Sukses

Faisal Basri Desak Pemerintah Segera Salurkan Logistik lewat Laut

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom senior Faisal Basri terus mendesak pemerintah untuk memanfaatkan keberadaan laut dalam pendistribusian barang logistik.

Dia menuturkan, ongkos yang dikeluarkan negara akan jauh lebih hemat bila dapat mengelola laut sebagai jalur logistik ketimbang darat.

"Let's start dari fakta bahwa 90 persen barang di Indonesia diangkut pakai truk yang membuat ongkos logistik mahal. Karena ongkos truk itu 10 kali lebih mahal daripada laut," ungkap Faisal Basri di Jakarta, Selasa (31/7/2018).

Dia mengatakan, meminimalisir ongkos logistik via jalur laut merupakan kunci agar Indonesia semakin berdaya saing. "Caranya, supaya kita berdaya saing adalah mengurangi ongkos logistik yang mahal itu dengan semakin banyak barang diangkut pakai laut yang sekarang cuma 10 persen," tambah dia.

Namun begitu, ia menyayangkan, sektor pelabuhan sebagai titik awal jalur laut kini masih belum banyak diperhatikan. Hal itu, tambahnya, turut menyebabkan perbedaan harga barang yang sangat tinggi antar pulau.

"Istri saya kemarin dari Sumatera, sudah enak banget durian yang harganya Rp 30 ribu. Coba di sini (Jawa), Rp 150 ribu paling murah. Karena diangkutnya pakai truk," keluh dia.

"Kenapa jeruk dari China murah, soalnya diangkutnya pakai kapal," Faisal menambahkan.

Selain itu, Faisal Basri pun mencibir negara yang penyaluran barangnya 90 persen masih memakai darat. Padahal, ia menambahkan, Indonesia adalah negara yang wilayah lautnya lebih dominan.

"Ini kita negara maritim, tapi 90 persen barang diangkut pakai truk. Walaupun LPI (Logistics Performance Index) kita naik lumayan bagus, tapi tetap saja kalah dengan Vietnam, Malaysia, Thailand," tutur dia.

 

 

2 dari 2 halaman

Kemenhub Siapkan 15 Trayek Tol Laut pada 2018

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menyiapkan 15 trayek tol laut di 2018. Penunjukan operator pelaksana program tol laut tersebut dilakukan melalui penugasan dan pelelangan yang akan dilakukan pada akhir Januari 2018 atau paling lambat awal Februari 2018.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Ditjen Perhubungan Laut, Dwi Budi Sutrisno.

"Tahun 2018 ada 15 trayek untuk tol laut dimana pelaksanaan 7 trayek melalui mekanisme penugasan dan 8 trayek melalui pelelangan umum pada akhir bulan ini atau paling lambat awal Februari 2018," ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu 28 Januari 2018.

Menurut dia, efektifitas penyelenggaraan tol laut untuk trayek di 2017 sudah menunjukan hasil yang baik dan sesuai dengan harapan pemerintah. "Dengan keberadaan tol laut ini yaitu mengurangi disparitas harga antar Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian Timur," lanjut dia.

Untuk 2018, trayek-trayek tol laut tahun lalu telah disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan sehingga nantinya dapat tercapai hasil yang diinginkan secara maksimal.

"Tahun ini pola operasi Tol Laut akan diubah dengan menggunakan skema pengumpul dan pengumpan atau hub and spoke," dia menjelaskan.

Pola tersebut berbeda dengan yang dilakukan pada tahun sebelumnya, yaitu pola operasi Tol Laut menggunakan skema pelayaran langsung dengan menempatkan kapal Tol Laut di pelabuhan pangkal dan langsung berlayar ke pelabuhan di wilayah terluar, terpencil dan tertinggal.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini: