Sejarah Nilai Rupiah, dari Jaminan Emas hingga Redenominasi

Pada tahun 1952, Bank Sentral Republik Indonesia yang semula bernama Bank Negara Indonesia (BNI 46) secara resmi berganti nama menjadi Bank Indonesia (BI). Sejak saat itu, nilai rupiah mulai menunjukkan tren pelemahan.

oleh Switzy SabandarDiperbarui 27 Mei 2025, 13:38 WIB
Ilustrasi Rupiah kertas Indonesia. (Sumber foto: Pexels.com).

Liputan6.com, Yogyakarta - Sejarah nilai rupiah mencerminkan dinamika ekonomi Indonesia, dari masa kejayaannya yang dijamin emas hingga pelemahan drastis akibat inflasi dan krisis. Mulai dari Oeang Republik Indonesia (ORI) pada 1946, hiperinflasi era 1960-an, hingga redenominasi yang diwacanakan pada 2013, perjalanan mata uang ini tidak lepas dari gejolak politik dan moneter yang membentuknya

Mengutip dari berbagai sumber sejarah, pada tahun 1946, Oeang Republik Indonesia (ORI) secara resmi ditetapkan sebagai mata uang pertama Republik Indonesia, menggantikan uang pendudukan Jepang dan Belanda. Akan tetapi, peredarannya terkendala akibat blokade ekonomi yang dilakukan Belanda.

Pecahan tertinggi saat itu bernilai 100 rupiah, meskipun desain uang 1.000 rupiah telah disiapkan namun tidak dicetak karena dianggap nominalnya terlalu besar. Belanda kemudian memaksa Indonesia untuk menghentikan penggunaan ORI dan beralih ke mata uang Gulden.

Pada tahun 1952, Bank Sentral Republik Indonesia yang semula bernama Bank Negara Indonesia (BNI 46) secara resmi berganti nama menjadi Bank Indonesia (BI). Sejak saat itu, nilai rupiah mulai menunjukkan tren pelemahan.

Periode 1950-1965 mencatat hiperinflasi yang secara drastis menggerus nilai mata uang. Tahun 1957 menjadi titik penting ketika uang 1.000 rupiah yang sebelumnya bernilai tinggi akhirnya mengalami penyusutan daya beli. Kondisi ini memaksa pemerintah menerbitkan pecahan baru sebesar 2.400 rupiah.

Situasi moneter semakin memburuk ketika pada tahun 1964 pemerintah memperkenalkan pecahan 10.000 rupiah untuk pertama kalinya. Puncak krisis terjadi pada periode 1965-1966 ketika tingkat inflasi mencapai lebih dari 600% per tahun.

 

Orde Baru

Memasuki era Orde Baru, kebijakan moneter mengalami perubahan. Pemerintah meluncurkan pecahan uang kertas baru bernilai 50.000 rupiah yang menampilkan gambar Presiden Soeharto. Akan tetapi, stabilitas moneter ini tidak bertahan lama.

Krisis moneter Asia tahun 1998 berdampak besar pada perekonomian Indonesia, menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merosot hingga 80%, dari Rp2.300 per dolar AS pada tahun 1997 menjadi Rp16.000 per dolar AS pada Juni 1998. Dampak krisis ini begitu signifikan sehingga pada tahun 1999, pemerintah menerbitkan pecahan 100.000 rupiah yang hingga kini tetap menjadi nominal tertinggi dalam sejarah mata uang Indonesia.

Pada tahun 2013, Bank Indonesia (BI) mengajukan wacana redenominasi dengan rencana menghilangkan tiga angka nol pada nominal mata uang (misalnya Rp1.000 menjadi Rp1). Akan tetapi, rencana ini akhirnya ditunda karena berbagai pertimbangan, termasuk kekhawatiran akan kebingungan di kalangan masyarakat.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya