Sukses

Ingin Impor LPG Murah, Kementerian ESDM Lobi Aljazair

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian ESDM turun tangan melobi pemerintah Aljazair, agar PT Pertamina (Persero) dapat membeli Liquified Natural Gas (LPG) dengan harga murah.

Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, Pertamina berpeluang impor LPG dari Aljazair, dengan perusahaan minyak dan gas bumi (migas) nasional Aljazair‎ Sonatrach.

"Ada peluang yang bisa dikerjakan Pertamina di sana, dan ada kemungkinan LPG Pertamina diimpor dari Algeria (Aljazair)," kata Arcandra, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (1/3/2018).

Arcandra menuturkan, Pemerintah Indonesia akan membantu Pertamina semaksimal mungkin dengan melobi Pemerintah Aljazair. Ini agar mendapatkan alokasi LPG sehingga bisa diimpor ke Indonesia guna memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Skemanya tetap bisnis to bisnis. Tapi Goverment to Goverment-nya pemerintah membantu semaksimal mungkin. Agar hubungannya bisa berjalan dengan sebagaimana harapan," tutur Arcandra.

Arcandra mengungkapkan, pemerintah melobi agar Pertamina mendapat harga LPG murah‎ dari Aljazair, karena impor langsung dari produsen tidak melalui pihak ketiga. Untuk kapasitas LPG yang diimpor, dia belum bisa menyebutkan karena proses negosiasi yang dilakukan Pertamina dengan Sonatrach‎ belum selesai.

‎"Angka impor belum ada, kita serahkan ke Pertamina. Kita dorong, agar pemerintah mereka bisa bantu kita sehingga kita bisa dapat harga yang murah," ujar dia.

 

1 dari 2 halaman

Cara Pertamina Dapat Harga LPG Lebih Murah

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) berencana mengimpor langsung Liqufied Petroleum Gas (LPG) dari perusahaan produsen. Langkah ini demi mendapat harga LPG yang jauh lebih murah.

Direktur Utama PT Pertamina Elia Massa Manik mengatakan, saat ini kandungan bahan baku LPG yaitu Propan (C3) dan Butan (C4) dari dalam negeri semakin menurun. Pertamina ingin mencari sumber lain dari luar negeri.

"Di domestik gas kita memang kandungan C3 C4 semakin bekurang," kata Massa, saat rapat dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis 18 Januari 2018. Dia mengungkapkan, untuk mencari pasokan LPG di luar negeri, Pertamina akan membeli langsung ke perusahaan migas nasional (National Oil Company/NOC) yang menjadi produsen LPG. Cara ini sudah dilakukan perusahaan migas nasional Malaysia Petronas dalam pengadaan LPH.

"Kita coba sumber NOC ke NOC langsung direct ke mereka, kayak Petronas mereka mendapat barangnya pasti sehingga jadwal pengapalannya teratur," papar Massa.

Dia mengungkapkan, dengan membeli langsung ke perusahaan produsen, maka pasokan LPG lebih pasti karena kontraknya jangka panjang. Selain itu, jauh lebih efisien karena harganya lebih murah dibanding membeli dari pihak ketiga.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, Pertamina sudah melakukan pendekatan dengan Saudi Aramco, perusahaan migas nasional Arab Saudi.

"Ini kita coba kita dapat long term kontrak NOC ke NOC, saya bilang ke CEO Saudi Aramco kenapa saya tidak bisa long term direct? Kalau itu bisa jauh lebih efisien, kapal kita punya tujuan past‎i," tutup Massa.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Artikel Selanjutnya
7 Perusahaan Tambang Sepakat Amandemen Kontrak Karya
Artikel Selanjutnya
Kementerian ESDM Revisi Penerapan Harga Batu Bara buat Kelistrikan