Sukses

Terkuak, Suku Maya Pernah Gunakan Cokelat sebagai Mata Uang

Liputan6.com, Jakarta - Jika Anda penggemar berat cokelat, mungkin cokelat Anda akan berpengaruh besar jika sempat merasakan hidup di era suku maya. Melansir dari laman Sciencemag, suku maya dulunya menggunakan cokelat sebagai alat tukar. 

Hal ini dibenarkan oleh antropolog dan juga ahli untuk suku maya yaitu David Freidel yang menyatakan cokelat sungguh berpengaruh pada kala itu. "Coklat sangatlah bernilai, dan ini benar-benar digunakan sebagai mata uang," ungkapnya. 

Suku maya kuno tidak pernah menggunakan koin sebagai uang mereka. Sama seperti peradaban-peradaban awal pada umumnya, mereka menggunakan sistem tukar-menukar (barter). Kolonial Spanyol di abad ke-16 mengindikasikan bahwa Eropa menggunakan biji kakao yaitu bahan dasar cokelat untuk membayar karyawan. Namun masih belum jelas apakah biji kakao ini merupakan alat tukar utama pada kala itu. 

Namun, arkeolog dari the Bard Early College Network Joanne Baron menuturkan bahwa hal ini tidaklah sepenuhnya benar. Ia menilai cokelat memang kebetulan populer di abad ke-8 kala itu. 

"Coklat sebenarnya tidak muncul di awal peradaban ini, namun memang popularitasnya semakin naik di abad ke-8. Pada kala inilah orang menggunakanya sebagai alat tukar. Ini dibuktikan dengan mural-mural yang menunjukan wanita tengah memegang mangkuk yang dialiri dengan cokelat. Jadi meskipun cokelat memang digunakan sebagai alat tukar, namun bukan berarti digunakan sebagai mata uang," tegasnya.

2 dari 2 halaman

Terbukti

Namun ada masa lain dimana cokelat memang terbuki mulai digunakan seperti koin yaitu waktu dimana suku Maya mulai memberlakukan seperti tobacco, jagung sebagai tribute atau sejenis pajak. Di titik inilah banyak digunakan biji kakao sebagai mata uang.

"Mereka banyak mengkonsumsi biji kakao, surplus produk ini yang kemudian digunakan sebagai uang untuk membayar pekerja atau membeli sesuatu di pasar," kata dia.

Meski begitu, hingga saat ini masih dalam perdebatan apakah jatuhnya peradaban suku Maya disebabkan oleh kekuasaan politik yang mengkontrol ekonomi kala itu atau memang karena kekeringan yang membuat jatuhnya suku kuno tersebut.

Loading