Gara-Gara Turis Asing, Kue Dorayaki Legendaris di Tokyo Jepang Terbuang Sia-Sia

Ulah turis-turis asing ini telah dikeluhkan sebuah toko legendaris di Tokyo, Jepang.

oleh Faqih Nur ImanDiterbitkan 01 Desember 2025, 06:00 WIB
Kobikicho Yoshiya, sebuah toko penganan manis yang terletak di salah satu jalan kecil di kawasan Ginza, Tokyo (dok. Tangkapan layar X/https://x.com/kobikicho_y/status/1988500946729791968?t=2mEY7tR-s7j8rY4KDSAU1Q&s=19/faqihnuriman)

Liputan6.com, Jakarta - Kobikicho Yoshiya bukanlah toko kue biasa. Terletak di salah satu jalan belakang di kawasan elit Ginza, Tokyo, Jepang, toko ini telah beroperasi selama 103 tahun dan terus menjaga kualitasnya hingga hari ini. 

Produk andalan mereka adalah dorayaki, namun bentuknya sangat berbeda dari yang biasa dikenal masyarakat umum. Jika dorayaki pada umumnya berbentuk bulat menyerupai dua tangkup pancake kecil dengan isian pasta kacang merah manis (anko) di tengahnya, versi Yoshiya berupa setengah lingkaran. 

Melansir Japan Today, Rabu, 19 November 2025, pendiri Yoshiya menciptakan bentuk lipatan tersebut agar para aktor Kabuki, seni teater tradisional Jepang, dapat menyantap camilan tersebut dengan mudah tanpa harus membuka mulut terlalu lebar. 

Hal ini sangat krusial, mengingat mereka harus menjaga riasan wajah tebal agar tidak rusak saat makan di sela-sela pertunjukan. Meski alasan desain tersebut terdengar sangat "kuno," Yoshiya tetap bangga mempertahankan warisan tersebut. 

Toko ini memang dikenal sebagai tempat yang sangat memegang teguh cara-cara lama. Mereka berkomitmen untuk memproduksi dorayaki sepenuhnya dengan tangan dan tanpa menggunakan bahan pengawet sedikit pun.

Dedikasi terhadap keaslian dan kualitas inilah yang membuat Yoshiya bertahan lebih dari satu abad. Ironinya, popularitas mereka yang kini merambah ke kalangan wisatawan internasional justru membawa masalah yang mengancam efisiensi operasional toko tua tersebut.

Fenomena Reservasi Turis Asing yang Diabaikan

Kobikicho Yoshiya, sebuah toko penganan manis yang terletak di salah satu jalan kecil di kawasan Ginza, Tokyo (dok. Tangkapan layar X/https://x.com/kobikicho_y/status/1988738268217954511?t=on-7A3NKRWHntKka7jh1Ag&s=19/faqihnuriman)

Permasalahan ini mulai mencuat ke publik setelah toko tersebut menyuarakan keluhannya melalui media sosial, 11 November 2025.  Disebutkan bahwa banyak turis asing yang telah memesan kotak-kotak dorayaki tidak pernah muncul untuk mengambil pesanan mereka. 

Untuk mengakomodasi permintaan, toko ini memang memiliki sistem di mana pelanggan yang datang dapat memesan kotak dorayaki untuk diambil pada sore harinya. Selain itu, reservasi juga dapat dilakukan melalui telepon atau aplikasi pesan singkat Line.

Sayangnya, kemudahan sistem reservasi ini justru disalahgunakan. Pihak toko melaporkan bahwa kejadian turis asing memesan kue namun tidak datang mengambilnya telah menjadi kejadian yang terjadi hampir setiap hari. 

Bahkan, dalam satu hari yang sama, insiden semacam ini bisa terjadi dua hingga tiga kali. Frekuensi kejadian yang semakin sering ini mengganggu ritme kerja toko yang masih mengandalkan sistem kepercayaan dan operasional manual.

Makanan Terbuang dan Pendapatan Hilang

Kobikicho Yoshiya, sebuah toko penganan manis yang terletak di salah satu jalan kecil di kawasan Ginza, Tokyo (dok. Tangkapan layar X/https://x.com/kobikicho_y/status/1988104804397445414?t=arHM9vDO7dOC3fASCyyJQQ&s=19/faqihnuriman)

Dampak dari perilaku pembeli yang tidak bertanggung jawab ini sangat signifikan bagi operasional Kobikicho Yoshiya. Masalah utamanya berakar pada resep tradisional yang mereka pertahankan.

Pihak toko sangat merekomendasikan agar kue tersebut dikonsumsi tidak lebih dari satu hari setelah pembuatan untuk menjamin kualitas rasa dan kesegarannya. Standar kualitas yang tinggi ini berarti Yoshiya tidak akan pernah menjual sisa stok hari ini pada pelanggan di keesokan harinya.

Kerugian yang dialami toko bersifat ganda. Pertama, bahan-bahan berkualitas yang digunakan untuk membuat kue tersebut terbuang sia-sia menjadi limbah. Kedua, dari sisi finansial, toko mengalami kerugian pendapatan langsung.

Yoshiya menerapkan sistem kepercayaan di mana pelanggan diperbolehkan membayar pesanan mereka saat pengambilan barang.

Respons Bijak Toko dan Harapan untuk Pembeli

Kobikicho Yoshiya, sebuah toko penganan manis yang terletak di salah satu jalan kecil di kawasan Ginza, Tokyo (dok. Tangkapan layar X/https://x.com/kobikicho_y/status/1990904504083226898?t=rNV3p1glzx9chMKDLVYGew&s=19/faqihnuriman)

Meskipun mengalami kerugian yang berulang, respons Kobikicho Yoshiya terhadap masalah ini patut diacungi jempol karena tidak didasari amarah. Tujuan utama mereka mempublikasikan masalah ini di media sosial adalah meningkatkan kesadaran  mengenai dampak perilaku tersebut terhadap kelangsungan toko kecil mereka. 

Pemilik toko menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak berniat membuat kebijakan larangan reservasi bagi pelanggan asing. Mereka juga menunjukkan empati dengan menduga bahwa sebagian kasus "no-show" mungkin disebabkan kesalahpahaman turis asing terhadap sistem reservasi.

Pernah terjadi kasus di mana pelanggan yang memesan, namun tidak datang di sore hari, justru kembali ke toko pada keesokan harinya untuk menanyakan apakah pesanan mereka masih ada. "Tidak semua pelanggan asing yang memesan dorayaki gagal mengambilnya," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya