Sukses

Sri Mulyani: Sisi Kemanusiaan Tak Bisa Digantikan oleh Robot

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, akan banyak peran manusia yang bakal diambil alih oleh robot seiring dengan perkembangan teknologi. Namun, robot tidak akan bisa menggantikan sisi kemanusiaan.

Sri Mulyani mengungkapkan, dengan adanya perkembangan teknologi dapat memudahkan manusi‎a menjalankan aktifitas sehari-hari. Bahkan ke depan akan banyak aktifitas yang bisa dikerjakan tanpa manusia.

"Ini kita bicara yang disebut dengan smart, kalau kita ngantuk lampunya redup sendiri, kalau sudah gerah AC naik sendiri. Kita akan hidup dengan teknologi," kata Sri Mu‎lyani, saat menghadiri Learning Innovation Summit 2018, di Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Sri Mulyani melanjutkan, pendidikan yang diemban manusia selama 15 tahun dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi mungkin sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi yang ada, akhirnya robot mengambil peran yang dikerjakan manusia.

Sebab itu dunia pendidikan harus peka merespons perkembangan.

"Robot atau artificial intelligence itu hebat, kalau bicara tenaga kerja untuk motong sepatu, lem sepatu, motong baju itu adalah kerjaan yang mudah digantikan robot," tutur Sri Mulyani.

Namun menurutnya, teknologi robot boleh datang namun ada yang tidak bisa digantikan, yaitu sisi kemanusian berupa cinta, empati dan keinginan. Meski begitu, mengikuti perkembangan teknologi adalah keharusan.

"Robot teknologi boleh datang, yang tidak bisa digantikan adalah interaksi manusia, love, robot itu tidak punya cinta, empati, dan passion," tandasnya.

1 dari 3 halaman

Robot Akan Gantikan 800 Juta Pekerja

Sebanyak 800 juta pekerja di dunia akan kehilangan pekerjaannya pada 2030 dan akan digantikan oleh robot automasi. Hal tersebut dilaporkan oleh McKinsey Global Institute.

Studi yang dilakukan terhadap 46 negara dan 800 jenis pekerjaan itu menemukan, seperlima angkatan kerja global akan terpengaruh adanya automasi.

McKinsey menyebut, sepertiga dari angkatan kerja di negara-negara kaya seperti Jerman dan Amerika Serikat mungkin butuh dalam melatih warganya untuk memiliki keterampilan lain.

Menurut laporan tersebut, operator mesin dan pekerja pangan akan terkena dampak terparah.

Sementara itu, negara-negara miskin yang hanya menginvestasikan di bidang robot automasi dalam jumlah kecil hanya sedikit terdampak. Misalnya saja India. Hanya sembilan persen pekerjaan di negara asal Bollywood itu yang akan digantikan oleh teknologi.

Dikutip dari BBC, Kamis (30/11/2017), laporan itu juga melihat bahwa tugas yang dilakukan oleh makelar dan akuntan sangat rentan terhadap automasi.

Sementara itu pekerjaan yang membutuhkan interaksi antar-manusia seperti dokter, pengacara, guru, dan bartender tak begitu rentan terhadap automasi. Pekerjaan dengan upah rendah seperti tukang kebun dan perawat juga kurang terpengaruh atas automasi.

2 dari 3 halaman

Negara Berkembang

Di negara-negara berkembang, kebutuhan pendidikan tinggi akan tumbuh. Pasalnya, pekerjaan yang membutuhkan pendidikan rendah akan menyusut.

Di AS saja, 39 hingga 73 juta pekerjaan diprediksi hilang pada 2030. Namun menurut laporan McKinsey, sekitar 20 juta bekerja dapat mudah berpindah ke industri lain.

Sementara itu di Inggris, sekitar 20 persen pekerjaan akan diautomasi dalam periode yang sama.

Penulis laporan itu meyakini bahwa dunia akan melihat transisi yang terjadi pada awal 1900-an, ketika sebagai besar industri global beralih dari pertanian ke pekerjaan pabrik.

Namun, mereka mengingatkan bahwa teknologi baru akan menghasilkan jenis pekerjaan baru. Hal itu serupa dengan pengenalan komputer pribadi pada 1980-an yang memicu adanya teknologi untuk membantu bekerja dan juga bisnis online.

Penulis laporan itu juga mendesak pemerintah untuk memberlakukan rencana untuk melatih warga mereka menyusul pesatnya laju robot automasi. 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Sri Mulyani: Rupiah Terus Melemah, Krisis 1998 Tak Bakal Terulang
Artikel Selanjutnya
Sri Mulyani Ingin Jadi Guru TK Saat Masih Kecil