Sukses

17 Ribu Balita di Jakarta Alami Gizi Buruk Kronis

Liputan6.com, Jakarta - Permasalahan stunting atau gizi buruk kronis ternyata tidak hanya terjadi di daerah dan pedalaman saja. Faktanya, di ibukota pun angka penderita stunting masih cukup tinggi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro menyebutkan bahwa tingkat stunting secara nasional adalah 37 persen, dan Jakarta berada 10 persen di bawahnya.

"Bahkan di Jakarta, gak usah jauh-jauh ke NTT, di Jakarta pun tingkat stunting itu meskipun di bawah nasional 37 persen itu 27 persen. Kalau tidak salah infonya diperkirakan ada 17 ribu balita. Jadi 27 persen anak usia 5 tahun di Jakarta itu menderita stunting," kata Menteri Bambang, dalam sebuah acara diskusi mengenai gizi, di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (7/6).

Ia melanjutkan, balita penderita stunting terbanyak berada di Kepulauan Seribu.

"Menurut karakteristik, stunting kebanyakan terjadi pada anak laki-laki dan yang sudah jelas kebanyakan di desa. Di pedesaan 42 persen di perkoatan 32 persen," ujarnya.

Melihat fakta tersebut, Bambang menjelaskan bahwa stunting tidak bisa dipandang sebagai permasalahan lokasi.

Selama ini, stunting yang paling parah memang terjadi di beberapa daerah dengan tingkat stunting di atas 40 persen. Seperti NTT, Sulawesi Barat, NTB, Papua Barat, Kalimantan Selatan, Lampung, dan Sulawesi Tenggara.

"Sehingga ketika pembahasan mengenai stunting secara nasipnal di daerah-daerah, ternyata stunting ini tidak bisa dilokalisasi karena stunting terjadi di hampir semua kota dan kabupaten."

Sebagai informasi, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat gizi buruk kronis terutama pada 1000 hari pertama kehidupannya, dari janin hingga dua tahun.

Kondisi ini menyebabkan perkembangan otak dan fisik terhambat, rentan terhadap penyakit, sulit berprestasi, dan saat dewasa mudah menderita obesitas sehingga berisiko terkena penyakit jantung, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya.

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Keuntungan Bonus Demografi Bisa Terganggu Masalah Gizi Buruk

Sebelumnya, Bambang juga pernah menyebut persoalan stunting atau gizi buruk kronis merupakan masalah yang serius bagi keberlangsungan sumber daya manusia (SDM) ke depan. Mengingat Indonesia kini sudah mulai masuk masa bonus demografi yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada 2030 mendatang.

"Jadi persiapannya harus dari sekarang. Kalau kita tidak hati-hati, maka bonus demografi ini jadinya tidak menguntungkan buat kita kalau kita tidak serius soal stunting," kata Bambang pada 28 Mei 2018.

"Bonus demografi dapat dimanfaatkan kalau kita punya generasi muda yang cerdas," tambah Bambang.

Untuk diketahui, pencegahan terhadap stunting atau gizi buruk sudah menjadi prioritas nasional pemerintah dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 dan 2019. Ini sangat penting karena satu dari tiga anak balita Indonesia menderita stunting saat ini.

Pada tahun 2018, pemerintah telah fokus melakukan pencegahan dan penurunan stunting di 100 kabupaten atau kota prioritas. Angka tersebut meningkat menjadi 160 kabupaten atau kota pada 2019.

Salah satu Presenter Tina Talisa mengungkapkan, selain menjadi masalah serius, stunting berpengaruh terhadap bonus demografi Indonesia. Untuk itu, persoalan ini harus terus diangkat secara bersama-sama guna mencegah terjadinya stunting.

"Kami berharap Bappernas dan kementerian lembaga lainnya dapat mengangkat ini semua. Khawatir jika tidak dilakukan sekarang bukan menjadi bonus demografi maka menjadi demografi bencana," imbuhnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Keuntungan Bonus Demografi Bisa Terganggu Masalah Gizi Buruk
Artikel Selanjutnya
Cegah Stunting Butuh Dukungan Warga dan Organisasi Masyarakat