Sukses

Langkah Pemerintah Penuhi Kebutuhan Transportasi Massal Warga Jabodetabek

Liputan6.com, Jakarta - Usulan perpanjangan jalur Moda Raya Terpadu (MRT) tengah diusulkan Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek (BPTJ). Dalam hasil kajiannya, pemerintah baru memenuhi kebutuhan pergerakan masyarakat sebanyak 10 persen dari jumlah 88 juta orang tiap hari.

Perpanjangan rel MRT pun diusulkan hingga ke Rawa Buntu, Tanggerang, Banten. Sebab saat ini baru terbentang dari Bundaran Hotel Indonesia sampai ke Lebak Bulus di Jakarta Selatan. Padahal tinggal sedikit lagi untuk sampai menembus kawasan Tanggerang Selatan.

Gayung bersambut, ternyata PT MRT sudah melakukan studi awal untuk perpanjangan rel MRT ke Rawa Buntu. Dalam kajiannya, MRT direncanakan akan melintasi Terminal Pondok Cabe untuk sampai ke Rawa Buntu. Rencana ini pun sejalan dengan kerja BPTJ yang ingin mengoptimalkan fungsi Terminal Pondok Cabe. Apalagi, terminal ini jadi salah satu pengembangan terminal tipe A.

"PT MRT sendiri sudah melakukan studi untuk perpanjangan dari Lebak Bulus sampai Rawa Buntu, melewati Pondok Cabe," kata Direktur Prasarana BPTJ Edi Nursalam di Jakarta, Senin (2/12/2019).

Edi menyebut, sudah ada investor asal Jepang yang bakal membiayai proyek perpanjangan MRT. Nilainya Rp 500 - Rp 800 miliar untuk tiap kilometer.

Percepatan pembangunan MRT fase 2 dari Hotel Indonesia ke Kampung Bandan atau Ancol juga perlu dipercepat. Ini perlu dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat yang masih menggunakan kendaraan pribadi di jalan raya.

Sepanjang tahun 2019, Edi mencatat ada 88 juta pergerakan masyarakat di kawasan Jabodetabek. Untuk itu, pengembangan transportasi massal perlu diperpanjang ke empat wilayah yaitu Bogor, Depok, Bekasi dan Tanggerang.

Koordinasi peningkatan KRL dengan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sudah dilakukan dari 4 penjuru tersebut. Misalnya penambahan rangkaian kereta dari 8 ke 10 dan 12 rangkaian dalam tiap perjalanan.

Saat ini, BPTJ tengah mengusulkan agar kereta commuter tiba di stasiun tiap 2 menit. Caranya menggunakan teknologi gardu sisipan. Sebab saat ini KRL masih menggunakan sistem moving block, yaitu menahan kereta berjalan jika stasiun tujuannya masih ada kereta yang berhenti.

"Inilah upaya kita untuk menyerap orang menggunakan angkutan umum," kata Edi.

 

2 dari 2 halaman

LRT Juga Diperpanjang

Selain itu, BPTJ ingin proyek LRT juga diperpanjang. Moda transportasi massal baru di Indonesia ini ditargetkan bisa menjangkau lebih hingga ke pelosok wilayah Bodetabek. Seperti LRT Cikarang menuju Balaraja melewati Jakarta.

Banyaknya titik moda transportasi massal ini perlu diintegrasikan dengan angkutan umum lokal. Lembaga di bawah Kementerian Perhubungan ini mengusulkan skema Transit Oriented Development (TOD). Skema ini ditawarkan kepada pemerintah daerah untuk dimasukkan dalam Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Untuk memastikan rencana pembangunan di Kawasan TOD di aspek-aspek transportasi dibutuhkan Rekomendasi Teknis. Aspek-aspek itu adalah angkutan umum, keterhubungan, fasilitas pejalan kaki, pengguna sepeda dan peralihan moda transportasi.

Setidaknya ada 54 titik TOD yang bisa dibangun. Dari jumlah tersebut sudah ada 5 rekomendasi teknis yang diajukan BPTJ yaitu TOD Dukuh Atas di Jakarta Selatan, TOD Grandhika City di Bekasi Timur , TOD Cikarang- Jababeka di Kabupaten Bekasi, TOD Gunung Putri di Kabupaten Bogor dan TOD Rawa Buntu di Kabupaten Tanggerang. Edi berharap para Pemda bisa bekerja sama untuk mengutamakan angkutan umum daripada kendaraan pribadi dalam tiap perencanaan pembangunan di Jakarta.

"TOD ini penting sekali kareba akan mengutamakan penggunaan angkutan umum daripada kendaraan pribadi," kata Edi mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Loading
Artikel Selanjutnya
Kelola Kereta Komuter, MRT dan KAI Bentuk Perusahaan Patungan
Artikel Selanjutnya
Anies Baswedan Apresiasi Nota Kerja Sama Integrasi Transportasi Umum