Rupiah Ditutup Melemah, Pasar Waspadai Arah Suku Bunga The Fed

Rupiah melemah ke 17.938 per dolar AS. Kenaikan inflasi AS menjadi 3,7 persen memperkuat tekanan terhadap mata uang Garuda.

Diterbitkan 15 Oktober 2026, 16:45 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Kamis. Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sentimen global, terutama kenaikan inflasi AS yang memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed).

Di dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati langkah stabilisasi Bank Indonesia (BI) dan perkembangan konsumsi domestik.

Pada Kamis (15/10/2026), rupiah ditutup melemah 35 poin atau 0,20 persen ke level 17.938 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi 17.903 per dolar AS.

Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Kurs JISDOR tercatat 17.948 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya 17.898 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi upaya stabilisasi BI dan perkembangan fundamental ekonomi nasional.

Ia menilai kondisi konsumsi domestik masih relatif terjaga. Hal itu tercermin dari pertumbuhan penjualan eceran yang meningkat pada Agustus 2026.

“Penjualan eceran Agustus tumbuh 1,3 persen secara tahunan, meningkat dari 1,1 persen pada Juli, sementara penjualan eceran September diprakirakan tumbuh 1,4 persen,” ucapnya dikutip Antara.

 

inflasi Amerika Serikat

Meski konsumsi domestik menunjukkan ketahanan, pergerakan rupiah masih dipengaruhi dinamika arus modal asing dan kebutuhan valuta asing. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran dolar AS di pasar domestik.

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah datang dari penguatan dolar AS setelah inflasi Amerika Serikat meningkat. Inflasi AS pada September 2026 tercatat 3,7 persen secara tahunan, naik dibandingkan 3,4 persen pada Agustus.

Kenaikan inflasi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Pasar juga mencermati kemungkinan bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga.

Ekspektasi suku bunga tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS. Kondisi ini berpotensi mendorong aliran modal ke pasar AS dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Kondisi ini berpotensi mendorong aliran modal menuju aset berdenominasi dolar AS dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ungkap Amru.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6