Liputan6.com, Managua - Gempa bumi dahsyat yang mengguncang ibu kota Nikaragua, Managua. Bencana ini menewaskan ribuan orang dan menghancurkan sebagian besar kota. Gempa berkekuatan magnitudo 6,5 berlangsung selama dua jam yang menimbulkan beberapa masalah di kota itu pada 23 Desember 1972.
Dampak dari gempa telah memicu kebakaran besar, memutus pasokan listrik, serta jaringan telepon dan telegraf. Kejadiannya dimulai pada pukul 12.40 waktu setempat.
Advertisement
Laporan awal memperkirakan 80 persen bangunan hancur dan rata dengan tanah, di mana menyisakan sedikit harapan bagi upaya penyelamatan untuk mencari korban selamat dari reruntuhan, dilansir dari BBC, Selasa (22/12/2025).
Operasi Penyelamatan
Di antara bangunan yang hancur, dua dari tiga rumah sakit utama juga menjadi puing-puing kecil. Bantuan yang datang di lokasi langsung bergerak cepat dan mengubur jenazah dengan membuat kuburan darurat yang mencegah penyebaran penyakit seperti tifus.
Laporan dari Kementerian Kesehatan Nikaragua, menyatakan setidaknya 18.000 orang tewas, baik dari tertimpa reruntuhan maupun kebakaran. Selain itu, sebanyak 40.000 orang lainnya terluka, dan 20.000 orang kehilangan tempat tinggal, seperti yang dikutip dari laman The New York Times.
Operasi pembersihan dilakukan setelah otoritas setempat mengeluarkan perintah evakuasi dengan penutupan area sekitar demi kelancaran kerja petugas dan melindungi warga sekitar yang berlalu lalang. Namun, kota itu masih dilanda gempa susulan, dan retakan di jalan membuat bantuan darurat mengalami kesulitan untuk mencapai lokasi.
Bantuan Korban Bencana
Kehancuran kota akibat gempa bumi yang terjadi susulan ini menjadi yang terbesar di urutan ketiga dalam sejarah Nikaragua.
Seorang manajer stasiun Communications Satellite Corporation di pinggiran Managua, menggambarkan pemandangan kota yang porak-poranda serta terlihat kekacauan dari ribuan pengungsi banyak yang melarikan diri dari kota tersebut.
Seorang warga yang berusaha pergi dari gempa tersebut menjelaskan kondisi di sekitarnya.
"Ratusan mayat yang termutilasi berserakan di sepanjang jalan, beberapa masih terbungkus spreim beberapa kehilangan kepala, tangan, atau kaki," ucapnya.
Para pejabat juga menekankan kebutuhan mendesak akan bantuan medis dan anestesi. Negara-negara tetangga, seperti Amerika Serikat, dan Meksiko berusaha membantu dengan mengirimkan bantuan, berupa makanan, dan obat-obatan ke lokasi.
Sementara itu, bantuan internasional mulai berdatangan, seperti pemerintah Honduras, El Savador, dan Guatemala yang mengirimkan bantuan logistik.