Sukses

Pasar Obligasi dapat Berkah dari Tren Penurunan Suku Bunga

Liputan6.com, Jakarta - Dalam rentang waktu 3 bulan terakhir, Bank Indonesia (BI) secara bertahap melakukan penurunan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 75 basis poin (bps) dari 6 persen menjadi 5,25 persen.

Kebijakan tersebut konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah di bawah titik tengah sasaran danimbal hasil investasi aset keuangan domestik yang tetap menarik, serta sebagai langkah pre-emptiv euntuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat.

 

Kebijakan penurunan suku bunga yang dilakukan oleh BI juga diikuti oleh Lembaga PenjaminSimpanan (LPS) yang menurunkan suku bunga penjaminan simpanan Rupiah pada bank umumsebesar 0,25 persen menjadi 6,50 persen. Pada akhirnya, kondisi tersebut tentunya akan berdampak terhadap imbal hasil yang diterima oleh nasabah.

“Di sisi lain, pasar obligasi tentunya mendapat berkah tersendiri dengan tren penurunan suku bunga yang terjadi saat ini, khususnya Obligasi Pemerintah,” ujar Direktur Utama PT Danareksa Investment Management (DIM) Marsangap P. Tamba dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (24/10/2019).

Berdasarkan infovesta.com per akhir September 2019, dalam kurun waktu 3 bulan, infovesta government bond index mencatatkan kenaikan sebesar 1,79 persen mengalahkan kinerja dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dalam periode yang sama memberikan kinerja -2,98 persen.

“Kami melihat sampai dengan akhir tahun 2019, pasar masih akan di penuhi oleh volatilitas yang tinggi karena isu perang dagang yang belum mereda serta kebijakan suku bunga rendah dari BankSentral guna menetralkan efek negatif dari perang dagang,” ujar Marsangap.

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 dari 3 halaman

Reksa Dana

Konsensus memperkirakan mayoritas Bank Sentral, seperti Amerika Serikat, Eropa dan juga negara lain akan kembali melakukan 1 kali penurunan suku bunga acuan di sisa tahun 2019. Sementara Bank Indonesia diperkirakan juga akan melakukan langkah serupa mengingat nilai tukar mata uang Rupiahyang stabil.

“Dengan melihat kondisi sebagaimana tersebut di atas, investasi pada Reksa Dana Pendapatan Tetapmerupakan instrumen investasi yang tepat. DIM memiliki 2 Reksa Dana Pendapatan Tetap unggulanyang dapat menjadi pilihan bagi investor untuk melakukan investasi, yaitu Danareksa MelatiPendapatan Utama dan Danareksa Melati Premium Dollar,” jelas dia.

Danareksa Melati Pendapatan Utama merupakan Reksa Dana Pendapatan Tetap berdenominasi Rupiah yang memiliki strategi berinvestasi pada obligasi pemerintah dan/atau obligasi korporasidengan rating minimal A.

Sementara Danareksa Melati Premium Dollar merupakan Reksa Dana Pendapatan Tetapberdenominasi Dollar Amerika Serikat yang memiliki strategi berinvestasi fokus pada obligasipemerintah berdenominasi Dollar Amerika Serikat. Dengan pengelolaan aktif yang dilakukan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi ekonomi maupun kondisi pasar obligasi, Danareksa Melati Pendapatan Utama dan Danareksa Melati Premium Dollar mampu secara konsisten memberikanimbal hasil optimal bagi investor.

Berdasarkan data infovesta per tanggal 30 September 2019, Danareksa Melati Pendapatan Utama memberikan imbal hasil 1 tahun sebesar 16,71 persen unggul atas tolok ukurnya infovesta fixed incomefund index (rata-rata kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap) yang memberikan imbal hasil sebesar 8,92 persen.

Di sisi lain dalam kurun waktu yang sama, Danareksa Melati Premium Dollar membukukan kinerja 10,82 persen jauh di atas benchmarknya (rata-rata suku bunga 3 bulan Bank BUMN) yang hanyamembukukan kinerja 1,26 persen.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
PNM Dapat Utang Rp 1,35 Triliun dari Obligasi
Artikel Selanjutnya
BTPN Tawarkan Obligasi Senilai Rp 1 Triliun