Sukses

Menkeu Beberkan Target Ekonomi di 2020, Apa Saja?

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani, proyeksikan indikator ekonomi makro tahun 2020 alami pertumbuhan sebesar 5,3 persen, hal itu telah diputuskan bersama antara Kementrian keuangan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS).

“Dengan inflasi 3,1 persen, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika rata-rata Rp 14.400, suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan 5,3 persen, harga minyak adalah diasumsikan 63 dolar per barel, dengan lifting minyak akan mencapai 755.000 barel per hari, dan lifting gas 1.250 ribu barel per hari ekuivalen minyak,” kata Sri saat rapat kerja dengan Komite IV Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, dengan membahas postur APBN 2020 di Kompleks Palemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Seperti diketahui bahwa APBN disusun berdasarkan suatu proyeksi kondisi ekonomi makro, dan juga ditujukan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan landasan, untuk mendesain APBN.

Tahun 2020, ia mengatakan proses ini dimulai pada awal dibicarakan tentang kebijakan ekonomi makro, pokok-pokok kebijakan fiskal dengan DPR, yang kemudian dibahas dari Paripurna ke badan anggaran dan kemudian ke komite 11.

“Untuk tahun 2020 juga ditargetkan indikator pembangunan yang penting, seperti angka pengangguran akan di dalam kisaran 4,8 hingga 5 persen, tingkat kemiskinan di 8,5 hingga 9 persen, gini ratio di 0,375 hingga 0,380 persen, dan indeks pembangunan manusia akan mencapai 72,51, ini GPM  yang tinggi,” jelasnya.

Ia pun berharap agar kemiskinan bisa turun pertama kali di bawah 9 persen, dengan mengharapkan kemajuan akan tetap berjalan sampai di bawah 9 persen. Menurutnya angka pengangguran bisa dijaga bahkan di bawah 5 persen.

 

2 dari 3 halaman

Pendapatan Negara

Selanjutnya, ia memaparkan pendapatan negara diproyeksikan mencapai Rp 2233,2 triliun, di mana jika dilihat tahun 2015 pendapatan negara baru Rp 1.500,8 triliun, jadi ini suatu kenaikan, tapi tetap harus hati-hati, karena proyeksi pendapatan pajak sangat tergantung pada kondisi ekonomi.

“Penerimaan perpajakan kita akan mencapai Rp 1865,7 triliun ini meningkat dari tahun 2015 sebesar Rp 1240,4 triliun, sedangkan penerimaan negara bukan pajak itu sebesar Rp 357 triliun, meningkat dari Rp 255,6 triliun pada tahun 2015, dan hibah adalah diestimasi Rp 500 Miliar,” ungkapnya.

Untuk tahun 2020, Kemenkeu akan membelanjakan Rp 2.544 triliun, di mana belanja pemerintah pusat akan mencapai Rp 1683,5 triliun, yang terdiri dari belanja Kementerian lembaga, dan belanja tersebut akan dikelola oleh bendahara umum negara.   

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Korupsi Jadi Tantangan bagi Ekonomi Indonesia
Artikel Selanjutnya
Ngerinya Krisis Ekonomi 1998, Rupiah Tembus Rp 16 Ribu per Dolar AS