Pelaku Industri Hulu Migas Kencangkan Ikat Pinggang

Pelaku usaha mengkaji ulang berbagai rencana kegiatannya yang berujung pada penundaan sejumlah proyek akibat harga minyak tertekan.

Diterbitkan 10 Mei 2016, 12:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesian Petroleum Association (IPA) menyatakan kondisi penurunan harga minyak dunia membuat pelaku industri hulu minyak dan gas bumi/migas mengencangkan ikat pinggang.

Sekretaris ‎IPA Ronald Gunawan mengatakan, industri hulu migas mengkaji ulang berbagai rencana kegiatannya yang berujung pada penundaan beberapa proyek agar bisa bertahan di tengah kondisi penurunan harga minyak dunia

"Kita kencangkan ikat pinggang. Kita lihat opex (operational expenditure) dan capex (capital expenditure). Kita restruktur juga, salah satunya beberapa proyek terpaksa kita delay. Intinya agar bisa survive," kata Ronald, dalam Focus Group Discussion (FGD) IPA, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Selasa (10/5/2016).

Baca Juga

  • Pemerintah Ubah Paradigma Pendapatan Migas
  • Harga Minyak Anjlok, Wilayah Kerja Migas RI Sepi Peminat
  • Harga Minyak Tertekan, Investor Menata Kembali Portofolio

Ronald melanjutkan, harga minyak yang berada di bawah level US$ 50 per barel, tentunya tidak ekonomis bagi sumur yang biaya produksinya di atas harga minyak. Hal itu membuat pengembangan sumur tersebut dihentikan.

"Jadi banyak juga field yang belum bisa develop. Dan melihat talent gap, orang akan banyak yang switch ke jenis industri lainnya," ujar dia.

Ronald menuturkan, penundaan kegiatan pencarian cadangan ‎minyak akan memberikan dampak panjang, yaitu menurunkan cadangan minyak Indonesia, dan menunda waktu penggantian cadangan atas minyak yang diproduksi (Replacement ratio). ‎"Replacement ratio akan menurun dan akibatnya produksi kita akan decline dan gap akan makin besar," tutur Ronald. (Pew/Ahm)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6