Bubuk `Tipuan` Hingga Pegangan Pintu, Ini Cara Asing Sadap KBRI

KBRI pernah dikirimi surat berisi bubuk mencurigakan. Diduga kuat itu pengalih. Agar bisa dipasangi alat sadap.

oleh Aribowo Suprayogi diperbarui 22 Nov 2013, 13:59 WIB
Isu penyadapan yang dibeberkan mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional (NSA) Edward Snowden tak cuma bikin geger Brasil, Meksiko, atau Jerman -- yang telepon Kanselirnya Angela Merkel jadi target. Indonesia pun dibuat murka menyusul kabar intersepsi terhadap ponsel Presiden SBY, Wapres Boediono, sejumlah pejabat tinggi, bahkan Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Terkait isu yang membuat hubungan RI-Australia tegang itu, Kepala Lembaga Sandi Negara Mayjen TNI Djoko Setiadi mengingatkan semua pihak untuk sadar dan waspada terhadap penyadapan.

"Dalam beberap kasus banyak pejabat kita yang tidak aware dengan adanya penyadapan," kata dia di Kantor Lemsaneg, Jalan Harsono RM, Ragunan, Jakarta Selatan, Jumat (22/11/2013).

Tak hanya para pejabat, Djoko mengatakan, perwakilan RI di luar negeri pun jadi target penyadapan.  "Dari pengalaman Lemsaneg, kami temukan alat sadap yang direkatkan pada alat alarm kebakaran. Itu kita temukan tahun 2004," kata dia.

Djoko menambahkan, di KBRI yang tak disebut keberadaannya itu, juga pernah dikirimi surat berisi bubuk mencurigakan. Sontak, semua staf panik. "Lalu pihak keamanan negara tersebut meminta semua staf termasuk Dubes keluar untuk pengamanan. Nah, saat itu mereka masuk sekitar 2 jam untuk melakukan clearance. Logikanya pasti dipasang alat penyadap (oleh mereka)," tutur dia.

Sejumlah alat penyadap juga dipasang diam-diam di beberapa KBRI. "Ada yang dipasang di atap ruang rapat Pak Dubes. Sekering listrik juga dipasang alat penyadap," kata Djoko.

Dia menceritakan, awalnya pihaknya curiga ketika memperbandingkan berat sekering asli dengan yang ada di KBRI. "Kok sekeringnya lebih enteng, ternyata itu merupakan alat sadap. Ada lagi yang menarik, alat sadap juga dipasang di handel pintu," kata dia.

Sayangnya, tak bisa dilacak asal muasal alat-alat sadap di KBRI. "Siapa yang memasangnya, misalnya. Namun, kita berusaha menempatkan salah satu personel kita di instansi-instansi pemerintah, gunanya memberikan sosialisasi dan peringatan perihal rahasia negara," kata dia.

Jika KBRI Indonesia jadi sasaran sadap, Kedubes Australia di Jakarta justru diduga menyadap.

Dugaan penyadapan berasal dari dokumen yang dibocorkan oleh Edward Snowden yang diterbitkan oleh majalah Jerman, Der Spiegel. Artikel itu yang membahas secara rinci program intelijen sinyal bernama Stateroom. Di sana disebut, Kedubes AS, Inggris, Australia dan Kanada menyimpan perangkat penyadapan untuk mengumpulkan komunikasi elektronik.

Seperti dimuat BBC, negara-negara itu, bersama Selandia Baru, juga memiliki perjanjian berbagi intelijen yang dikenal dengan Five Eyes.

Kedubes Australia di Jakarta diklaim sebagai salah satu kedubes yang terlibat seperti dilaporkan media Fairfax Australia.

Selain itu kedubes Australia di Bangkok, Hanoi, Beijing dan Dili serta Komisi Tinggi di Kuala Lumpur serta Port Moresby, Papua Nugini, juga disebut terlibat. (Ein/Sss)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya