Jurus Syailendra Capital Masuk 10 Manajer Investasi Terbesar di Indonesia

PT Syailendra Capital kini masuk 10 perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia. Berikut strategi yang dilakukan perseroan untuk masuk 10 besar dan rencana ke depan.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 06 September 2025, 13:00 WIB
Direktur Syailendra Capital, Gunanta Afrima usai wawancara khusus dengan Liputan6.com di kantornya di kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (28/8/2025). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan manajer investasi terus berkembang di Indonesia. Di tengah persaingan ketat, perusahaan manajer investasi mengeluarkan jurus untuk menambah dana kelolaan dan menarik investor ritel dan institusi.

Demikian juga yang dilakukan PT Syailendra Capital. Berdiri sejak 2006, perusahaan manajer investasi tersebut kini mencatat dana kelolaan Rp 32 triliun.  PT Syailendra Capital pun masuk dalam 10 perusahaan manajer investasi dengan dana kelolaan terbesar di Indonesia.

Selain membidik investor insitusi, Syailendra Capital juga meningkatkan investor ritel yang diharapkan ke depan akan mendukung Perseroan. Seiring hal itu, bagaimana Syailendra Capital masuk 10 perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia? Bagaimana dengan target dana kelolaan hingga akhir 2025? Serta produk apa saja yang akan diluncurkan ke depan?

Berikut wawancara Liputan6.com dengan Direktur Syailendra Capital Gunanta Afrima, ditulis Sabtu (6/9/2025):

Bagaimana strategi Syailendra Capital masuk 10 perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia?

Syailendra merupakan local house, kemudian kita juga kita tidak terafiliasi dengan grup manapun, stand alone. Tidak punya sister company, tidak ada grup besar yang support kita di belakang.

Kita 100% lokal. Kita mengerti market lokal. Kita tidak punya afiliasi apapun dan support grup manapun. Kita kerja keras. Mungkin dua hal itu terutama. Memberikan service, part of kerja keras itu.

 

Kita tahu market lokal, tahu needs investor. Tak sekadar menawarkan produk juga menawarkan solusi. Tidak hanya membuat dan menawarkan produk investasi seperti reksa dana, namun kami juga dapat berfungsi sebagai advisor/penasihat investasi.

Bagaimana dana kelolaan hingga Juli 2025?

Direktur Syailendra Capital, Gunanta Afrima usai wawancara khusus dengan Liputan6.com di kantornya di kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (28/8/2025). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Total dana kelolaan (AUM) per 31 Juli mencapai Rp 32 triliun, naik lebih dari 400% dari AUM tahun 2016 Rp 7 triliun. Kami dapat tumbuh konsisten dari tahun ke tahun berkat kepercayaan para klien melalui penempatannya pada produk investasi yang kami kelola hingga bisa menjadi salah satu perusahaan manajer investasi dengan dana kelolaan terbesar di Indonesia.

Tantangan di industri cukup besar, oleh karenanya kami terus berupaya untuk memberikan produk dan layanan sebaik mungkin, yang tak hanya inovatif, namun juga efisien.

Kita bisa tumbuh, dan tantangan ke depan selalu ada. Lebih efisien, lebih produktif lagi, tidak boleh lengah dengan kondisi sekarang. Karena persaingan kalau di lihat di industri  terutama 10 besar papan menengah bawah cepat sekali bergeraknya. Orang-orang sangat agresif. Keras persaingan di situ.

Bagaimana dengan target dana kelolaan hingga akhir 2025?

Target dana kelolaan tahun ini sekitar Rp 35 triliun. Masih ada waktu empat bulan kejar ke sana.

Ada peluncuran produk baru?

Kami melihat adanya potensi di beberapa area, seperti ETF Emas dan Offshore Fund, namun saat ini kami masih dalam tahap riset mendalam untuk memastikan produk yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan investor.

Siapa target investor untuk produk reksa dana offshore fund itu?

Target investor lokal. Market kita hampir 100% lokal. Kami percaya market lokal potensi masih besar. Kenapa cari market, kalau market di sini potensinya masih besar.

Dana kelolaan terbesar masih ditopang dari produk reksa dana apa saja?

Direktur Syailendra Capital, Gunanta Afrima saat wawancara khusus dengan Liputan6.com di kantornya di kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (28/8/2025). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

 

Saat ini mayoritas di produk reksa dana pendapatan tetap (fixed income fund), sejalan dengan preferensi investor terhadap instrumen yang lebih stabil di tengah kondisi pasar. Namun, kami juga terus melihat minat yang meningkat terhadap produk reksa dana saham (equity fund), terutama dari investor dengan profil risiko agresif yang mencari potensi imbal hasil jangka panjang.

Mengapa reksa dana campuran belum menarik perhatian?

Literasi. Karena imbal hasil reksa dana campuran di tengah-tengah di antara equity dan di bawah fixed income. Mereka tidak mau. Kalau mau konservatif masuk ke fixed income, kalau mau agresif ke saham. Padahal sebetulnya kalau mau produk beradaptasi di semua situasi pasar balance/campuran.

Bagaimana komposisi investor ritel dan institusi?

Komposisi investor kami saat ini didominasi oleh institusi, dengan porsi sekitar 82%. Di sisi lain, kami melihat pertumbuhan yang cukup pesat pada segmen ritel yang kini telah mencapai hampir 20% dari total investor. Kami percaya pertumbuhan pasar ke depan akan banyak didorong oleh peningkatan partisipasi investor ritel.

 

Kapan mulai menyasar ritel?

Aplikasi YO! Inves saat ini telah diunduh sekitar 22 ribu. Sejak awal, aplikasi ini tidak dibangun sebagai profit center, tetapi sebagai bagian dari strategi jangka panjang kami untuk memperluas akses dan meningkatkan literasi keuangan melalui fitur-fitur informatif.

Untuk meningkatkan customer experience, kami juga aktif melakukan pengembangan, salah satunya dengan menghadirkan reward program, dimana setiap transaksi investasi yang dilakukan akan mendapatkan poin reward yang bisa ditukar dengan voucher belanja dari lebih dari 190 merchant favorit, tanpa mengurangi nilai investasi.

 

Bagaimana perkembangan aplikasi Yo Invest?

Direktur Syailendra Capital, Gunanta Afrima saat wawancara khusus dengan Liputan6.com di kantornya di kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (28/8/2025). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Bagus meningkatkan jumlah account. 10 ribu. Sebelum Yo Invest, hanya ratusan. Sangat membantu. Harus diakui secara jumlah investasi dana kelolaan masih kecil dari situ.

Bangun aplikasi bukan untuk menjadi profit center. Bangun subsitusi complement dalam jangka panjang bisa membuahkan hasil. Tidak hanya jualan, tetapi konsisten kasih edukasi market. Konsisten edukasi.

Aplikasi ini jadi backbone?

Saat ini kami posisikan aplikasi ini lebih ke sebagai complementary channel yang memperluas akses investor, khususnya segmen ritel, ke produk-produk reksa dana unggulan Syailendra. Jadi melalui aplikasi ini, kami tidak hanya menawarkan kemudahan berinvestasi, tapi juga menjalankan misi edukasi dan kontribusi sosial.

Bisa jelaskan mengenai investor secara direct dan indirect?

Kami memasarkan produk reksa dana melalui 2 channel. 1) direct, kami melayani langsung nasabah melalui tim marketing kami dan aplikasi YO! Inves, 2) indirect, kami bekerja sama dengan berbagai mitra distribusi seperti bank, sekuritas, juga fintech sebagai agen penjual reksa dana.

Saat ini, kami telah bekerja sama dengan 32 mitra distribusi. Ke depan, kami akan terus memperluas jangkauan, namun dengan pendekatan yang selektif.

Bagaimana dengan keamanan IT?

Keamanan IT merupakan prioritas utama bagi kami, sertifikasi ISO 27001 yang kami dapatkan dalam 2–3 tahun terakhir ini merupakan bukti penerapan standar dalam pengelolaan keamanan informasi.

Untuk mendukung keberlanjutan operasional, kami juga memiliki strategi backup dan sistem Disaster Recovery Center (DRC) yang berlokasi di luar pusat operasional utama, sebagai antisipasi terhadap gangguan sistem atau bencana. Dana nasabah juga tidak disimpan di kami, melainkan di Bank Kustodian.

Fokus kami adalah menjaga kerahasiaan data nasabah dan keamanan transaksi yang dilakukan. Dengan kombinasi regulasi ketat, sertifikasi ISO, dan infrastruktur DRC, kami berkomitmen menjaga kepercayaan nasabah dengan sistem keamanan yang andal dan teruji.

 

 

Bagaimana dengan strategi investasi yang diterapkan Syailendra Capital?

Direktur Syailendra Capital, Gunanta Afrima saat wawancara khusus dengan Liputan6.com di kantornya di kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (28/8/2025). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

 

Strategi investasi kami berfokus pada diversifikasi yang tepat guna (bukan over-diversification), pasalnya diversifikasi penting untuk mengelola risiko, namun harus tetap disertai dengan keyakinan kuat terhadap setiap aset / instrumen yang dipilih yang tentunya telah melalui proses analisis mendalam.

Seberapa optimistis untuk industri reksa dana?

Strategi investasi kami berfokus pada diversifikasi yang tepat guna (bukan over-diversification), pasalnya diversifikasi penting untuk mengelola risiko, namun harus tetap disertai dengan keyakinan kuat terhadap setiap aset / instrumen yang dipilih yang tentunya telah melalui proses analisis mendalam.

Kami cukup optimis terhadap prospek industri reksa dana di Indonesia, pasalnya produk ini cukup relevan bagi banyak kalangan, hanya saja masih membutuhkan sosialisasi dan edukasi yang lebih luas mengenai Produk reksa dana ini yang memiliki keunggulan diantaranya:

Aman & transparan: syailendra selaku perusahaan manajer investasi telah terdaftar dan diawasi OJK. Informasi terkait kinerja dan strategi investasi dipublikasikan secara berkala

Potensi imbal hasil menarik: secara historis, reksa dana syailendra memberikan keuntungan diatas inflasi dan indeks acuannya dalam jangka panjang

Tingkat risiko yang terukur: efek diversifikasi mampu mengurangi risiko investasi, karena dana investasi akan ditempatkan pada berbagai instrumen di pasar modal

Modal Investasi terjangkau: mulai dari Rp 10ribu sudah dapat berinvesatsi di pasar modal

Likuiditas terjaga: investor dapat mencairkan dana investasinya di setiap hari bursa tanpa dikenakan penalti

Bukan Objek Pajak: reksa dana adalah salah satu produk investasi yang hasil keuntungannya tidak dikenakan pajak

Usul pemerintah dan regulator?

Diperlukan adanya upaya bersama / kolaborasi yang konsisten dilakukan seperti dalam hal literasi. literasi ini harus dimulai dari hal-hal sederhana: mulai dari diri sendiri, lingkungan terdekat, lalu meluas ke komunitas yang lebih besar.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya