Korban Selamat Sebut Nakhoda KM Zahro Expres Abaikan Keselamatan

Saat kapal akan berangkat, tak ada pemberitahuan kepada penumpang untuk menggunakan standar keselamatan.

oleh Taufiqurrohman diperbarui 02 Jan 2017, 06:13 WIB
Petugas kepolisian bersama Tim SAR gabungan mengevakuasi kantong jenazah berisi penumpang kapal Zahro Express yang terbakar, di Pelabuhan Muara Angke, Minggu (1/1). Kapal penumpang tersebut terlihat dalam kondisi gosong. (REUTERS/Darren Whiteside)

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu korban selamat dalam peristiwa terbakarnya KM Zahro Express di Teluk Jakarta Kepualauan Seribu, Muhidin (60) mengatakan, tak ada pengecekan teknis sebelum keberangkatan kapal.

"Tidak ada dicek apa-apa. Begitu bayar tiket Rp 50 ribu per orang penumpang langsung naik ke kapal," kata Muhidin di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Minggu, 1 Januari 2016.

Dia melanjutkan, ia dan satu orang anaknya di ruangan atas. Sementara empat orang anggota keluarga lainnya di ruangan bawah. Saat kapal akan berangkat, tak ada pemberitahuan kepada penumpang untuk menggunakan standar keselamatan.

"Saya dan penumpang lain tidak dapat perintah dari nakhoda maupun awak kapal lain untuk menggunakan pelampung. Ya langsung aja tuh berangkat," ujar Muhidin.

Ia pun juga tidak mengetahui perihal asuransi yang diberikan kepada para penumpang dari uang tiket itu. "Wah asuransi saya tidak tahu. Begitu naik kapal ya sudah berangkat," ujar dia.

Muhidin mengaku khawatir atas keberadaan sang istri, sebab hingga saat ini ia belum mengetahui keberadaan istrinya. Selain itu ia pun juga kehilangan sejumlah barang berharga.

"Ada uang tunai Rp 5 juta buat nginap itu. Sama kunci mobil dan sejumlah surat berharga. Tapi yang paling penting itu istri saya," tutup Muhidin.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya