Luhut Ungkap Penyebab Orang Miskin Makin Banyak

Luhut Binsar Pandjaitan menduga kenaikan harga menjadi salah satu penyebab bertambahnya penduduk miskin meski ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5 persen.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 24 Juni 2026, 16:00 WIB
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sekaligus Ketua Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah (KPTDP), Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Liputan6.com/Maulandy R)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan telah melakukan kajian terkait fenomena bertambahnya jumlah penduduk miskin di Indonesia di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih berada di atas 5 persen.

Berdasarkan hasil penghitungan tim DEN, Luhut menduga salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan angka kemiskinan adalah kenaikan harga barang dan jasa. Namun, ia belum merinci data yang menjadi dasar kajian tersebut.

"Jadi bisa mungkin karena kenaikan harga. Dewan Ekonomi sudah menghitung mengenai itu. Ada datanya saya enggak ingat," ujar Luhut saat ditemui di kantornya di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Meski demikian, Luhut tetap optimistis perekonomian Indonesia dapat terus tumbuh tanpa meninggalkan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Menurut dia, pemerintah perlu memastikan berbagai program berjalan lebih efisien dan mampu memanfaatkan bonus demografi secara maksimal.

"Kita kan harus perhatikan efisiensi. Efisiensi juga target yang kita kerjakan. Kemudian kita juga harus betul-betul menyadari semua bersama bahwa bonus demografi itu akan habis 10 tahun dari sekarang," tuturnya.

"Jadi kalau kita tidak bekerja dengan baik, maka 2045 itu nanti sulit tercapai. Tapi kalau kita semua kompak, itu saya kira enggak ada masalah," kata Luhut.

 

Pertumbuhan Ekonomi Belum Dinikmati Merata

Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri penutupan Munas-Konbes NU di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). (Dok. Tangkapan Layar YouTube @sekretariatpresiden)

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rata-rata mencapai 5 persen per tahun, namun belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Menurut Prabowo, secara teori pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen selama tujuh tahun seharusnya mampu menghasilkan peningkatan kesejahteraan yang signifikan.

"Selama tujuh tahun belakangan ini dikatakan bahwa ekonomi kita tumbuh 5 persen tiap tahun. Tujuh tahun kali lima, berarti 35 persen pertumbuhannya. Logikanya selama tujuh tahun Indonesia tambah kaya 35 persen," kata Prabowo saat penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama 2026 di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dikutip dari Antara.

 

Data Dinilai Berbanding Terbalik dengan Realita

Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri penutupan Munas-Konbes NU di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). (Dok. Tangkapan Layar YouTube @sekretariatpresiden)

Namun, Prabowo menilai realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang terjadi belum dinikmati secara merata oleh masyarakat.

"Kenyataan bahwa setelah tujuh tahun tumbuh 5 persen, masa penduduk miskin tambah. Negara tambah kaya, rakyat miskin tambah. Ini sesuatu yang aneh, yang anomali. Yang kelas menengah yang sudah tadinya lepas dari kemiskinan, turun," jelasnya.

Prabowo menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi lebih banyak dinikmati oleh kelompok tertentu.

Menurut dia, fenomena itu menunjukkan adanya persoalan dalam sistem ekonomi yang perlu segera dibenahi agar hasil pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.

"Kita lihat bahwa ini berarti sistem kita keliru. Sistem ini keliru karena apa, kalau orang miskin tambah, yang menengah juga berkurang, berarti yang menikmati pertumbuhan ini hanya segelintir orang," kata Prabowo.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya