Liputan6.com, Jakarta - Inflasi medis membuat biaya berobat melejit lebih cepat dari harga kebutuhan lain, sehingga menekan industri asuransi kesehatan.
Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah Vivin Arbianti Gautama mengakui penyesuaian premi masih akan terus dilakukan. Ia menyebut inflasi medis kini 17,8%.
Advertisement
"Saat ini, inflasi medis sudah 17,8%. Itu berarti tujuh kali lipat dari inflasi umum. Jadi tinggi sekali inflasinya," ujar Vivin di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Angka itu sejalan dengan proyeksi Mercer Marsh Benefits, yang menempatkan Indonesia tertinggi di Asia dengan rata-rata kawasan 12,5%. Inflasi umum Indonesia diproyeksikan sekitar 2,5%.
Soal premi, Vivin tak menutup kemungkinan penyesuaian berlanjut.
"Terkait dengan inflasi medis, kita tentu saja akan menyesuaikan," kata dia.
Ia menambahkan penyesuaian sudah dilakukan dalam empat tahun terakhir. Alasannya terkait cara kerja asuransi syariah. Kontribusi peserta dikumpulkan dalam dana tabarru’ dan dipakai membayar klaim, terpisah dari dana pemegang saham.
“Kalau dana tabarru'-nya tergerus, kita tidak bisa membayar klaim lagi. Kita harus menjaga sustainability dari dana tabaru,” ujarnya. “Kalau kosong, nanti kita bayar klaimnya pakai apa?”
Tekanan klaim itu nyata. Menurut Vivin, pada semester I perusahaan telah membayar klaim Rp 1,1 triliun kepada 35 ribu peserta.
"Kita sudah punya track record dengan pembayaran klaim Rp 1,1 triliun ke 35 ribu peserta. Itu hanya semester satu," ungkapnya.
Ketahanan dana sendiri tercermin dari rasio Risk Based Capital (RBC). Dana tabarru' tercatat 225%, sementara dana pemegang saham 2.000%.
"Padahal yang ditetapkan 120%, kita 2000%," kata Vivin. Ia menambahkan, "Semakin besar rasio klaim, makin menggerus tabarru'."
Prudential Syariah Teken MoU dengan BPJS
Perusahaan, menurut Vivin, mengikuti ketentuan OJK, termasuk POJK Nomor 36 Tahun 2025 tentang Penguatan Ekosistem Asuransi Kesehatan.
Sementara, terkait Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan peresmian Task Force KAPJ (Koordinasi Antar Penyelenggara Jaminan) oleh OJK dan Kemenkes pada 3 September lalu, ia mengaku telah meneken nota kesepahaman dengan BPJS yang disaksikan Menteri Kesehatan, dan masih menunggu arahan selanjutnya.
"Jadi kita sudah ada MoU. Tentunya tahap selanjutnya kita menunggu dari arahan dari OJK dan juga dari Departemen Kesehatan dan juga BPJS, karena banyak sekali dari sisi teknologi yang harus dipersiapkan," kata Vivin.
“Pilihannya, pakai produk yang existing atau kita bikin produk baru. Tentu saja ini masih tahap diskusi,” ujarnya.
Vivin menyebut literasi asuransi syariah naik dari 19% pada 2023 menjadi 43%–45%, merujuk riset OJK.
"Inklusinya yang harus kita naikkan. Sudah tahu, sudah dengar, tapi mungkin belum paham benar-benar," ujarnya.
Dari sisi kinerja, Chief Operations Officer Prudential Syariah Ahmeer Ud Deen menyebut kontribusi pada semester I tumbuh sekitar 12% dibanding 2025. Menurut dia, pangsa pasar perusahaan juga membaik dalam enam bulan terakhir.
"Pangsa pasar kami justru meningkat dalam setengah tahun terakhir, dan kontribusi kami juga tumbuh sekitar 12% dibandingkan tahun 2025. Jadi, menurut saya, Prudential Syariah menunjukkan kinerja yang sangat kuat di semua lini," ungkap Ahmeer.
Vivin menambahkan, total kontribusi perusahaan mencapai Rp 2,1 triliun, sementara aset investasi tumbuh 19% menjadi Rp 7,4 triliun. Menurut perusahaan, pangsa pasarnya 23% dan menempatkannya sebagai pemimpin pasar.