Liputan6.com, Jakarta - Jutaan orang memadati jalan-jalan Teheran pada Senin, 6 Juli 2026, untuk mengikuti prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Dikutip dari The Guardian, Senin (6/7/2026), para pelayat bergerak dari timur ke barat Teheran, melintasi kota dari Lapangan Revolusi menuju Lapangan Azadi, setelah rangkaian prosesi pemakaman dua hari yang digelar di Masjid Agung Masalla, Teheran.
Advertisement
Para peserta mengenakan pakaian serba hitam dan membawa bendera bertuliskan slogan “We will rise”. Sebagian lainnya mengibarkan bendera Iran serta poster bergambar Khamenei.
Stasiun metro Teheran dilaporkan penuh sesak oleh warga yang berusaha ikut bergabung dalam arak-arakan. Di tengah kerumunan, mereka meneriakkan,“Mourning is mourning today, mourning day is today. Martyr Khamenei is before God today.”
Khamenei disebut tewas akibat serangan bom Israel pada Februari, dalam operasi yang bertujuan mengguncang dan pada akhirnya menggulingkan pemerintahan Iran.
Prosesi pemakaman ini diperkirakan berlangsung 10 jam hingga 12 jam. Besarnya massa menjadi faktor utama karena hanya sebagian kecil orang yang bisa masuk ke Masjid Masalla yang berukuran besar secara bergantian.
Pada Minggu, jajaran pimpinan Iran yang tersisa akibat serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Israel menghadiri salat pagi. Satu-satunya yang absen adalah pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei yang kini ditetapkan sebagai penerusnya.
Pejabat Iran menyebut ketidakhadirannya bukan karena luka akibat serangan Israel ke gedung kepresidenan, melainkan alasan keamanan.
Jadi Cerminan Bagi Dunia Barat
Presiden Iran Masoud Pezeshkian memuji sikap massa pelayat dan menyampaikan harapan agar apa yang terjadi di Teheran dapat menjadi cerminan bagi dunia Barat untuk mengevaluasi sikapnya terhadap Iran.
“Jika saya ingin mengatakan sesuatu, hanya sedikit penutur bahasa Persia yang akan memahami, tetapi perilaku dan kehadiran rakyat dapat dipahami oleh seluruh dunia," kata dia.
Lebih dari 300 jurnalis asing, selain wartawan yang berbasis di Iran, diberikan visa khusus untuk meliput pemakaman ini sebagai bagian dari upaya menunjukkan solidaritas nasional.
Pezeshkian juga menekankan pentingnya konsensus di antara elit politik Iran. “Saya tidak menerima ini sebagai perpisahan. Ini adalah janji untuk terus melanjutkan jalan yang telah ditempuh. Ini bukan perpisahan, melainkan komitmen untuk melanjutkan," ungkapnya.
“Dengan perang ini, musuh memang mengacaukan peta kawasan, tetapi pada saat yang sama justru memperkuat persatuan umat Muslim dan membuat dunia lebih sadar terhadap isu hak asasi manusia,” tutup dia.