Sukses

Ikut WEF, Rusia Targetkan Peningkatan Investasi US$ 100 Miliar

Liputan6.com, Jakarta - World Economic Forum (WEF) menjadi salah satu ajang pertemuan bisnis antar beberapa investor beberapa negara di dunia. Kali ini Indonesia menjadi tuan rumah WEF yang ditempatkan di Hotel Shangri La, Jakarta. Sebagai salah satu peserta, Rusia mentargetkan adanya peningkatan investasi dan perdagangan dengan Indonesia dalam ajang WEF kali ini.

"‎Kami ingin ada peningkatan investasi kira-kira US$ 100 miliar dalam tiga tahun ke depan," kata Wakil Perdana Menteri Rusia, Arkady Dvorkovich saat berbincang dengan Wartawan di Hotel Shangri La, Jakarta, Minggu (19/4/2015).

Dia mengakui, saat ini investasi di negara-negara Asia Pasifik masih sangatlah kurang. Namun mengingat negara di kawasan tersebut saat ini menjadi penggerak ekonomi dunia, pihaknya akan meningkatkan investasi di negara Asia Pasifik. "Ini cuma masalah waktu. Kami sekarang memfokuskan kembali untuk berinvestasi lebih banyak di Asia Pasifik, termasuk Indonesia," jelasnya‎.

Mengenai sektor yang akan menjadi fokus Rusia, Arkady menjelaskan tidak hanya satu yang akan diutamakan, melainkan beberapa sektor mulai dari industri transportasi hingga industri alumunium. "Kami juga ingin bantu pemerintah indonesia dalam pembangunan jalur rel kereta api, juga kita tertarik dalam hal penngkatan perdagangan dan investasi di agriculture," kata dia.‎

Untuk menyatakan keseriusannya terhadap peningkatan kerjasama dengan Indonesia, Arkady dijadwalkan akan mengikuti World Economic Forum dan akan bertemu dengan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla besok siang.‎

Rencana dari Rusia tersebut sesuai dengan target dari Indonesia. Menteri Perdagangan (Mendag), Rachmat Gobel mengungkapkan, pemerintah ingin meyakinkan para pelaku usaha bahwa Indonesia merupakan negara menarik untuk berinvestasi lewat perhelatan World Economic Forum yang digelar di Jakarta pada 19-21 April 2015.

Fokus pembahasan dalam forum ini menyangkut soal perdagangan, pariwisata, ketahanan pangan, ketahanan energi, financial inclusion, infrastruktur, investasi, kesehatan yang inklusif, integrasi Masyarakat Ekonomi ASEAN.

"Event ini kami manfaatkan untuk mempromosikan, dan menjelaskan bagaimana visi misi Presiden saat ini. Pemerintah sudah banyak melakukan upaya pembenahan, penyempurnaan, merencanakan pembangunan infrastruktur," ujar Rachmat.

Sementara di sektor perdagangan, Rachmat mengaku, akan menggunakan ajang ini dan Konferensi Asia Afrika (KAA) untuk mengerek ekspor Indonesia sampai 300 persen.

Dijelaskannya, Indonesia sangat berpeluang meningkatkan kerja sama dengan Jepang. Sementara negara tujuan ekspor, seperti Afrika, Amerika Selatan, dan Eropa perlu dikembangkan.

"Sebab hambatan kita ke pasar Eropa, soal sawit, mebel. Hal ini dibahas bersama Menteri Luar Negeri, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Koperasi dan UKM," kata dia. (Yas/Gdn)