Sukses

KAI Usul Diskon Tarif Kereta Bandara

Liputan6.com, Jakarta - PT KAI mengusulkan ada diskon tarif pada waktu-waktu tertentu untuk meningkatkan okupansi pengguna kereta api (KA) bandara.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI, Edi Sukmoro mengatakan, okupansi penumpang KA Bandara yang sempat rendah disebabkan oleh belum siapnya Stasiun Manggarai untuk melayani para pengguna yang mau berangkat menuju Stasiun Bandara Soekarno Hatta.    

"Mungkin ada hal yang tidak dimengerti, bahwa kereta bandara itu departure sama destinasinya direncakan di Manggarai, bukan di Sudirman Baru (BNI City). Karena kalau di Sudirman itu orang mau berangkat pun kesulitan mau masuk-keluarnya. Maka kita tunggu supaya Manggarai selesai," tutur dia di Jakarta, Kamis (10/1/2019).

Adapun baru-baru ini, Institut Studi Transportasi mengeluarkan hasil penelitian yang menyatakan tingkat load factor atau okupansi KA Bandara baru mencapai 26 persen dari ketersediaan ideal 60 persen.

Menanggapi hal tersebut, Edi menegaskan, pihak operator hingga saat ini terus mencari jalan lain agar KA Bandara bisa dipenuhi penumpang, semisal perpanjangan rute seperti yang telah dilakukan hingga ke Bekasi.

"Kemudian dipikirkan juga nanti diberangkatkan dari Jakarta Kota. Karena memang yang awalnya direncakan diberangkatkan dari Manggarai, Manggarainya belum selesai dikerjakan," tutur dia.

"Kita mencari solusi terus. Makanya jalan dari Bekasi. Sekarang sudah mulai meningkat karena jam-jamnya sudah kita ubah. Tapi pastinya bahwa kita berupaya supaya KA Bandara juga disukai dan diminati," tegas dia.

Pertimbangan lainnya, ia menambahkan, pihak operator juga bisa mempromosikan KA Bandara melalui adanya diskon tarif. "Saya membaca nantinya barangkali harus ada pertimbangan juga diskon di hari-hari khusus. Jadi tidak melulu menargetkan tarif," kata dia.

 

2 dari 2 halaman

Raillink Bakal Pangkas Waktu Tempuh Kereta Bandara Soetta Jadi 15 Menit

Sebelumnya, kereta api bandara terus berbenah agar menarik lebih banyak lagi penumpangnya. Pihak Railink yang mengurus KA bandara menargetkan layanan tersebut dapat lewat tiap 15 menit.

"Sebenarnya kami butuhnya per 15 menit, bukan setengah jam. Masalahnya infrastrukturnya belum siap," ucap Direktur Utama PT Railink Heru Kuswanto saat berkunjung ke kantor Kapan Lagi Youniverse pada Kamis, 15 November 2018.

Sejauh ini, Railink sudah berhasil meningkatkan kecepatan tibanya KA bandara setiap menitnya. Awalnya, KA hanya lewat sekali di atas 50 menit, kemudian dipercepat menjadi 46 menit, dan saat ini sudah ke angka per 35 menit.

Salah satu upaya yang tengah dilakukan KA bandara adalah modernisasi sistem signallingmemakai Automatic Train Protection (ATP). Teknologi itu tidak hanya meningkatkan keamanan pengoperasian kereta, melainkan bisa menambah efisiensi kecepatan.

"ATP ini teknologi Jepang. Ini otomatis, tidak tergantung masinis. Saat ini sinyal merah, kuning, hijau, dan hanya bisa dilihat kalau masinis sadar, kalau nge-blank, pikiran ke mana-mana, maka berpotensi kecelakaan. ATP menghilangkan itu, ketika merah, itu menjamin bahwa kereta tidak bisa maju," jelas Heru.

Meski ATP lebih ke jaminan keamanan, Heru menjelaskan teknologi ini memberi pengaruh juga ke para masinis agar lebih percaya diri dengan kecepatannya yang ditentukan sehingga membuat waktu tempuh lebih efisien.

Implikasinya, sistem ATP bisa menjamin pemberhentian kereta (ketika lampu merah) sehingga meningkatkan keselamatan penumpang, dan memberikan presisi pada kecepatan bergeraknya waktu kereta (ketika lampu kuning dan hijau), alhasil waktu tempuh KA bandara pun makin cepat dalam pelayanannya.

Heru menjelaskan, program ATP dibantu oleh investasi Kereta Api Indonesia pada periode 2018-2019. "Ini semoga dalam dua tiga tahun selesai. Ini akan meningkatkan kapasitas track-nya, dengan demikian nanti akan semakin cepat,"ungkapnya.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Penumpang Mabuk Bikin Keributan di Pesawat

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
KAI Target Angkut Barang 53,5 Juta Ton pada 2019
Artikel Selanjutnya
Penumpang Kereta Masa Nataru 2019 Naik 8,7 Persen, Tren Baru Angkutan Massal?