Sentimen Global Membaik, Aktivitas di Selat Hormuz Masih jadi Perhatian

Seiring harga minyak bertahap mulai normal dan kekhawatiran terhadap inflasi karena harga energi meningkat telah memudar. Hal ini menjadi sentimen positif.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 06 Juli 2026, 06:00 WIB
Sampai pembukaan perdagangan Rabu 4 Maret 2026, harga minyak masih berada di atas US$ 80 per barel. Tampak foto yang menunjukkan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Aral di Bochum, Jerman, pada Rabu 4 Maret 2026. (Ina FASSBENDER/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar global menunjukkan sentimen yang lebih konstruktif pekan lalu seiring harga minyak terus normal mendekati level sebelum perang. Hal ini didukung peningkatan akvitas kapal tanker melalui Selat Hormuz dan negosiasi Amerika Serikat (AS)-Iran yang berlanjut.

"Pasar kini memprediksi probabilitas guncangan pasokan energi yang berkepanjangan lebih rendah, terutama karena pengiriman melalui Hormuz telah membaik dan pasokan jangka pendek terllihat lebih nyaman,” demikian seperti dikutip dari Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Senin (6/7/2026).

Ashmore menilai, hal ini positif untuk harapan inflasi global, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), dan pasar negara berkembang.

"Namun, perbaikan ini tetap rapuh karena kesepakatan Amerika Serikat (AS)-Iran belum final, dan gangguan baru di sekitar Hormuz dapat dengan cepat membangun kembali risiko minyak,” demikian seperti dikutip.

Di sisi lain, data makro Amerika Serikat (AS) pekan lalu memberikan sinyal yang beragam. Tingkat pengangguan sedikit menurun menjadi 4,2%, tetapi data nonfarm payrolss lebih lemah dari yang diharapkan yakni 57 ribu, dari prediksi 110 ribu. Ini menunjukkan pasar tenaga kerja kehilangan momentum.

Bagi the Federal Reserve (the Fed), hal ini menciptakan gambaran lebih rumit karena data tenaga kerja lebih lemah mendukung sikap kurang agresif. Namun, inflasi tetap di atas target, dan pembuat kebijakan kemungkinan akan menunggu bukti yang lebih jelas sebelum bersikap lebih lunak.

“Pasar masih memperkirakan satu kenaikan suku bunga pada akhir 2026,” demikian seperti dikutip.

Selain itu, dari sisi domestik, data makro ekonomi terbaru Indonesia menciptakan nada lebih hati-hati. Inflasi tahunan utama naik menjadi 3,34% pada Juni, di atas harapan dan mendekati batas atas kisaran target Bank Indonesia.

Neraca perdagangan juga secara tak terduga defisit US$, 1,61 miliar pada Mei dibandingkan dengan ekspektasi surplus menimbulkan kekhawatiran atas tekanan neraca eksternal dan stabitas rupiah.

“Meskipun harga minyak global yang lebih rendah, seharusnya membantu ke depannya. Bank Indonesia kemungkinan akan tetap berhati-hati dalam kebijakannya,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

 

Sentimen Domestik

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Untuk saham Indonesia, sentimen eksternal telah membaik karena harga minyak lebih rendah dan risiko global lebih baik. Akan tetapi, beberapa tekanan domestik masih tetap ada.

“Kami memperkirakan pasar akan tetap terkonsentrasi pada perusahaan-perusahaan yang likuid, transparan dan fundamental kuat. Sementara itu, saham yang spekulatif akan terus diperdagangkan dengan harga diskon hingga kepercayaan terhadap pelaksanaan reformasi membaik,” demikian seperti dikutip.

Sementara itu, untuk pasar obligasi, harga minyak yang lebih rendah mendukung karena mengurangi inflasi impor dan kekhawatiran neraca transaksi berjalan. “Namun, inflasi domestik lebih kuat, dan defisit perdagangan menurunkan kemungkinan pelonggaran kebijakan dalam jangka pendek,” kata dia.

Secara keseluruhan, minggu lalu membawa kelegaan bagi pasar global karena harga minyak kembali normal dan kekhawatiran akan guncangan energi yang berkepanjangan secara bertahap memudar.

Untuk Indonesia, data domestik menciptakan suasana yang lebih hati-hati, dengan inflasi yang meningkat dan neraca perdagangan yang bergerak menuju defisit. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan minggu ini termasuk arus pengiriman di Selat Hormuz yang belum pulih secara signifikan dan implementasi berkelanjutan reformasi pasar Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya