Sukses

Dari Pewarta Foto Kini Sukses Usaha Minuman Bubuk

Liputan6.com, Depok - Belasan tahun merintis karir sebagai pewarta foto, hatinya seakan mendua. Menjadi pengusaha merupakan pilihan terakhir hidup pria ini untuk membesarkan nama CV Jakarta Powder Drink (JPD).
 
Pria yang dimaksud adalah Muhammad Syakir, Pendiri sekaligus CEO JPD, produsen dan distributor bubuk minuman instan.
 
Perjuangan pria kelahiran Makassar patut diacungi jempol karena semangat berwirausaha bagaikan kobaran api yang terus menyala dalam dirinya. 
 
Syakir begitu panggilan akrabnya, mulai percaya diri berbisnis sejak 2003. Saat itu gejolak mudanya bernafsu membuka usaha warung kelontong.
 
Padahal saat itu dia sudah bekerja menjadi juru foto di salah satu media ternama. Namun karena dibangun tanpa berpikir panjang, perputaran roda usaha kelontongnya berhenti seketika dan gulung tikar. 
 
Perjalanan hidup Pria suku Bugis ini berlanjut. Syakir kembali menjajal peruntungan di usaha bengkel. Sambil mengerjakan tugasnya sebagai wartawan, dia melakoni bisnis tersebut.
 
Lagi-lagi, usaha bengkel harus tutup. Hingga takdir membawanya pada sebuah usaha minuman bubble yang mulai beredar di pusat-pusat perbelanjaan besar.
 
Sarjana Komunikasi Kelahiran Makassar, 1972 silam ini melirik peluang pasar minuman bubble kaki lima. Pada 2011, bisnis minuman bubble sangat terbuka lebar, terutama kaki lima karena kawasan pemukiman belum tersentuh usaha ini. 
 
"Saya memutuskan membeli franchise minuman bubble sekira Rp 6 jutaan. Itu modalnya dari hasil gadai motor Rp 4 juta ditambah gadai televisi," ujar Syakir saat berbincang dengan Liputan6.com di Perumahan Wisma Mas Blok B3 No 40 Pondok Cabe, Cinangka, Depok.
 
Dengan harga jual jauh lebih rendah dari harga mal, minuman bubble racikan Syakir dan istri mendapat respons luar biasa dari masyarakat setempat terutama anak-anak.
 
Penjualannya sukses menembus 100 cup per hari, sehingga hatinya semakin menggebu menggeluti bisnis minuman bubble. 
 
Rasa penasaran membawa keinginan Syakir untuk mendalami bahan baku minuman bubble. Hal ini bermula dari ketidakpuasannya meraup untung tipis karena boros bahan baku, dengan menggunakan bahan baku berbentuk sirup plus bubuk. 
 
Akhirnya alumni Universitas Ibnu Chaldun itu sempat menjadi distributor daerah bubuk minuman bubble di Makassar pada 2011 dan distributor tunggal di Jakarta di 2012. Tapi sayang hasilnya nihil karena usaha tak berkembang. Modal puluhan juta pun melayang. 
 
"Kalau di total-total sejak saya buka usaha kelontong sampai distributor tunggal di 
Jakarta, sudah hilang modal Rp 200 juta," cerita Syakir mengorek masa lalu. 
 
Namun kebaikan masih berpihak padanya. Dari kegagalan dan pengalaman itu, dia mulai belajar menggali ilmu dari orang-orang yang berkecimpung di bisnis minuman bubble terkait kandungan dan cara meracik. 
 
Setelah meramu sendiri bahan baku bubuk instan minuman bubble selama enam bulan, hasilnya sungguh di luar dugaan. Setiap tester yang diracik dari tangannya sukses disukai anak-anak. Bahan baku bubuk itu terdiri dari coklat, kopi dan teh. 
 
Bahan Baku Impor
 
Bermodal pinjaman bank sebesar Rp 300 juta, Syakir membeli mesin untuk mencampur bahan baku seharga lebih dari Rp 50 juta. Dan porsi modal paling besar tersedot ke bahan baku yang masih harus diimpor dari beberapa negara melalui distributor di Indonesia. 
 
Sebagai contoh bahan baku kopi dan teh. Keduanya impor dari China dan Singapura. Bahkan ada jenis kopi yang harus diboyong dari Eropa. Sementara bahan baku coklat berasal dari dalam negeri karena kualitasnya cukup bagus.  
   
Semua bahan baku dicampur sesuai rasa yang ingin dibuat. Saat ini, Syakir mampu memproduksi bubuk minuman sebanyak 34 rasa dan terbagi pada empat kategori. Kategori kopi, seperti tiramisu, mochacino, cappucino, banana coffee, avocado coffee dan lainnya. 
 
Kategori bubuk coklat, diantaranya rasa creamy coklat, caramel coklat, banana coklat, strawberry coklat dan sebagainya. Kategori teh, yakni thai tea, teh tarik, green tea, milk tea, green tea latte serta kategori bubuk buah-buahan ada mangga, anggur, blueberry, lecy, strawberry dan sebagainya. 
 
"Kami dibantu tiga orang karyawan nge-mix bahan baku 30 menit sampai satu jam untuk 100 kilogram (kg) ke atas. Produksi per hari minimal 200 kg sebanyak 2 rasa atau 4 rasa sebanyak 50 kg," jelas Syakir.
 
Dia menyebut, keunggulan produk bubuk minuman JPD dibanding kompetitor ada pada harga, kualitas dan kemasan apik mengikuti standar mulai dari label hingga pencantuman komposisi bahan.
 
Dengan kualitas bahan baku bisa panas dan dingin tanpa menambah takaran, bubuk minuman buatan Syakir dibanderol seharga Rp 60 ribu per kg. Sedangkan untuk produk thai tea dan teh tarik seharga Rp 65 ribu per kg. Pihaknya juga menawarkan produk bubuk minuman ukuran 25 kg.
 
"Kalau produk bubuk minuman kompetitor biasanya cuma untuk ice blend saja. Dan harganya pun bisa mencapai ratusan ribu per kg," sambung Pria yang gemar bermain sepakbola itu.
 
Bidik Segmen Pengusaha Baru sampai Kafe
 
Saat ini, JPD tengah fokus untuk menggarap segmen pasar kafe dan restoran. Syakir beralasan, pangsa pasar tersebut tumbuh subur di kota-kota metropolitan.
 
Keberadaannya menggurita seiring dengan tren masyarakat perkotaan. Meski begitu, Suami dari Wahyuni ini tetap merangkul para pengusaha yang baru merintis usaha minuman bubble. 
 
Syakir, pemilik motto "Berani Bermimpi" ini mengaku, JPD telah memasok produk bubuk minuman ke beberapa kafe dan restoran di beberapa daerah seperti Jakarta, Bekasi, Depok, Bandung, Makassar.
 
Sebut saja, Kafe Toraja, Hip-hip Bubble yang terkenal di Kota Kembang dan sudah membuka 18 outlet, Mr Dee Bubble yang merajai Bekasi, D'Frozen di Depok dan masih banyak lainnya. "Kami juga ingin memasok bahan baku ke Kinabalu, Malaysia tapi lewat produk orang lain," katanya. 
 
Penasaran soal omzetnya?. Dari jualan produk bubuk minuman instan, Syakir bisa mengantongi omzet kotor sekira Rp 300 juta.
Pendapatan itu berasal dari penjualan produk yang mencapai 4-5 ton bubuk minuman per bulan.
 
Produk dengan penjualan terbaik didominasi varian cappucino dan creamy coklat sekira 1,5-2 juta ton per bulan. Sementara vanilla latte, coklat dan coklat karamel di bawah itu. "Penghasilan bersihnya jauh lebih besar dari gaji pemimpin redaksi," cetus dia sumringah. 
 
Distributor & Agen Jadi Ujung Tombak
 
Bertahan selama dua tahun dalam bisnis bubuk minuman instan tidak terlepas dari peran marketing distributor dan agen JPD.
 
Tercatat sudah ada enam distributor yang setia menjual produk JPD, yaitu di Makassar, Surabaya, Serang, Bogor, Bandung dan Depok. Sedangkan agen baru ada dua di Pemalang dan Tegal. 
 
Syakir tidak saja berpangku tangan dan melepaskan seluruh urusan pemasaran pada distributor. Namun dia ikut menjemput bola menawarkan produknya dari satu kafe atau restoran ke kafe lain.
 
Ternyata inilah yang menjadi kekuatannya dalam menghadapi gempuran maupun persaingan ketat di industri bubuk minuman instan. 
 
"Kami belum mampu bayar marketing, makanya terjun sendiri. Tapi kami ada sistem marketing fee," tutur Ayah dari Kamilah Putri Syawal dan Kairo Putra Syawal ini. 
 
Supaya tertarik, Syakir menyodorkan penawaran mudah dan murah bagi siapapun yang ingin bergabung menjadi distributor dan agen JPD.
 
Syaratnya bagi distributor, minimal pengambilan produk 500 kg dengan harga Rp 52 ribu per kg dan 250 kg bagi yang tertarik menjadi agen. 
 
"Distributor minimal pengambilan 500 kg beberapa varian rasa, investasinya Rp 26 juta. Dan modal untuk agen dengan minimal pembelian 250 kg sebesar Rp 14 juta," katanya. 
 
Ambisi Bangun Pabrik & Sejajar dengan Nestle 
 
Syakir mengaku, industri bahan baku bubuk minuman instan membutuhkan banyak pelaku usaha yang serius di jalur ini.
 
Pasalnya persaingan hanya didominasi tiga perusahaan raksasa, J.Co, Nestle dan Good Day. Padahal permintaan terhadap bahan baku bubuk minuman sangat tinggi. 
 
"Pesaing belum banyak, prospek luar biasa besar terutama untuk bahan baku kopi, teh dan coklat. Masyarakat gemar sekali minum minuman itu di manapun termasuk di kafe dan restoran. Mau santai, lagi meeting minumnya kopi, teh atau coklat," ucapnya. 
 
Ceruk pasar menggiurkan ini ingin dimanfaatkan Syakir untuk membesarkan nama JPD. Menjadi salah satu pemain yang patut diperhitungkan dalam industri bubuk minuman instan di Tanah Air. Targetnya empat tahun ke depan. 
 
"Saya ingin punya pabrik sendiri seperti J.CO, bahkan bisa sejajar dengan Netle. Jika butuh waktu dua tahun memperkenalkan JPD, target saya bisa bangun pabrik skala besar empat tahun mendatang," harap dia yang saat ini menempati ruangan seadanya untuk memproduksi produk JPD. 
 
Dalam waktu dekat, paling cepat akhir tahun ini, Syakir berencana memproduksi popping boba berbentuk agar-agar yang sangat enak rasanya sebagai pelengkap bubuk minuman instan JPD. Saat ini, JPD tengah tahap uji coba produk setelah memperoleh pengalaman dari demo mitra kerja asal Jepang.
 
"Bahan baku sudah ada tinggal alatnya saja belum tahu harganya. Kalau berhasil tahun ini, saya bisa jadi orang pertama yang produksi popping boba. Karena selama ini produk itu harus diimpor," tutup Syakir mengakhiri perbincangan. (Fik/Nrm)
Loading