Sukses

Penurunan Harga Gas dan Covid-19 Jadi Biangkerok Penerimaan Sektor Migas Anjlok

Liputan6.com, Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Tugas Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memprediksi target pendapatan negara dari produksi migas tidak tercapai, sebab tergerus oleh beberapa hal.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020, yang dipatok sebesar USD 14,46 miliar.

Namun, pandemi covid-19, penurunan harga minyak dan kebijakan penurunan harga gas ditingkat industri menjadi USD 6 per MMBTU memupuskan harapan capaian pendapatan negara dari produksi migas. Diperkirakan pendapatan negara hanya mencapai USD 5,86 miliar pada 2020.

"Perkirakaan penerimaan negara dari sektor migas di APBN USD 14,46 miliar outlooknya USD 5,86 miliar," kata Dwi dalam rapat virtual dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (18/6/2020).

Dia merinci pemangkasan pendapatan negara dari kegiatan produksi minyak, yaitu penurunan harga minyak dunia dari sekitar USD 63 per barel menjadi sekitar USD 38 per barel mamangkas penerimaan negara sekitar USD 4,95 miliar.

 

2 dari 3 halaman

Dampak Corona

Dampak pandemi Covid-19 memangkas sekitar USD 2,97 miliar dan penurunan harga gas untuk konsumen industri menjadi USD per MMBTU membuat negara kehilangan pendapatan sebesar USD 0,68 miliar.

"Ini perkiraan sesungguhanya dari dampak penurunan harga minyak, ada dampak Covid-19 dan penyesuaian harga gas untuk industri," jelasnya

Demikian Dwi mengungkapkan, pandemi Covid-19 membawa dampak pada kegiatan operasional hulu migas, termasuk di dalamnya penundaan penghentian operasi direcanakan untuk perawatan (Planned Shutdown) di Lapangan Banyu Urip dan Tangguh, Program Kerja Ulang & Perawatan Sumur di CPI, Petrochina, OSES, Kegiatan P&A sumur di Conoco Phillips.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: