Perjalanan Karier CEO Yahoo Marissa Mayer yang Penuh Liku

Bermula di Google, Marissa Mayer kemudian ditawari posisi CEO sekaligus presiden di Yahoo, 4 tahun setelahnya, ia pun mengundurkan diri.

oleh Agustin Setyo Wardani diperbarui 10 Jan 2017, 12:00 WIB
CEO Yahoo Marissa Mayer adalah salah satu perempuan terkenal di industri teknologi (foto: mercurynews.com)

Liputan6.com, Jakarta CEO sekaligus anggota dewan direksi Yahoo Marissa Mayer mengundurkan diri dari jajaran dewan direksi Yahoo pada Senin, 9 Januari 2017. Pengumuman tersebut dianggap cukup mengejutkan, sebab Mayer diketahui telah ditunjuk menjadi Presiden sekaligus CEO Yahoo sejak 2012.

Mengutip berbagai sumber, Mayer yang lulus dari Stanford University ini pernah menerima 14 tawaran kerja dari berbagai perusahaan, termasuk tawaran mengajar dari sebuah kampus dan perusahaan konsultan terkemuka.

Meski begitu, ia memutuskan untuk masuk ke perusahaan teknologi terkemuka, Google sebagai product engineer untuk mengembangkan iklan bertarget berdasarkan jejak pencarian pengguna.

Kariernya di Google berjalan cukup mulus, pada 2001 ia ditunjuk langsung oleh pendiri Google Larry Page untuk menjabat sebagai pemimpin divisi Product Management and User Interactions.

Setelah empat tahun, ibu tiga anak ini diangkat menjadi Vice President of Search Products & UX. 10 tahun bekarier di Google, tibalah waktu ia ditunjuk sebagai Presiden sekaligus CEO Yahoo pada 16 Juli 2012.

Perjalanan 4 tahun di sebuah perusahaan teknologi tentunya bukan waktu yang singkat. Apalagi, kinerja wanita cantik kelahiran 30 Mei 1975 ini begitu disoroti oleh berbagai pihak.

Pada awal kepemimpinannya di Yahoo, perempuan berusia 41 tahun ini berupaya mempermudah proses birokrasi dengan meluncurkan program online untuk karyawan bernama PB&J. Keluhan karyawan pun dikumpulkan oleh Mayer untuk diselidiki dan diselesaikan.

Kemudian, Februari 2013, Marissa Mayer turut mengawasi perubahan kebijakan personel utama di Yahoo. Saat hamil, Mayer pun tetap bekerja dari rumah.

April 2013, Mayer memperpanjang kebijakan cuti hamil bagi karyawan Yahoo serta memberi bonus tunjangan uang tunai kepada orangtua. Kebijakan ini selaras dengan perusahaan lain di Sillicon Valley, seperti Google dan Facebook.

Tak cukup di situ, Mei 2013, Mayer memimpin akuisisi Yahoo atas Tumblr dengan nilai US$ 1 miliar. Meski begitu, Februari 2016 diketahui bahwa nilai valuasi Tumblr turun menjadi US$ 230 juta setelah diakuisisi oleh Yahoo.

Mayer juga sempat dikritik berbagai pihak lantaran pada Juli 2013, pendapatan Yahoo dikabarkan mengalami penurunan. Meski begitu, keuntungan perusahaan tercatat naik dibandingkan periode yang sama pada 2012. September 2013, dilaporkan bahwa harga saham Yahoo meningkat dua kali lipat selama 14 bulan setelah penunjukkan Mayer.

Selanjutnya, pada November 2013, Mayer menerapkan penilaian kinerja berdasarkan peringkat lonceng karyawan. Artinya, jika kinerja karyawan di akhir tahun rendah, mereka akan diberhentikan. Kebijakan ini pun dikeluhkan oleh para bawahannya, bahkan digugat oleh seorang mantan karyawan Yahoo pada Februari 2016.

Atas segala sepak terjangnya memimpin sebuah perusahaan raksasa, pada 2014 Mayer menduduki peringkat keenam dari 40 Fortune under 40, yakni penghargaan pemimpin yang berusia di bawah 40 tahun.

Sepanjang 2015, saham Yahoo dilaporkan terus turun hingga lebih dari 30 persen dan 12 pejabat eksekutif meninggalkan perusahaan. Lantaran pendapatan dari bisnis inti Yahoo terus berkurang, Yahoo mempertimbangkan untuk menjual bisnis inti mereka kepada Verizon.

Dengan fluktuasi perusahaan yang tak terlalu baik, pada Maret 2016, Mayer sempat mendapat gelar sebagai salah satu pemimpin paling mengecewakan dari Fortune.

Kini, mengawali 2017, Marissa Mayer membuat keputusan mengejutkan, yakni mengundurkan diri dari jajaran dewan direksi. Namun, tak diketahui lebih lanjut apakah pemimpin cantik ini juga melepaskan jabatan CEO Yahoo yang telah diembannya sejak empat tahun lalu.

(Tin/Isk)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya