal meskipun kewaspadaaan terus ditingkatkan," ujar Sri Mulyani dalam konfrensi pers secara virtual, Jakarta, Rabu (5/8/2020).

Stabilitas keuangan tetap baik meskipun KSSK menyadari penyebaran Covid-19 tentu menimbulkan kewaspadaan dan kehati-hatian dalam melihat prospek ekonomi dan dampaknya terhadap sistem keuangan.

"Kita melihat bahwa pandemi Virus Corona telah mengakibatkan pertumbuhan ekonomi maupun nasional mengalami kontraksi. Kontraksi serta koreksi pada pertumbuhan ekonomi global maupun nasional muai terlihat pada kuartal II," jelas dia.

KSSK terus mewaspadai adanya second wave di berbagai negara yang telah melakukan pembukaan ekonomi di tengah belum adanya kepastian kapan ditemukannya dan diedarkannya vaksin Virus Corona.

"Hal tersebut menimbulkan ketidakpastian yang cukup tinggi bagi dinamika ekonomi nasional maupun global. Berbagai lembaga internasioal telah melakukan koreksi pertumbuhan ekonomi secara sangat tajam," paparnya.

Salah satu lembaga internasional, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global merosot hingga -4,9 persen. Prediksi terbaru akan disampaikan pada Oktober mendatang.

"IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan terkontraksi -4,9 persen dan nanti Oktober IMF akan mengeluarkan proyeksi terbarunya," tandas dia.

2 dari 3 halaman

Tak Melulu Buruk, Simak Indikator Positif Ekonomi Indonesia Ini

Deputi I Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir, menyebut bahwa terdapat beberapa indikator positif di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi. Di kuartal II 2020, ekonomi Indonesia minus 5,3 persen secara year on year (yoy).

"Tapi ada hal positif, sejak Juni. dari beberapa indikator," kata Iskandar dalam video conference di Jakarta, Rabu (5/8/2020).

Dia mengatakan, indikator indek PMI dari Mei ke Juni 2020 meningkat 7 poin lebih, atau berada di angka 46,9 poin. Begitu juga dengan penjualan kendaraan bermotor, meski masih minus tapi meningkat signifikan dari minus 82 persen jadi minus 54 persen.

"Begitu juga dengan ketika kita survei indeks keyakinan konsumen meningkat signifkan 83,8. Survei kegiatan dunia usaha juga," kata dia.

Iskandar melanjutkan, bukan dari beberapa indikator ekonomi itu saja yang terlihat sisi positifnya. Dia memberikan optimisme bahwa momentum pertumbuhan ekonomi kuartal II yang  minus 5,32 persen ternyata ada pembalikan arah di akhir Juni 2020.

"Bukan hanya lima leading indicator yang tunjukkan kinerja positif. Ada 3 hal, inflasi inti kita di bulan Juli yang masuk di kuartal III, kalau kita lihat inflasi inti kita dibandingkan Juni yang juni 0,02 persen dan  Juli 0,16 persen. Inflasi inti kan secara konsep gambarkan agregat demand, permintaan dalam negeri, tunjukan peningkatan. Artinya tanda menggeliat ekonomi ketika exit policy terlihat, yang tadinya kuartal II tidak terlihat," paparnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi nilai positif yang sejak dulu sudah dipikirkan oleh dirinya. Dengan indikator-indikator ekonomi yang positif tersebut, maka langkah pemerintah itu dinilai sudah cukup on the track.

"Tapi kecepatan jadi masalah. Pembalikan sudah terjadi, tapi pembalikannya ini cepat atau lambat itu yang jadi masalah," kata dia.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video di bawah ini: