Wall Street Bervariasi Usai Pengumuman Data Inflasi AS

Wall street bervariasi setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Indeks Nasdaq melemah sendirian.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 14 Februari 2026, 08:11 WIB
Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi pada perdagangan Jumat, 13 Februari 2026.(Foto AP/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi pada perdagangan Jumat, 13 Februari 2026. Pergerakan wall street salah satunya didorong rilis laporan inflasi konsumen yang sedikit lebih rendah dari perkiraan. Di antara tiga indeks acuan di bursa saham AS, indeks Nasdaq melemah sendirian.

Mengutip CNBC, Sabtu (14/2/2026), indeks S&P 500 naik 0,05% dan ditutup ke posisi 6.836,17. Indeks Nasdaq turun 0,22% dan ditutup ke posisi 22.546,67. Indeks Dow Jones menguat 48,95 poin atau 0,10% dan ditutup ke posisi 49.500,93.

Selama sepekan, indeks S&P 500 melemah 1,4%. Indeks Dow Jones susut 1,2% dan Nasdaq terpangkas 2,1%.

Adapun Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan indeks harga konsumen yang mengukur biaya barang dan jasa dalam ekonomi AS naik 0,2% pada Januari mencerminkan kenaikan 2,4% secara tahunan.

Indikator inflasi akan menunjukkan kenaikan 0,3% secara bulanan dan kenaikan 2,5% dari tahun sebelumnya, menurut ekonom yang disurvei oleh Dow Jones. Jika tidak memperhitungkan fluktasi harga pangan dan energi, Consumer Price Index (CPI) inti sesuai harapan yakni 0,3% per bulan dan 2,5% per tahun.

“Ini seharusnya menjadi kabar baik bagi pasar dan calon Ketua the Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh,” ujar Osaic Chief Market Strategist, Phil Blancato.

“Ini hanya data satu bulan, tetapi jika tren berlanjut, hal itu akan membuka jalan bagi penurunan suku bunga dan terkendalinya inflasi,” ia menambahkan.

Sementara itu, Keith Buchanan dari Globalt Investments menuturkan, inflasi juga tidak terlepas dari kekhawatiran yang ada di kalangan investor kalau kecerdasan buatan akan menganggu potensi pendapatan di berbagai industri.

 

Kekhawatiran Gangguan AI

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Ia menuturkan, meski data CPI pada Jumat pekan ini tidak ada hubungannya dengan apa yang diantisipasi pasar terkait gangguan industri, pasar masih mencoba memahami apa arti sebenarnya dari AI dan implementasinya di seluruh perekonomian. Ia mencatat, hal itu menciptakan tekanan ke atas pada pengangguran dan tekanan ke bawah pada inflasi.

“Bagaimana kita bisa berpikir semua orang akan menang dan tidak akan ada yang kalah,” ujar dia.

Kekhawatiran akan gangguan AI mengguncang pasar pekan ini dan menyebar melampaui aksi jual yang terlihat di sektor perangkat  lunak dan meluas ke sektor properti, transportasi dan jasa keuangan.

Saham keuangan Charles Schwab dan Morgan Stanley masing-masing turun 10,8% dan 4,9% pekan ini. Sementara itu, saham Workday merosot 11%. Saham CBRE melemah 16% pada pekan ini.

 

Gerak Saham

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Kekhawatiran itu juga meluas ke industri media. Saham Netflix anjlok 6%. Saham Disney mendaki 3% pada pekan ini.

“Investor tidak menunjukkan belas kasihan untuk apapun yang dianggap sebagai pihak yang kalah akibat AI. Daftarnya terus bertambah setiap hari, mendorong perbedaan antara sektor ekonomi baru atau lama, dan saham AS,” ujar Analis Barclays Emmanuel Cau.

Ia mengatakan, di tengah pergerakan harga yang tidak menentu dan kekhawatiran gangguan AI yang berubah menjadi masalah makro lebih luas, latar belakang pertumbuhan, suku bunga dan laba.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya