Sukses

Pemerintah Minta Dukungan Ceko agar Sawit RI Tetap Masuk Eropa

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima delegasi Senat Republik Ceko di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/9/2018). Dalam pertemuan, Jokowi meminta Senat Ceko mendukung produk kelapa sawit Indonesia di Eropa. 

"Pesan yang disampaikan adalah permintaan dukungan terhadap produk kelapa sawit Indonesia," kata Wamenlu A.M. Fachir di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin pekan ini.

Fachir menuturkan, Presiden Jokowi menjelaskan kepada Senat Ceko, sekitar 17 juta petani Indonesia menggantungkan nasibnya pada produk sawit. Oleh karena itu, perlu dukungan dan perhatian dari pelbagai pihak untuk menjaga stabilitas ekspor sawit sehingga kehidupan petani berada dalam kondisi aman.

Permintaan dukungan oleh Jokowi ini terkait dengan masih adanya kampanye hitam terhadap produk sawit Indonesia di Eropa. Indonesia kini berjuang untuk melawan kebijakan diskriminatif produk sawit dan turunannya masuk ke Eropa.

Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi sawit pada awal April 2017 lalu. Parlemen Eropa mengancam embargo minyak sawit yang dikaitkan dengan sejumlah isu lingkungan seperti deforestasi, kebakaran hutan, emisi GHG dan gambut. Bahkan, Uni Eropa merencanakan embargo penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel mulai 2021.

 

Reporter: Titin Supriatin

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Ekspor Sawit Dapat Selamatkan Neraca Dagang Indonesia

Sebelumnya, Indonesia tengah mengalami defisit neraca perdagangan yang cukup tinggi. Neraca dagang Indonesia defisit USD 2,03 miliar pada Juli 2018.

Kondisi ini terus berlanjut di tengah rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) karena impor lebih tinggi dibanding ekspor.

Ketua Umum GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), Joko Supriyono menyatakan, sektor perkebunan kelapa sawit dapat menjadi penyelamat perekonomian nasional di tengah tekanan global saat ini.

Dia mengungkapkan, ekspor minyak sawit mampu menyelamatkan neraca perdagangan nasional dari ancaman defisit yang membengkak.

"Yang dibutuhkan negara ini adalah mendorong industri yang menyerap tenaga kerja tinggi dengan devisa yang tinggi," kata Joko, di Tanjung Pandan, Belitung, Jumat 24 Agustus 2018.

Dia menuturkan, kelapa sawit merupakan industri yang menghasilkan devisa yang tinggi sekaligus juga mampu menyerap banyak tenaga kerja

"Oleh karena itu, pentingnya sawit. bagaimana dalam jangka pendek mengatasi situasi genting (defisit neraca perdagangan) saat ini," ujar dia.

Tahun lalu, ekspor minyak sawit tercatat menyumbang devisa USD 22,9 miliar dan menyerap tenaga kerja sedikitnya 6 juta orang.

"Atas keunggulan karakteristik ini, kelapa sawit semestinya didorong untuk terus menerus melakukan kegiatan ekspor. Kita perlu memperkuat peranan industri yang bisa menutup defisit neraca perdagangan ini," ujar dia.

Namun demikian, kata Joko, pengembangan industri kelapa sawit terhambat maraknya kampanye hitam dari negara-negara maju (Uni Eropa dan Amerika Serikat).

"Yang patut disayangkan, banyak masyarakat Indonesia yang percaya bahwa kampanye negatif sawit itu sebagai fakta. Oleh karena itu, kita harus mengedukasi masyarakat tentang kelapa sawit yang benar," tutur dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Video Populer Bisnis

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Persiapan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Sudah Capai 94 Persen
Artikel Selanjutnya
Johan Budi Mundur sebagai Jubir Tim Kampanye Jokowi-Ma'ruf