Terungkap, Eks Penasihat Keamanan Nasional Trump 'Agen Asing'

Flynn melalui perusahaannya Flynn Intel Group Inc melobi sebuah korporasi yang terkait dengan pemerintahan Turki.

oleh Khairisa Ferida diperbarui 10 Mar 2017, 17:01 WIB
Presiden Donald Trump ketika menyambangi markas besar CIA (Associated Press)

Liputan6.com, Washington, DC - Donald Trump tidak menyadari bahwa mantan penasihat keamanan nasionalnya Michael Flynn bekerja sebagai "agen asing" ketika ia menugaskannya menduduki posisi tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Pers Gedung Putih Sean Spicer.

"Saya tidak percaya bahwa dia (Trump) mengetahuinya," ujar Spicer seperti dikutip dari The Guardian, Jumat, (10/3/2017).

Flynn mengundurkan diri pada Februari lalu setelah empat minggu mengecap kursi penasihat keamanan nasional. Langkah ini dipicu terungkapnya fakta bahwa ia telah berbohong kepada Wakil Presiden Mike Pence tentang komunikasinya dengan Duta Besar Rusia Sergey Kislyak pada Desember 2016.

Data intelijen menyebut bahwa Flynn secara diam-diam telah membahas sanksi dengan Dubes Kislyak. Ia disebut berusaha menutupi percakapan terkait hal itu.

Pada hari Rabu kemarin terungkap, sejak September hingga November tahun lalu, ketika Flynn masih bekerja sebagai penasihat utama kampanye Trump, ia melobi untuk sebuah perusahaan yang terkait dengan pemerintahan Turki. Atas kerjanya itu Flynn mendapat bayaran US$ 530.000 atau setara dengan Rp 7 miliar.

Dua hari lalu diketahui Flynn dan perusahaannya Flynn Intel Group Inc mengajukan dokumen retroaktif ke Departemen Kehakiman untuk mendaftar sebagai agen asing.

Di bawah UU Registrasi Agen Asing, warga AS yang melobi atas nama pemerintah atau entitas politik asing harus mengungkapkan pekerjaan mereka ke Departemen Kehakiman. Jika tidak didaftarkan maka ini tergolong kejahatan besar, meski Departemen Kehakiman jarang mengajukan tuntutan pidana terkait kasus ini.

Sebagai bagian dari lobi Flynn untuk Inovo, sebuah perusahaan Belanda yang terkait dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Flynn menuliskan sebuah artikel yang menyerukan pemerintah AS mengekstradisi Fethullah Gulen, ulama Turki yang dituduh mendalangi kudeta pada tahun 2016.

Setelah Flynn bergabung dengan pemerintahan Trump, sama seperti pejabat lainnya, ia sepakat untuk tidak melakukan lobi selama lima tahun. Lobi terbaru Flynn--terkait Inovo--dinilai tidak melanggar aturan karena terjadi sebelum ia resmi masuk ke Gedung Putih.

Namun jika terjadi ingkar soal aturan tersebut maka Flynn tidak diperkenankan melakukan jenis pekerjaan yang sama lagi.

Oleh awak media pun, Spicer ditanya apakah Trump masih akan menyewa Flynn sebagai penasihat keamanan nasional jika ia tahu Flynn telah bekerja sebagai agen asing.

"Saya tidak tahu...itu sebuah hipotetis. Saya tidak tahu apa yang dibahas sebelum pengangkatan Flynn terkait dengan latar belakangnya, resumenya, basis kliennya. Dari apa yang saya baca, dia telah mengajukan formulir yang sesuai dengan Departemen Kehakiman," terang Spicer.

Spicer juga mengaku ia tidak tahu apakah Flynn melakukan diskusi tentang kebijakan luar negeri menyangkut Turki. "Saya tidak tahu apapun soal itu".

Pada Rabu kemarin, Spicer juga sempat membuat bingung wartawan menyusul ia tidak tahu persis jika Trump adalah subjek dari penyelidikan yang tengah dilakukan Departemen Kehakiman terkait kasus dugaan keterlibatan Rusia dalam pilpres AS.

"Saya tidak tahu pasti bahwa presiden menjadi target penyelidikan. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa dia adalah subjeknya," ujar Spicer.

Lantas, pada Kamis waktu setempat, awak media kembali menanyakan serupa, apakah pemerintah tahu bahwa Trump menjadi target penyelidikan Departemen Kehakiman?

Namun jawaban Spicer masih sama. "Saya tidak tahu".

Spicer yang digambarkan frustasi menghadapi pertanyaan awak media kembali disinggung soal isu penting, yaitu kunjungan politisi Inggris Nigel Farage ke Kedutaan Ekuador di London untuk menjenguk pendiri WikiLeaks, Julian Assange.

Farage dikenal sebagai pendukung Trump dan salah satu penggagas Brexit. Apakah dia mengunjungi Assenge atas perintah Trump?

"Itu konyol. Saya rasa tidak tepat ditanya soal pemimpin asing dan di mana mereka. Saya tidak tahu jadwal mereka," ungkapnya.

"Saya punya urusan sendiri untuk memantau apa yang dilakukan setiap orang. Secara umum, saya tidak khawatir tentang apa yang terjadi di luar sana," imbuhnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya