Sukses

Cara agar Indonesia Keluar dari Jeratan Perangkap Kelas Menengah

Liputan6.com, Jakarta Indonesia dinilai bisa keluar dari perangkapĀ kelas menengah (middle income trap) dengan mendorong pertumbuhan kelas menangah. Sebab, dengan mendorong hal tersebut akan mencapai potensi pembangunan maksimal serta menjadi negara berpendapatan tinggi.

"Untuk itu penting mendorong pertumbuhan kelas menengah agar lepas dari jeratan middle income trap," kata Lead Economist World Bank Indonesia, Vivi Alatas dalam Seminar Indonesia Economic Outlook, di Universitas Indonesia (UI), Depok, Senin (12/11/2018).

Vivi mengatakan, kontribusi terbesar dalam pertumbuhan kelas menengah masih sebagian ditopang konsumsi rumah tangga.

"Kelas menengah adalah konsumen utama, karena pertumbuhan datang dari konsumsi. Dia yang hanya 22 persen tapi total impact-nya pengeluaran rumah tangga kelas menengah sejak 2002 tumbuh 19 persen tiap tahun. Artinya kelas menengah dapat meningkatkan multiplier efek dari peningkatan konsumsi," imbuh dia.

Vivi menilai, pertumbuhan kelas menengah juga berpotensi sebagai mesin pembangunan. Sebab di samping jumlahnya yang besar dia juga memiliki kapasitas untuk berinvestasi di sektor pendidikan.

"Pendidikan bukan hanya dia, tapi anakanya. Dia juga punya akses digital litaracy yang mampu dimanfaatkan. Jadi kelas menengah akan punya dampak lintas generasi," jelas dia.

Kemudian potensi kelas menengah tersebut menurutnya telah didominasi dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Terbukti dari 42 persen penghasilannya datang dari kelas menengah.

"Artinya kemungkinan kontribusinya lebih tinggi dari kelompok-kelompok lain. Di sini pada saat kita mendorong kelas menengah itu akan membawa dampak penciptaan lapangan kerja dan kemungkinan naik kelas," tegas dia.

Untuk memanfaatkan pertumbuhan ekonomi kelas menengah pemerintah perlu memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat untuk tumbuh menjadi kelas menengah. Kemudian memberikan kesempatan kerja yang sama serta memberikan secara maksimal perlindungan sosial.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 2 halaman

PDB Indonesia Terbesar Kelima Dunia pada 2045

Pemerintah kini sedang bekerja keras untuk mewujudkan Indonesia yang unggul, berbudaya, dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Ini bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sehingga ekonomi Indonesia dapat tumbuh maju dan berkelanjutan.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, pertumbuhan ekonomi atau PDB Indonesia ditargetkan dapat menjadi kelima terbesar di dunia pada tahun 2045.

"Sampai sejauh ini kita sudah on the right track, dan mudah- mudahan ke depan kita dapat mencapai apa yang ditargetkan di 2045. Saya juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bergandengan tangan mewujudkan visi tersebut," jelas dia dalam keterangan resmi di acara Visi Indonesia 2045, KBRI Singapura, Minggu (11/11/2018).

Bambang melanjutkan, pada 2045, total penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 318,9 juta orang, dengan rasio ketergantungan 53,35 persen. Untuk itu, Pemerintah harus memanfaatkan bonus demografi dengan mengembangkan SDM berkualitas, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, dan mempromosikan gaya hidup sehat.

"Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2036 dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar kelima dunia di tahun 2045," ujarnya.

"Untuk mencapai target ini, pertumbuhan PDB Indonesia harus 5,7 persen per tahun, keluar dari jebakan negara kelas menengah pada 2036, dan PDB per kapita Indonesia harus menembus angka USD 23.199 pada 2045," ia menambahkan.

Selain itu, lanjut dia, Indonesia juga harus masuk peringkat ke-10 dalam Ease of Doing Business (EoDB) atau kemudahan berbisnis dengan kontribusi investasi terhadap PDB Indonesia sebesar 38,1 persen.

Menteri Bambang juga menekankan, revolusi industri 4.0 harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing industri nasional, sehingga kontribusi industri terhadap PDB sebesar 26 persen pada 2045.

Adapun untuk mencapai visi Indonesia pada 2045 itu, pemerintah fokus membangun dan meningkatkan kemajuan dalam negeri melalu 4 pilar utama.

Pilar tersebut antara lain seperti Pembangunan Manusia dan Kebudayaan melalui IPTEK, Pembangunan Ekonomi yang Berkelanjutan, Pemerataan Pembangunan, serta Pemantapan Ketahanan Nasional dan Tata Kelola Pemerintahan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.