Sukses

Tak Anarkis, Permintaan Menkeu Sri Mulyani kepada Pendemo

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati berharap aksi unjuk rasa yang kembali terjadi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta pada hari ini tidak berakhir anarkis. Para demonstran untuk tetap menyampaikan aspirasinya sesuai dengan koridor yang baik.

"Jadi kita berharap bahwa selama aspirasi disampaikan di dalam koridor tersebut ini adalah dinamika demokrasi yang sehat selama dia tidak anarkis dan menciptakan suasana yang kerusuhan," kata Sri Mulyani di Kantornya, Jakarta, Selasa (1/10/2019).

"Namun kalau sudah anarkis itu akan sangat disayangkan semua masyarakat pasti tidak mengharapkan hal itu," tambah dia.

Menurut Sri Mulyani, dinamika aspirasi yang disampaikan masyarakat harus sesuai koridor hukum berlaku. Meski negara demokrasi, namun ketetapan hukum berlaku bagi siapa saja yang sudah menyalahi aturan.

"Kita akan tetap di dalam koridor yang aman yang menjaga ketertiban aspirasi tetap bisa dan harus disampaikan karena ini pandangan dari berbagai lapisan masyarakat," tutur dia.

Seperti diketahui, massa dari berbagai elemen mahasiswa, dan masyarakat kembali turun ke jalan, Selasa (1/10/2019). Mereka mendesak DPR menggugurkan RUU KUHP dan UU KPK hasil revisi.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

 

2 dari 2 halaman

Imbas Aksi Demo, Rupiah Bakal Melemah Sepanjang Hari Ini

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak dua arah pada perdagangan Selasa pekan ini.

Mengutip Bloomberg, Selasa (1/10/2019), rupiah dibuka di angka 14.190 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.195 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.188 per dolar AS hingga 14.200 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah masih menguat 1,34 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.196 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.174 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi Indef, Bhima Yudhistira mengatakan, secara garis besar, sentimen rupiah masih negatif menyusul demonstrasi di jakarta dan daerah terus yang berlanjut. Laporan Moodys terkait potensi gagal bayar utang swasta di Indonesia menambah gloomy outlook investasi.

"Perusahaan yang bergerak dibidang komoditas dinilai kesulitan melunasi kewajibannya khususnya utang valas," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Selasa (1/10/2019).

Dari eksternal rilis PMI jepang yang terus melemah ke 48.9 menunjukkan tekanan resesi akibat perang dagang. PMI dibawah 50 menjadi indikasi manufaktur kurang melakukan ekspansi.

"Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di 14.160-14.190," tandas dia.

Loading
Artikel Selanjutnya
Sri Mulyani Kembali Masuk Daftar 100 Wanita Paling Berpengaruh di Dunia Versi Forbes
Artikel Selanjutnya
Jurus Sri Mulyani Kejar Sisa Target Pajak Rp 441 Triliun Jelang Akhir Tahun