Sukses

Cadangan Devisa Turun Selama Pandemi Corona

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia melaporkan terjadi penurunan cadangan devisa di masa penyebaran virus corona. Penurunan tersebut disebabkan adanya kebutuhan intervensi. Namun terkait jumlah penurunannya Perry tidak menyebutkan secara jelas.

"Jumlah cadangan devisa menurun karena ada kebutuhan intervensi, besok akan kami umumkan," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) virtual dengan Komisi XI DPR RI dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua OJK Wimboh Santoso dan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS).

Meski terjadi penurunan cadangan devisa, Perry meyakinkan, jumlah yang tersisa saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan impor, pembayaran utang pemerintah. Begitu juga untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah.

Bahkan jika diperlukan, Bank Indonesia telah melakukan kerja sama bilateral swap aggrement (BSA) dengan sejumlah bank sentral negara lain sebagai second line of defence.

"Kalau diperlukan BI punya kerja sama bilatreral swap , dengan sejumlah bank sentral sebagai second line defence," kata Perry.

Misalnya dengan Bank Rakyat Tiongkok (BRT) China, sekitar USD 30 miliar. Lalu dengan Bank sentral Jepang atau Bank of Japan sekitar USD 22,76 miliar.

Kerja sama Bank Indonesia dengan Bank Sentral Korea Selatan, sekitar USD 10 miliar. Sementara dengan Bank Sentral Singapura setara USD 7 miliar atau SGD 10 miliar.

"Ini yang dapat kami sampaikan," kata Perry.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Kepanikan Pasar Akibat Corona Bikin Rupiah Tembus Rp 16 Ribu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus bergerak melemah pada perdagangan Jumat akhir pekan ini. Pada pukul 10.20 WIB, rupiah terus tertekan sentuh angka 16.037 per dolar AS.

Menanggapi situasi ini, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, kurs rupiah akan terus berada di posisi rentan selama penyebaran wabah virus corona yang menyebabkan kepanikan di pasar global.

"Ini level kunci dan akan terus melemah sambil menunggu informasi virus corona. Pasar panik," ujar Ibrahim, Jumat (20/3/2020).

Kendati demikian, Ibrahim menganggap fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dalam menghadapi level nilai tukar rupiah saat ini. Menurutnya, kepanikan pasar merupakan indikator utama pelemahan tersebut.

"Walaupun rupiah ke 16.500, fundamental indonesia masih kuat. Kuat fundamentalnya, ini murni karena panik saja," tegas dia.

Ibrahim menyatakan, Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang memangkas suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 4,5 persen juga belum memiliki dampak besar saat ini.

"Penurunan suku bunga saat ini kecil pengaruhnya. Stimulus yang dilakukan oleh bank sentral global semua serba dadakan. ini mengindikasikan bank sentral terjadi kepanikan yang luar biasa," tuturnya.