Sukses

Tol Tangerang-Merak Jajal Aspal Plastik pada 14 Desember

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah tengah berupaya mengurangi limbah plastik sebagai upaya menjaga lingkungan. Salah satu upaya yang ditempuh ialah penggunaan aspal plastik untuk campuran aspal.

Kepala Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) Danis Sumadilaga mengatakan, setelah uji coba di Bali dan Bekasi, pemanfaatan aspal plastik akan diterapkan di Tol Tangerang-Merak. Rencananya dilakukan pada 14 Desember 2017.

Pemanfaatan limbah plastik sebagai campuran aspal di Tol Tangerang-Merak ini mundur dari rencana awal November 2017. Dia bilang, realisasi mundur karena persoalan cuaca.

"Mestinya kemarin saya janji terakhir aspal plastik bulan November di Tol Tangerang-Merak. Udah tuh, tanggal 14 Desember mundur sebulan karena hujan karena janjian saja. Itu uji coba terakhir sudah kita evaluasi nanti keluar aturannya dan sebagainya," kata dia kepada Liputan6.com di Jakarta, Jumat (8/12/2017).

Danis mengatakan, aspal plastik ini akan diterapkan pada jalan akses dan rest area tol. "Saya sudah mulai dari Bali, Bekasi, Surabaya, Makassar. Makassar sudah. Bahkan di Makassar melihat proses di pabriknya bagaimana. Sekarang di tol tapi belum di jalan tolnya, di aksesnya dan di rest area," sambungnya.

Lebih lanjut, Danis mengatakan penggunaan limbah plastik sebagai campuran aspal bisa meningkatkan stabilitasnya sampai 30 persen. Selanjutnya, pihaknya akan membuat pedoman terkait pemanfaatan limbah plastik untuk campuran aspal plastik.

"Spesifikasi teknisnya caranya sudah dalam bentuk manual, petunjuk. Jadi dilakukan setiap orang, supaya menyebar. Tapi itu merupakan hasil uji coba sudah kita buktikan," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 dari 2 halaman

Ini Kelebihan Penggunaan Aspal Bercampur Limbah Plastik

Sebelumnya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berhasil mencampurkan limbah plastik sebagai bahan aspal dan menerapkannya di salah satu jalan di Bekasi, Jawa Barat. Pencampuran ini terbukti memiliki kualitas yang baik untuk jalan.

Penelitian mengenai pemanfaatan limbah plastik untuk bahan campuran aspal sudah dimulai sejak 2008 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR. Kemudian atas inisiasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, penelitian berlanjut kembali pada awal 2017.

"India sudah menerapkan hal ini lebih dulu. Mereka sudah bangun ribuan kilometer menggunakan aspal berbahan campuran limbah plastik ini," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuldjono di Bekasi, Sabtu 16 September 2017.

Potensi pemanfaatan limbah plastik di Indonesia untuk menjadi bahan baku aspal jalan di Indonesia sangat tinggi. Saat ini, kebutuhan aspal nasional sekitar 1,5 juta ton per tahun.

Apabila penggunaan limbah plastik sekitar 6 persen dari kadar aspal dengan asumsi 50 persen dari seluruh campuran beraspal menggunakan limbah plastik, maka potensi penggunaan limbah plastik untuk konstruksi jalan sekitar 0,045 juta ton per tahun.

Dengan asumsi tebal lapisan 4 cm dan lebar jalan antara 7-14 meter (m), maka untuk 1 km jalan dapat menyerap 2,5-5 ton limbah plastik. Dengan penggunaan limbah plastik ini, biaya tambahan yang diperlukan hanya sekitar 1-2 persen dari campuran beraspal konvensional, tapi kualitasnya jauh lebih tinggi.

Melihat dari ketahanan terhadap deformasi, aspal dengan campuran limbah plastik ini memiliki ketahanan alur lebih tinggi.

Untuk aspal konvensional, nilai stabilitas dinamis adalah 530 lintasan/mm sedangkan untuk campuran dengan limbah plastik 5 persen menghasilkan nilai stabilitas dinamis sebesar 1830 lintasan/mm, dan untuk campuran dengan 10 persen limbah plastik menghasilkan nilai stabilitas dinamis sebesar 4875 lintasan/mm.

"Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi akdar limbah plastik, maka campuran aspal tersebut akan semakin tahan terhadap deformasi," tegas Basuki.

Tidak hanya itu, ketahanan terhadap retak lelah untuk aspal yang menggunakan campuran lahan plastik ini lebih panjang. Hasil pengujian fatigue menunjukkan bahwa penambahan 5 persen limbah plastik akan meningkatkan ketahanan campuran terhadap retak lelah.