Sukses

PLTA Sungai Kayan Ditargetkan Beroperasi di 2024

Liputan6.com, Jakarta - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Kayan, Kalimantan Utara akan segera dilakukan pada 2020. Diharapkan, pada 2024 sudah bisa menghasilkan listrik.

Pembangunan PLTA tersebut dilakukan setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT PT Kayan Hydro Energy selaku pihak yang membangun PLTA dengan dua BUMN yakni PT Adhi Karya dan PT Pelabuhan Indonesia IV di Kantor Staf Presiden (KSP), Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pekan lalu.

"Target akhir tahun ini akan dilakukan konstruksi," kata Direktur Operasi PT Kayan Hidro Energy, Khaeron di Jakarta, Kamis (22/8).

Dia menjelaskan, konstruksi yang akan dilakukan untuk bendungan Kayan 1 dan 2 dari jumlah total lima bendungan dengan kapasitas 9.000 megawatt (MW). Menurut dia, pembangunan Kayan 1 berkapasitas 900 MW berjalan satu tahun, pembangunan Kayan 2 dilakukan pada tahun depannya.

"Kayan 1 itu jangka waktu 5 tahun dibangun (dan) sudah ada listrik 900 MW di 2024, tahap 2 tahun 2025. Selanjutnya dibangun secara bertahap," ucapnya.

Sebelumnya diketahui, Kepala Staf Presiden, Moeldoko mengatakan dalam perjanjian yang ditandatangani PT PT Kayan Hydro Energy selaku pihak yang membangun PLTA dengan dua BUMN yakni PT Adhi Karya dan PT Pelabuhan Indonesia IV terdapat tiga proyek strategis nasional yang berada di Kalimantan Utara.

Tiga proyek tersebut meliputi pembangunan pembangkit listrik tenaga air yang menghasilkan listrik hingga 9.000 megawatt, pembangunan pelabuhan dan kawasan industri.

"Jadi, tiga kegiatan besar itu sekaligus dalam satu kawasan terintegrasi," kata Moeldoko saat memberikan keterangan usai penandatanganan MoU.

Moeldoko pun menegaskan bahwa KSP akan mengawal jalannya proyek yang sudah ditandatangani hari ini. "Hari ini sebuah realisasi dari apa yang sekian lama telah diperjuangkan oleh Pak Gubernur (Kalimantan Utara Irianto Lambrie)," jelasnya.

2 dari 4 halaman

Beroperasi 31 Tahun, Begini Kondisi PLTA Cirata

PT PLN (Persero) telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata selama 31 tahun, infrastruktur kelistrikan tersebut memanfaatkan aliran sungai Cirata yang dibendung.

Manager Keuangan UP Cirata, Priyono ‎mengatakan, PLTA Cirata memiliki total kapasitas 1.008 MW dibangun pada 1983 dan beroperasi komersial pada 1988 sebanyak empat unit, dua unit beroperasi pada 1997 dan dua unit beroperasi pada 1998.

"8 unit pembangkit kapasitas 1008 MW. masing-masing satu unit 126 MW,"‎ kata Priyono, di PLTA Cirata, Minggu (7/7/2019).  

‎Meski sudah tidak masuk dalam pembangkit baru lagi, ‎PLTA yang digerakan oleh air Bendungan Cirata ini masih memiliki peran besar dalam sistem kelistrikan Jawa Bali.

Priyono mengungkapkan, PLTA Cirata memiliki fasilitas khusus Automatic Generation Controldan Black Start untuk line charging. Fasilitas ini membuat pasokan listrik dari PLTA Cirata bisa cepat masuk ke sistem interkoneksi Jawa-Bali.

"Cirata bisa suplai listrik cepat sekitar 5-6 menit karena punya line charging ke sistem Jawa Bali," ‎tutur Priyono

Priyono melanjutkan, PLTA Cirata memiliki peran pemikul beban puncak sistem Jawa Bali, sehingga saat konsumsi listrik meningkat maka PLTA yang terletak di Kabupaten Purwakarta inilah menjadi salah satu andalannya untu memenuhi kebutuhan listrik.

"PLTA Memiliki peran strategis, di sistem Jawa Bali sebagai pengendali frekuensip ada sistem 500 kv dan‎ penyangga beban puncak," tandasnya.  

3 dari 4 halaman

PLTA Raja Mandala Siap Dioperasikan

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Raja Mandala siap dioperasikan komersial. Kesiapan ini setelah pembangkit tersebut mendapatkan Sertifikat Laik Operasi (SLO) dari Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

Direktur Utama PT Indonesia Power Sripeni Inten Cahyani mengatakan, PLTA Rajamandala merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Air yang dikelola PT Rajamandala Electric Power (REP), sebuah perusahaan yang dibentuk melalui kerja sama antara PT Indonesia Power dengan Kansai Electric Power Co., Inc. 

Adanya PLTA Rajamandala ini membuat PLN Grup, khususnya PT Indonesia Power menambah jumlah pembangkit listrik yang menggunakan energi baru dan terbarukan.

“Satu lagi program pengembangan pembangkit EBT telah selesai pembangunannya. Harapannya dengan ini kami bisa terus mendukung target 23 persen bauran energi (energy mix) dari program PLN” kata Sripeni, di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

PLTA Rajamandala yang berlokasi di hilir PLTA Saguling, telah selesai melaksanakan Nett Dependable Capacity (NDC) Test dan Reliability Run (RR) Test selama 3x24 jam dari rangkaian uji kelayakan.

"Kegiatan ini bertujuan untuk menguji kehandalan dan kapasitas maksimum pembangkit listrik, sebelum beroperasi secara komersial," tuturnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tragedi Kabut Asap
Loading
Artikel Selanjutnya
Pembangkit Listrik di 3 Desa Terluar Berbahan Bakar Bambu
Artikel Selanjutnya
PTPP Garap Proyek PLTU di NTT dan Sulawesi Utara