Sukses

Menhub Akui Tak Bisa Intervensi terhadap Mahalnya Harga Tiket Pesawat

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi kembali mengaku tak bisa mengintervensi keputusan beberapa maskapai yang belum menurunkan harga tiket pesawat.

"Saya melihatnya begini, bahwa apa yang terjadi saat ini adalah suatu kegiatan dari industri airlines. Saya tidak bisa melakukan suatu instruksi kepada mereka, karena mereka tidak melanggar," ucap dia di Jakarta, Minggu (24/2/2019).

Adapun permintaan untuk menurunkan harga tiket pesawat mulai bertebaran lantaran PT Pertamina (Persero) telah mengecilkan harga avtur atau bahan bakar pesawat, dari sebelumnya Rp 8.210 per liter menjadi Rp 7.960 per liter.

Saat ini, avtur menjadi komponen tertinggi dalam biaya operasional pihak maskapai penerbangan, bahkan mencapai 40 persen.

Pasca adanya penurunan harga avtur tersebut, terpantau baru Garuda Indonesia saja yang menurunkan harga tiket pesawat di seluruh rute penerbangan sebesar 20 persen sejak 14 Februari 2019 lalu.

Oleh karenanya, Menhub Budi mengimbau kepada pihak perusahaan penerbangan lain untuk mau sedikit peka dengan kemampuan daya beli masyarakat terhadap tiket pesawat.

"Saya mengimbau kepada mereka agar sensitif terhadap kemampuan masyarakat, lakukan secara bertahap. Kita boleh melakukan bisnis, tapi juga tetap harus sensitif dengan kebutuhan masyarakat," ujar dia.

2 dari 2 halaman

Harga Tiket Dipangkas, Penumpang Garuda Kembali Naik

Maskapai Garuda Indonesia mengklaim bila penurunan harga tiket pesawat 20 persen yang diterapkannya mulai 14 Februari membawa dampak yang signifikan dengan pergerakan penumpang. Terjadi kenaikan reservasi atau booking tiket pesawat hingga 27 persen.

"Jadi ketika memasuki tanggal 14 menuju tanggal 15, pemesanan tiket pesawat itu meningkat," tutur Direktur Niaga Garuda Indonesia, Pikri Ilham Kurniansyah, seperti ditulis Kamis (21/2/2019).

Penurunan harga tiket pesawat ini dilakukan atas dasar perintah Presiden joko Widodo (Jokowi) serta arahan Menteri Perhubungan dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Garuda pun menyambut baik dengan adanya kenaikan jumlah penumpang. 

Selain itu, Pikri menganggap kenaikan jumlah penumpang pada bulan Februari ini merupakan hal biasa yang merupakan bagian dari periode setelah low season di bulan Januari.

"Sebenarnya kemaren merupakan low season, dimana, memang akan terjadi per 10 Januari. Lalu, akan perlahan naik lagi di bulan Februari dan seterusnya," katanya.

Dipastikannya pun, dengan penurunan tiket tersebut tidak mempengaruhi pelayanan yang akan terus berjalan optimal dan sesuai dengan standar.

Sementara, Direktur Utama Angkasa Pura II Muhamad Awaluddin mengatakan, terkait dengan penurunan tersebut pihaknya sangat mendukung dan tentunya optimistis pergerakan penumpang khususnya di Bandara Soekarno Hatta akan meningkat.

"Angkanya belum lihat, tapi pastinya meningkat, karena sudah lewat juga low season-nya. Disini juga, kita sebagai pengelola bandara dan stakeholder harus bekerja sama agar, terus mengajak masyarakat menjadikan transportasi udara sebagai jalur berwisata," ungkapnya. 

Loading
Artikel Selanjutnya
Palembang Jadi Contoh Pembangunan Transportasi Massal Sejak Dini
Artikel Selanjutnya
Pembangunan Bandara Sukadana di Kalimantan Barat Dimulai 2020