Sukses

Ingin Efisien, Deutsche Bank Bakal Gantikan Pekerja dengan Robot

Liputan6.com, Jakarta - Bank-bank di Jepang akan menggantikan pekerja dengan robot, kini diikuti bank dari Jerman yaitu Deutsche Bank.

Chief Executive Officer (CEO) Deutsche Bank John Cryan mengindikasikan pihaknya akan menggantikan ribuan pekerja dengan robot. Ia juga memangkas biaya dengan menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

Bank tersebut memiliki 97.000 ribu pekerja. Cryan menilai jumlah pekerjanya lebih besar dibandingkan pesaingnya. Ia menambahkan, rasio antara staf front dan back office juga membuat Deutsche tidak menjadi efisien. Oleh karena itu pemakaian teknologi diharapkan membantu bank menjadi lebih efisien.

"Di sana kami mendapatkan keuntungan banyak. Kami terlalu manual yang bisa membuat rawan kesalahan dan tidak efisien. Ada banyak pembelajaran dan mekanisme teknologi yang dapat dilakukan," jelas dia seperti dikutip dari laman the Independent, Sabtu (11/11/2017).

Deutsche Bank mengumumkan pada Oktober 2015 akan memangkas 9.000 tenaga kerja dan menghentikan operasi di 10 negara. Langkah itu sebagai bagian dari rencana restrukturisasi. Sejak saat itu, perseroan telah memangkas 4.000 tenaga kerja.

Bank lainnya juga bergulat untuk memanfaatkan kecerdasan buatan dengan baik. Dalam beberapa hal pekerjaan, teknologi dapat menggantikan jumlah pekerjaan cukup lebih besar ke depannya.

Chief Executive Citigroup Vikram Pandit menuturkan, kemajuan teknologi dapat memangkas jumlah pekerjaan di bank sebesar 30 persen dalam lima tahun ke depan. Pandit menuturkan, pemakaian robot dapat menghemat kebutuhan untuk mempekerjakan orang di back office.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 dari 2 halaman

Mantan CEO Citigroup: 30 Persen Pekerjaan di Bank Akan Hilang

Sebelumnya mantan Bos Citigroup, Vikram Pandit, mengatakan, teknologi yang makin berkembang akan menjadi ancaman tersendiri bagi para pekerja di dunia perbankan. Dalam lima tahun yang akan datang, ia memprediksi 30 persen pekerjaan di bank bisa menghilang.

Dalam wawancara dengan Bloomberg, pria 60 tahun ini mengatakan ancaman terbesar teknologi datang dari kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan robot. Dua teknologi ini akan menggantikan sumber daya manusia yang bekerja di back office.

"Saya melihat dunia perbankan beralih dari lembaga keuangan besar ke perusahaan yang sedikit lebih terdesentralisasi," tuturnya seperti dilansir dari Bloomberg, Sabtu 16 September 2017.

Prediksi Pandit ternyata sama dengan riset yang dikeluarkan Citigroup pada Maret lalu. Dalam laporan tersebut, diperkirakan 30 persen pekerjaan perbankan akan hilang selama satu dekade mendatang. Perusahaan perbankan juga akan semakin banyak menggunakan kinerja robot untuk melakukan berbagai pekerjaan.

Laporan Citi juga menyebutkan, adanya kantor cabang dan biaya staf bank membuat sekira 65 persen dari total biaya ritel dasar bank yang lebih besar. Banyak dari pekerjaan ini berisiko terkena dampak automatisasi.

Pekerjaan teller secara khusus juga terancam. Hal ini terlihat dari jumlah teller di bank AS telah menurun 15 persen sejak mencapai puncaknya pada 2007.

Negara yang mengalami pergeseran profesi perbankan terbesar adalah China. Di banyak tempat, kecerdasan buatan dan internet telah menggantikan posisi bank di Negeri Tirai Bambu ini.