Akhir Pelarian Misterius Mahasiswa Kedokteran Undip

Sang ayah sempat menduga anaknya yang merupakan mahasiswa kedokteran Undip itu ikut sebuah kelompok radikal.

oleh Edhie Prayitno Ige diperbarui 23 Jun 2017, 09:30 WIB
Wakapolrestabes Semarang AKBP Setijo Nugroho memberi penjelasan menghilangnya DIo, mahasiswa Kedokteran Undip didampingi ayah Dio dan dosen FK Undip. (foto : Liputan6.com / Edhie Prayitno Ige)

Liputan6.com, Semarang - Seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dilaporkan [hilang secara misterius]( "") ke Polrestabes Semarang. Sebelum dilaporkan, kabar menghilangnya mahasiswa secara misterius itu sempat menjadi percakapan hangat di sejumlah grup media sosial.

Muhammad Dhiulhaq alias Dio (18) dilaporkan menghilang secara misterius oleh orangtuanya. Keberadaan Dio tak terlacak sejak Senin, 19 Juni 2017.

Keluarga semakin panik ketika sebuah mobil jenis Toyota Calya silver bernopol H 8710 DQ yang dibawa Dio ditemukan sehari berikutnya di pinggir Jalan Arteri Yos Sudarso, Semarang.

Alexander Alif Nurman, sang ayah, akhirnya melapor ke SPK Polrestabes Semarang. Ia menduga Dio menjadi korban bujuk rayu sebuah kelompok radikal garis keras.

Mendapat laporan ini, Tim Satuan Reserse Mobile (Satresmob) Polrestabes Semarang langsung bergerak cepat. Dengan petunjuk yang ada, tim pencari itu sukses menemukan Dio di sebuah hotel di Yogyakarta.

"Alhamdulillah 21 Juni 2017 kemarin yang bersangkutan diamankan Resmob di salah satu hotel di Yogyakarta dalam keadaan sehat," kata Wakapolrestabes Semarang, AKBP Setijo Nugroho, Kamis, 22 Juni 2017.

Setijo kemudian menjelaskan latar belakang menghilangnya Dio. Ia menyatakan kabar Dio menjadi korban perekrutan kelompok militan garis keras adalah tidak benar. Ia sengaja kabur dari rumah karena masalah keluarga, terutama terkait komunikasi dengan ayahnya.

"Persoalan komunikasi keluarga yang harus lebih intens lagi," kata Setijo.

Alexander Alif Nurman mengaku jika ia memang terlalu keras dalam mendidik anaknya. Alex menyebutkan hal itu dilatarbelakangi agar anaknya tak terpengaruh paham radikal garis keras.

"Saya sangat sayang kepada anak saya. Saya tidak ingin anak saya gagal dan terpengaruh paham  radikal. Tapi saya terlalu keras mendidik. Tumpukan emosi di anak saya akhirnya menyebabkan ia ingin mencari ketenangan tanpa izin," kata Alex.

Kini mahasiswa Undip itu sudah kembali ke orangtuanya, sedangkan Alex mengakui kesalahannya dan berjanji akan lebih memperhatikan putranya.

"Terima kasih kepada Kaporlestabes Semarang. Hikmah peristiwa ini, saya berpesan untuk para orangtua, hargailah anak-anak kita," kata Alex.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya