Sukses

Sri Mulyani Ungkap 4 Kunci Indonesia Keluar dari Perangkap Kelas Menengah

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, ada empat hal kunci yang harus dilakukan agar Indonesia terlepas dari perangkap pendapatan menengah (middle income trap).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengakui, hingga saat ini, sangat sedikit negara yang bisa terlepas dari middle income trap. Negara-negara tersebut seperti Singapura, Taiwan, Hong Kong, Israel, Jepang, Korea Selatan. Bahkan di kawasan Eropa sekalipun, hanya sedikit negara yang bisa lepas dari jerat ini.

"Dari middle income trap, hanya dikit di dunia yang terhindar. Range-nya USD 5.000 per kapita hingga lebih dari USD 15 ribu per kapita. Amerika itu pendapatan per kapitanya USD 10 ribu-15 ribu, itu masih ada di middle income. Dan sudah lama di middle income terus," ujar dia di Nusa Dua, Bali, Jumat (7/12/2018).

Menurut Sri Mulyani, agar Indonesia bisa terbebas dari middle income trap, maka harus melakukan pembenahan terhadap empat hal ini. Pertama, perbaiki kualitas dan produktivitas sumber daya manusia (SDM)

"Manusia produktif. Kalau Presiden fokus ke SDM, pendidikan, kesehatan dan skill. Tidak hanya soal masalah anggaran tapi mslh programnya juga. Bagaimana kembangkan program pendidikan dan pelatihan sesuai kebutuhan dan bisa cetak masyarakat yang sehat dan produktif," kata dia.

Kedua, soal ketersediaan infrastruktur. Keberadaan infrastruktur ini penting guna mendorong kegiatan ekonomi di seluruh wilayah.

"Infrastruktur itu akan meningkatkan competitiveness dan produktifitas. Yang bisa keluar dari middle income ya yang bisa sediakan infrastruktur jangka panjang. Apalagi Indonesia ini kepulauan. Maka ini menjadi penting," ungkap dia.

 

2 dari 3 halaman

Faktor Selanjutnya

Ketiga, perbaikan kualitas institusi dan cepatan birokrasi. Menurut Sri Mulyani, negara yang terlepas dari middle income trap memiliki birokrasi yang efisien dan efektif, seperti Singapura.

"Birokrasi, anti korupsi, efisiensi, kompetensi, ada di situ. Birokrat competen, efisien. Mereka itu selalu negara yang kualitas institusi public dan swastanya bagus. Indikatornya EODB, investment climate, competitiveness index, government index, reformasi birokrasi itu penting. Institusi judicial dan law enforcer. Mereka adequate payed, sehingga reliable," jelas dia.

Dan keempat, yaitu keterbukaan untuk memanfaatkan era globalisasi dan mempunyai daya saing yang tinggi.

"Policy-nya yang lewat middle income adalah yang terbuka dan mampu memanfaatkan globalisasi untuk mendorong competitiveness. Enggak ada negara tertutup yang bisa lewat keluar dari middle income. Yang terbuka itu yang disiplin," tandas Sri Mulyani.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Peserta Ganda di Program Jaminan Kesehatan Nasional Capai 5,4 Juta Jiwa
Artikel Selanjutnya
Menkeu Kaji Skema Remunerasi Kepala Daerah