Trump Ancam Setop Penjualan Bombardier di AS

Di tengah meningkatnya ketegangan negosiasi perdagangan Amerika Serikat (AS) dan Kanada, Presiden Donald Trump mengancam Bombardier.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 08 September 2026, 21:15 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis (29/1/2026). (Dok. AP/Allison Robert)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memperingatkan perusahaan pesawat Kanada Bombardier kalau tidak dapat lagi menjual pesawat di AS kecuali memindahkan produksi ke AS.

"Tidak Lagi Menjual Bombardier di Amerika Serikat!,” tulis dia dalam unggahan Truth Social pada Senin, (8/9/2026), dikutip dari BBC.

"Jika mereka menginginkan pasar kita, mereka harus membangunnya di sini, dan berhenti memperlakukan Amerika seperti celengan,” tulis dia.

Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya perang dagang antara kedua negara itu, dan beberapa jam sebelum tarif pembalasan Kanada dikenakan terhadap barang-barang AS senilai US$ 20 miliar atau Rp 352,46 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.620).

Dalam sebuah pernyataan, Bombardier mengatakan pihaknya mempekerjakan ribuan pekerja Amerika Serikat dan menghargai kemitraannya dengan perusahaan-perusahaan AS.

BBC telah menghubungi kantor Perdana Menteri Mark Carney untuk memberikan komentar.

Tidak jelas bagaimana Trump bermaksud memblokir Bombardier melakukan bisnis di AS.

Perusahaan yang berbasis di Montreal ini telah mengoperasikan pabrik di negara bagian Kansas, AS, yang memproduksi pesawat militer misi khusus, dan mempekerjakan 3.500 pekerja Amerika.

Ia juga mengoperasikan lokasi di Texas, Arizona, Florida, Connecticut, Illinois, Delaware, California, DC dan New Jersey.

Sekitar separuh dari armada pesawatnya, sebanyak 5.100 unit dioperasikan oleh pelanggan Bombardier yang berbasis di Amerika Serikat.

Dalam sebuah pernyataan pada Senin, Bombardier tidak menanggapi ancaman Trump secara langsung, namun menyatakan bahwa kegiatan operasionalnya "menciptakan puluhan ribu lapangan kerja di AS melalui kehadiran perusahaan yang terus berkembang di Amerika Serikat.

"Bombardier menghargai kemitraan yang erat dengan perusahaan-perusahaan Amerika serta para karyawan kami di AS," demikian bunyi pernyataan tersebut.

"Rencana kami adalah untuk terus berinvestasi pada sumber daya manusia, pelanggan, dan masyarakat di wilayah tempat kami beroperasi di seluruh negeri,” tulis perseroan.

 

Kontribusi Bombardier

Ilustrasi bendera Kanada. (Unsplash/sebastiaan stam)

Menurut situs web perusahaan, jet-jet Bombardier diproduksi di berbagai fasilitas yang berlokasi di Kanada, AS, dan Meksiko. Pesawat-pesawat tersebut juga memenuhi ketentuan perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara yang ditandatangani oleh Trump pada masa jabatan pertamanya, yang dikenal sebagai CUSMA di Kanada dan USMCA di AS.

Perusahaan ini merupakan salah satu yang terbesar di Kanada, dengan kontribusi sebesar US$ 5,4 miliar atau Rp 95,16 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut pada 2024, menurut laporan yang ditugaskan oleh Bombardier.

Perusahaan ini juga menjadi salah satu penyedia lapangan kerja terbesar di sektor manufaktur Quebec.

Pembicaraan perdagangan antara Kanada dan AS gagal mencapai kesepakatan pada akhir bulan lalu setelah Kanada meninggalkan meja perundingan; tak lama kemudian, AS memberlakukan tarif baru sebesar 50% terhadap sejumlah produk asal Kanada.

Perdana Menteri Carney menuduh pemerintahan Trump mengajukan persyaratan di saat-saat terakhir yang dinilai "tidak adil" dan "tidak masuk akal secara ekonomi", sementara pejabat AS menuduhnya menolak menandatangani kesepakatan karena alasan politis, yakni ketidakpopuleran Trump di Kanada, sebuah tuduhan yang ia bantah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya