Sambut Pagi dan Kisah Sukses Petani Sayur di Tengah Kota

Kerasnya kehidupan kota menuntut sepasang suami istri harus berjuang keras dengan menanam sayur di sebuah lahan kosong di Kupang, NTT.

oleh Ola Keda diperbarui 20 Feb 2017, 06:01 WIB
Sepasang suami istri menyewa lahan kosong di Kota Kupang, NTT, untuk menanam sayur-sayuran. (Liputan6.com/Ola Keda)

Liputan6.com, Kupang - Tingginya kebutuhan hidup di kota dan tak memiliki lahan untuk berkebun, tak membuat pasangan suami istri (pasutri), Dominggus Leba (54) dan Regina Leba Bara (53), menyerah. Dengan sistem menyewa lahan kosong di Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pasangan ini memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam sayur-sayuran.

Meski hanya menyewa beberapa petak lahan, pasutri asal Kabupaten Sabu Raijua ini mampu menyekolahkan anak mereka hingga perguruan tinggi.

Kerasnya kehidupan kota menuntut keduanya harus berjuang keras. Lahan kosong berbatu disulap menjadi "surga kecil" yang menghijau. Bedeng-bedeng sayur dibangun berderet membentuk terasering.

"Lahan ini kami sewa dari tahun 1999 dan menjadi sumber kehidupan kami di Kota Kupang. Satu bulan kami harus bayar di pemilik lahan sebesar Rp 280 ribu," ucap Regina kepada Liputan6.com, Minggu pagi, 19 Februari 2017.

Menurut Regina, dahulu lahan yang disewanya itu dipenuhi rumput dan batu karang. Namun, dengan keuletan suaminya, tempat itu kini menjadi sawah kecil dan menjadi satu-satunya sumber penghasilan mereka.

Di samping lahan, terdapat sebuah sumur tua yang menjadi harapan Ibu Regina dan petani sayur lainnya untuk menyiram tanaman mereka.

"Setiap pagi dan sore kami pikul air dari sumur untuk siram tanaman. Hasil dari kebun sayur kami jual ke pasar dan hasilnya buat biaya pendidikan anak-anak," Regina menuturkan.

Sepasang suami istri menyewa lahan kosong di Kota Kupang, NTT, untuk menanam sayur-sayuran. (Liputan6.com/Ola Keda)

Dari hasil menyewa lahan itu, anak sulungnya saat ini sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. "Mereka kami biayai dari hasil kebun kecil ini. Yang sulung sudah habis kuliah dan sudah kerja di puskesmas. Satu masih kuliah dan bungsu masih SMA," Dominggus menambahkan.

Di balik kesuksesan menyekolahkan anak, ada segudang perjuangan yang melelahkan tak pernah ditunjukkan. Dominggus selalu tersenyum walau terbakar teriknya matahari. Di hadapan anak-anaknya, ia selalu ceria walau sebenarnya menyimpan sejuta lelah. Kerutan di wajahnya menggambarkan perjuangan yang tak mudah.

Di balik kepenatannya, ia berharap pemerintah sudi membantu peralatan pertanian guna meringankan bebannya, sehingga dapat meningkatkan hasil pertanian yang bermuara pada peningkatan ekonomi.

"Kalau bisa pemerintah bantu alat semprot, bibit, obat hama dan pupuk. Soalnya harga pupuk saja mahal, belum lagi obat hama," ucap Dominggus.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya