Sukses

PLN Turunkan Pertumbuhan Konsumsi Listrik

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN (Persero) menurunkan target pertumbuhan konsumsi listrik pada Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) 2018-2027. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan pertumbuhan ekonomi.

Direktur Perencanaan Korporat PLN, Syofvi Felienty Roekman, mengatakan, penetapan target pertumbuhan konsumsi listrik tersebut mengacu pada pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah di atas 5 persen.

Sebelumnya, dalam RUPTL 2017-2026, pertumbuhan konsumsi listrik ditargetkan 8,3 persen. Jauh lebih tinggi dibandingkan target dalam RUPTL 2018-2027 6,86 persen.

"Karena pertumbuhan ekonomi‎. Iya, aktualnya," kata Syofvi, di Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Syofvi melanjutkan, PLN juga menghitung berdasarkan realisasi pertumbuhan konsumsi listrik pada 2017 sebesar 3,57 persen. Ini faktor lain untuk menetapkan target pertumbuhan konsumsi listrik.

‎"Memang pertumbuhan permintaan kita juga turun‎ 3,57 persen. Sedih ya," ujar Syofvi.

Syofvi mengungkapkan, realisasi pertumbuhan konsumsi listrik pada 2017 ‎masih terbilang rendah. Hal ini akibat masyarakat rumah tangga yang mengerem penggunaan listrik. Di sisi lain, konsumsi yang berasal dari konsumen industri masih relatif baik.

"Rumah tangga, kalian sudah pada berhemat semua begitu lho. Pada turun. Industrinya beberapa industri besarnya bagus. Karena apa, karena harganya bagus," ujar dia.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

PLN Terangi 100 Persen Wilayah Jawa Barat

Sebelumnya, PT PLN (Persero) mengoperasikan jaringan listrik pedesaan yang tersebar di 991 desa. Hal ini juga menjadi pencanangan program Jabar Caang 2018 untuk mendorong pemerataan kelistrikan (rasio elektrifikasi) di Provinsi Jawa Barat sebesar 100 persen pada 2018.

Direktur PLN Regional Jawa Bagian Tengah, Amir Rosidin, mengatakan, dalam merealisasikan program listrik pedesaan, total investasi sepanjang 2018 mencapai Rp 144 miliar.

Dana tersebut digunakan untuk penambahan jaringan listrik sepanjang 243,432 kilometer sirkuit (kms) jaringan tegangan menengah (JTM), kemudian 782,28 kms jaringan tegangan rendah (JTR), dan 17,3 MVA gardu distribusi.

"Seluruh infrastruktur tersebut dioptimalkan untuk menjangkau wilayah-wilayah permukiman yang sulit dijangkau. Dengan keterbatasan sarana prasarana juga kondisi alam dan cuaca yang relatif sulit diprediksi," kata Amir, di Jakarta, Rabu 7 Maret 2018.

Amir menyatakan, pemerintah Provinsi Jawa Barat sangat mendukung realisasi pembangunan jaringan listrik untuk desa, melalui inisiatif dengan menyisihkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk biaya penyambungan listrik bagi warga tidak mampu.

“Karena sering kali listriknya sudah siap, tapi masyarakat tidak mempunyai kemampuan ekonomi untuk menyambungkan listrik. Kami berharap setelah terwujudnya Jabar Caang terjadi peningkatan konsumsi listrik masyarakat untuk aktivitas yang produktif sehingga memberikan kualitas kehidupan yang lebih baik lagi,” ujar Amir.‎

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengaku optimistis program Jabar Caang 2018 yang didukung PLN dan Dinas ESDM dapat terwujud. Dia pun menyerahkan penghargaan khusus kepada PLN sebagai perusahaan yang konsisten melaksanakan penyambungan listrik di pedesaan dan telah menjalin kerja sama dengan Pemprov Jabar selama 17 tahun.

“Dulu 2008 saat saya pertama kali sebagai gubernur, rasio elektrifikasi di Jawa Barat hanya sekitar 65 persen. Sekarang dalam kurun waktu 10 tahun sudah tercapai 99,87 persen. Saya sangat berterima kasih kepada PLN yang sudah 17 tahun bekerja sama dengan Pemprov Jawa Barat melalui program listrik pedesaan untuk mencapai 100 persen pada 2018 ini,” tutup Aher.

Artikel Selanjutnya
PLN Prediksi Konsumsi Listrik Saat Ramadan Bakal Naik
Artikel Selanjutnya
Pembangkit 35 Ribu MW Beroperasi, Tarif Listrik Bisa Makin Murah