Defisit Kembar RI Curi Perhatian Bank Prancis

Kegagahan Indonesia di panggung ekonomi yang mulai ditunjukkan sejak awal tahun ternyata tak mampu bertahan lama.

Diterbitkan 18 Juni 2014, 23:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Paris - Kegagahan Indonesia di panggung ekonomi yang mulai ditunjukkan sejak awal tahun ternyata tak mampu bertahan lama setelah defisit anggaran dan transaksi berjalan di Indonesia kembali membesar. Defisit anggaran dan transaksi berjalan yang membengkak sejak April itu rupanya mencuri perhatian perusahaan jasa perbankan multinasional asal Prancis, Societe Generale.

Mengutip laman CNBC, Rabu (18/6/2014), perusahaan tersebut memperingatkan Indonesia untuk segera mengatasi kedua jenis defisit yang kini kembali menjelma menjadi ancaman bagi perekonomian di Tanah Air.

"Pemerintah Indonesia tampaknya terlalu cepat mengumandangkan kemenangannya di bidang ekonomi," ungkap ekonom Societe Generale Kumar Kundu dalam laporannya.

Menurut ekonom perusahaan global tersebut, larangan ekspor mineral mentah, ekspor minyak sawit dan batu bara yang lebih rendah dari produksi serta jatuhnya produksi minyak telah memperburuk keadaan defisit di Indonesia.

Bank tersebut mengkoreksi target defisit transaksi berjalan Indonesia menjadi 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sebelum itu, perusahaan tersebut menargetkan defisit anggaran membengkak menjadi 2,5 persen dari 2 persen.

Sejak pertengahan tahun lalu, ekonomi Indonesia memang telah menerima hantaman keras dari penarikan saham yang dilakukan asing. Kala itu, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mengumumkan akan menarik dana stimulusnya.

Tingginya defisit transaksi berjalan membuat Indonesia sulit keluar dari ketergantungannya dari dana asing. Sementara pembengkakkan defisit anggaran dan transaksi berjalan membuat Indonesia berpotensi mengalami tekanan finansial dan aksi jual kembali.

Kundu menilai, faktor utama yang menyebabkan ekonomi Indonesia mulai oleng adalah aksi pemerintah melarang ekspor mineral mentah pada Januari.

"Hasil dari larangan tersebut adalah terhentinya ekspor bijih nikel dan tembaga, sementara ekspor bauksit terus melemah," tandasnya. (Sis/Ahm)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6