Donald Trump Siapkan Anggaran Militer AS Rp 25.192 Triliun, Naik 50%

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dorong lonjakan anggaran pertahanan AS hingga USD 1,5 triliun pada 2027. Saham kontraktor militer melonjak, tetapi Trump ancam batasi gaji eksekutif dan pembelian kembali saham.

oleh Muhammad IsmailDiterbitkan 09 Januari 2026, 16:35 WIB
Donald Trump. Dok: AP Photo/John Raoux

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengguncang dunia bisnis dan pasar keuangan global dengan menyerukan peningkatan drastis anggaran pertahanan Amerika Serikat hingga mencapai USD 1,5 triliun atau sekitar Rp 25.192 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiahdi 16.795) pada 2027. Angka tersebut melonjak lebih dari 50 persen dibandingkan anggaran pertahanan tahun ini yang sebesar USD 901 miliar atau sekitar Rp 15.132 yang baru saja disetujui Kongres pada Desember lalu.

Dikutip dari BBC, Jumat (9/1/2026), Trump menegaskan, lonjakan belanja militer ini diperlukan untuk menghadapi apa yang ia sebut sebagai “masa-masa yang sangat sulit dan berbahaya” di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia.

Trump menyatakan, anggaran jumbo tersebut akan memungkinkan Amerika Serikat membangun apa yang ia gambarkan sebagai “Militer Impian”, sekaligus memastikan keamanan nasional tetap terjaga dari ancaman negara mana pun.

"Ini akan memungkinkan kita untuk membangun 'Militer Impian' yang telah lama menjadi hak kita dan, yang lebih penting, yang akan membuat kita AMAN dan TERJAGA, terlepas dari musuh mana pun," kata Trump di media sosial pada Rabu.

Menariknya, di tengah kekhawatiran para ekonom soal defisit anggaran AS yang kian melebar, Trump optimistis pendanaan belanja pertahanan raksasa ini bisa dipenuhi, salah satunya melalui pemasukan dari kebijakan tarif.

Pernyataan ini langsung menjadi perhatian pelaku pasar karena menyentuh langsung sektor industri pertahanan, yang selama ini menjadi tulang punggung belanja pemerintah AS.

Tak butuh waktu lama, reaksi pasar pun terlihat jelas. Saham-saham raksasa industri pertahanan antara lain Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan Raytheon melonjak lebih dari 5 persen dalam perdagangan setelah jam bursa di New York.

Kenaikan ini mencerminkan ekspektasi investor terhadap potensi lonjakan kontrak dan proyek militer dalam beberapa tahun ke depan, sekaligus membuka babak baru dinamika bisnis di sektor pertahanan Amerika.

Saham Kontraktor Pertahanan Melonjak

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Pengumuman Trump langsung berdampak positif pada pergerakan saham perusahaan pertahanan utama AS. Investor menilai peningkatan belanja militer akan membuka peluang pendapatan besar, terutama dari proyek pengadaan senjata, sistem pertahanan udara, hingga modernisasi armada militer.

Namun di sisi lain, Trump juga melontarkan peringatan keras kepada kontraktor pertahanan. Ia menyoroti praktik pembayaran dividen besar, pembelian kembali saham, serta paket gaji eksekutif yang dinilai terlalu tinggi.

Trump bahkan menegaskan, tidak ada eksekutif perusahaan pertahanan yang seharusnya menerima gaji lebih dari USD 5 juta atau sekitar Rp 83 miliar per tahun, sambil mendesak perusahaan untuk mengalihkan dana ke pembangunan pabrik dan percepatan produksi persenjataan.

"Tidak ada eksekutif yang boleh menerima gaji lebih dari 5 juta dolar AS, yang meskipun terdengar tinggi, hanyalah sebagian kecil dari gaji mereka saat ini,"tegas Trump.

Raytheon Jadi Sorotan Khusus

Ratheon

Dalam pernyataan terpisah, Trump secara khusus menyinggung Raytheon, yang disebutnya sebagai perusahaan paling lambat merespons kebutuhan pertahanan nasional. Ia memperingatkan, tanpa peningkatan investasi manufaktur, perusahaan tersebut berisiko kehilangan kontrak dengan Departemen Pertahanan AS.

"Raytheon harus meningkatkan investasi awal mereka, seperti pembangunan pabrik dan peralatan, atau mereka tidak akan lagi berbisnis dengan Departemen Perang," tulis Trump dalam unggahan terpisah.

Ketegangan Global Jadi Latar Belakang

Seruan peningkatan anggaran militer ini muncul di tengah memanasnya situasi geopolitik global, mulai dari ketegangan dengan Rusia, Venezuela, hingga China dan Taiwan.

Kondisi tersebut memperkuat alasan Trump untuk mendorong belanja pertahanan besar-besaran, yang sekaligus membawa dampak signifikan bagi arah bisnis industri militer Amerika Serikat ke depan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya