Purbaya Sindir Vendor Korea di Proyek Coretax hingga Senggol K-Pop: Mungkin Kita Silau

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti lemahnya hasil pekerjaan konsorsium LG CNS–Qualysoft dalam proyek sistem pajak nasional Coretax.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 24 Oktober 2025, 18:30 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan kinerja Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per September 2025 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (14/10/2025). (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti lemahnya hasil pekerjaan konsorsium LG CNS–Qualysoft dalam proyek sistem pajak nasional Coretax

“Mungkin waktu kontrak, tender dengan orang LG, mungkin kita silau dengan Korea, kayak gini, K-pop, jadi hire lah mungkin, saya nggak tau tendernya seperti apa. Tapi yang jelas pada waktu delivery-nya, mungkin dugaan saya sih nggak dicek dengan baik, sehingga sebelum dipakai, itu belum dicoba dulu, harusnya sebelum dipakai, dirilis kebetulan, dicoba,” ujar Purbaya dalam Media Briefing di Kementerian Keuangan, Jumat (24/10/2025).

Menurutnya, kualitas hasil pengembangan sistem oleh pihak asing tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi. Bahkan, setelah tim Kementerian Keuangan memeriksa kode sumber (source code) dari sistem yang diserahkan, ditemukan bahwa kualitasnya jauh dari standar profesional.

“Begitu mereka dapat source code-nya, dilihat sama orang saya, dia bilang, wah, ini programmer tingkat baru lulusan SMA, jadi yang dikasih ke kita bukan orang jago-jagonya kelihatannya,” kata Purbaya.

Menkeu menilai, kelemahan itu menunjukkan bahwa kontrak kerja sama dengan pihak asing perlu dievaluasi secara menyeluruh. 

Ke depan, ia menegaskan Indonesia tidak boleh bergantung pada pengembang luar negeri, apalagi jika kualitasnya tidak sepadan dengan nilai proyek.

“Adanya ketergantungan pada pihak asing, nanti ke depan akan kita putus, apalagi kualitas jelek seperti itu,” tegasnya.

Purbaya menambahkan, sebagian sistem Coretax yang masih dikendalikan LG CNS akan diserahkan ke pemerintah pada Desember 2025. Setelah itu, seluruh pengelolaan akan diambil alih oleh tenaga ahli dalam negeri yang kini telah diperkuat oleh tim IT dan hacker lokal berpengalaman.

Temuan Purbaya, Programmer Coretax dari Perusahaan Asing Hanya Selevel SMA

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (17/10/2025). (Liputan6.com/Arief)

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap temuan mengejutkan di balik proyek sistem pajak nasional Coretax yang dikerjakan konsorsium LG CNS–Qualysoft.

Purbaya menyebut ketika source code Coretax dilihat oleh pihaknya, hanya setara pekerjaan tingkat lulusan SMA.

“Begitu mereka dapat source code-nya, dilihat sama orang saya, dia bilang, wah, ini programmer tingkat baru lulusan SMA, jadi yang dikasih ke kita bukan orang jago-jagonya kelihatannya,” ujar Purbaya dalam media briefing di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (24/10/2025).

Menkeu menuturkan, meski sistem tersebut telah dikembangkan selama empat tahun, banyak bagian masih harus diperbaiki oleh tim internal Kemenkeu. Sejumlah lapisan Coretax mulai dari sisi pengguna hingga pemrograman kini tengah direstrukturisasi agar lebih efisien dan aman.

“Yang bisa di tangan kita sudah kita perbaiki semaksimal mungkin. Kelihatannya sudah semakin cepat sekarang Coretax-nya, walaupun masih ada kesalahan sedikit di sana-sini. Jadi kasuistik sekali kesalahannya, bukan general, kata teman-teman saya sih yang di Coretax,” ujarnya.

Purbaya juga menegaskan, perbaikan sistem ini dilakukan tanpa penambahan anggaran baru.

“Nggak ada penambahan biaya, paling nambah biaya bayar gaji staff. Itu kan saya jadikan tenaga ahli di saya, ahli IT-nya itu. Itu gaji biaya saya memang, ada pos pengeluarannya yang biasa, yang nggak ada istimewa,” katanya.

Libatkan Hacker

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Sejalan dengan perbaikan teknis, Kemenkeu juga memperkuat sistem keamanan siber dengan melibatkan para hacker lokal berkemampuan tinggi.

Menurut Purbaya, para peretas tersebut direkrut untuk menguji dan menambal celah keamanan sistem agar infrastruktur keuangan negara benar-benar tahan dari serangan digital.

“Sekarang hampir pasti udah gak bisa lagi, dan kita juga udah panggil hacker kita, yang jago-jago orang Indonesia ya, bukan orang asing, yang jago-jago. Anda jangan kira loh, orang Indonesia tuh hackernya jago-jago banget, di dunia juga ditakutin rupanya. Saya panggil yang ranking-ranking dunia itu, yang jagoan, kita bayar sih, bantuin saya, jadi sudah di test, sudah lumayan,” ujar Purbaya.

Ia menjelaskan, tim hacker yang direkrut terdiri atas delapan orang yang tergabung dalam komunitas berperingkat internasional. Mereka kini secara rutin menguji sistem milik Kementerian Keuangan untuk memastikan tidak ada celah keamanan tersisa.

“Mungkin 8 orang. Satu grup hacker terkenal. Itu ranking internasional. Ada rankingnya. Rupanya dia ranking 6 internasional di dunia. Jadi mereka biasa dipake nge-hack untuk tes Google dan lain-lain besar-besar,” kata Purbaya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya